Ini kata Kabid Promosi Disbudpar Sulsel Soal Ukiran Toraja Di Karpet Hotel

Istimewa

KabarMakassar.com — Kabid Promosi Disbudpar Sulsel Julianus Batara turut berkomentar terkait polemik kasus ukiran Toraja yang terdapat di karpet salah satu hotel di Makassar. Menurutnya dalam seni klasik menjadi hal biasa jika ada simbol-simbol yang diskralkan.

“Dalam seni klasik menjadi hal biasa jika ada simbol-simbol yang disakralkan. Karena masa itu (lampau/masa era simbol) dan dianggap memiliki kekuatan gaib dan atau hanya orang/dan diklaim menjadi milik kelompok tertentu, seperti “passura”. tuturnya

Kabid Promosi Disbudpar Sulsel ini menambahkan pada dasarnya merupakan produk kebudayaan dengan nilai estetika dan menjadi inspirasi bagi karya-karya seni tetentu.

Baca juga :   PKS-Demokrat Mundur, DIAji Gagal Maju Pilwali

“Namun demikian pada dasarnya semua itu merupakan produk kebudayaan dengan nilai estetikanya dan jika sekarang menjadi “inspirasi” bagi karya-karya seni tertentu, tentu tidak masalah karena pada dasarnya merupakan kontribusi kekayaan budaya bagi suatu peradaban manusia,” lanjutnya

Julianus Batara melanjutkan bahwa yang harus menjadi perhatian adalah bagi para pejabat terkait supaya segera mendaftarkan kekayaan budayanya menjadi warisan dunia.

“Yang harus menjadi perhatian bagi para pemangku kepentingan adalah mengupayakan agar pengakuan internasional sebagai “warisan dunia” atau world heritage yang didalamnya mengandung nilai tak benda (ingat bukan pada fisiknya tapi pada filosifinya), seperti yang terjadi pada perahu pinisi yang telah mendapatkan sertifikat dari UNESCO sebagai warisan tak benda “world heritage” dalam aspek filosofinya, bukan pada sakralisasi atau disakralkan. Aspek tak benda (filosophy) mengandung makna kontribusi kebudayaan lokal yang memperkaya budaya dunia,” tutupnya.

Baca juga :   Perampasan Kamera Pewarta, Relawan Komite Ini Protes

Dikabarkan sebelumnya pelaku budaya dan masyarakat adat Toraja Belo Tarran mengkritik ukiran lokal Toraja yang dijadikan motif sebagai interior di lantai Hotel Four Point Makassar.

Hal ini disampaikan langsung oleh Pemerhati Budaya Toraja, yang menilai simbol yang mirip ukiran Pa’barana tersebut berada dilantai dasar hotel tersebut.

Belo Tarran mengatakan ukiran toraja tidak etis jika dijadikan lantai dasar di hotel tersebut. Pasalnya ukiran Pa’barana tersebut memiliki makna sakral bagi orang Toraja.

Baca juga :   Inilah Cerita Dibalik Tenggelammnya Allea di Hotel Clarion Makassar

“Semua ukiran Toraja sebagai simbol dari Tallu Lolona (Lolo tau-lolo tananan-lolo patuan) semuanya itu terikat dalam satu dalam Tongkonan. Jadi kurang etis jika ukiran toraja dijadikan karpet dan diinjak para pengunjung hotel tersebut,” kata Belo.

Penulis Enggra Mamonto