In Memoriam Wartawan M.Dahlan Kadir , "Pernah Pegang Janggut Kahar Mudzakkar"

In Memoriam Wartawan M.Dahlan Kadir , "Pernah Pegang Janggut Kahar Mudzakkar"

In Memoriam Wartawan M.Dahlan Kadir , “Pernah Pegang Janggut Kahar Mudzakkar”

Kabar Makassar -- Wartawan senior M.Dahlan Kadir, Rabu 6 september 2017, hari ini berpulang ke rakhmatullah. Almarhum telah beberapa kali dirawat di rumah sakit, antara lain di RS Pelamonia dan di RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo, karena mengidap penyakit. Jenazah pria yang dilahirkan di Sinjai 15 Agustus 1944 direncanakan di kebumikan Taman Pusara PWI Sulsel di Sudiang Makassar, tempat istrinya dimakamkan beberapa tahun silam.

Ayah sepuluh anak dan kakek beberapa cucu ini, sudah malang melintang di berbagai media, ketika wartawan masih bisa dihitung dengan jari banyaknya. Lulusan SMA tahun 1963 ini memasuki dunia wartawan dengan modal Kursus Wartawan Mekar, satu lembaga pendidikan yang menghasilkan banyak jurnalis yang dipimpin J.Wewengkang puluhan tahun silam.

Punya sedikit modal teori, Nurdin Monro yang memimpin Mingguan Fajar mengajak Dahlan bergabung. Namun tidak lama di media ini, dia bergabung ke Majalah Gelora yang dipimpin Mochtar Husain. Lagi-lagi Dahlan tidak betah. Razak Mattaliu yang mendirikan Tanah Air dan Suluh Marhaen, mengajaknya jadi wartawan di media itu. Di Tanah Air-lah, Dahlan pertama kali mewawancarai pejabat tinggi, setingkat gubernur, Residen Wayong. Pria ini pelaksana tugas Gubernur Sulawesi Tenggara I kala itu.

Sudah tahu sedikit mengelola media, almarhum pun memberanikan diri mendirikan sendiri Manipol, sebuah majalah. Sayang, ketika pecah pemberontakan Gestapu/PKI, sebagai rangkaian aksi mahasiswa, beberapa koran di Makassar ikut digaruk. Termasuk Suluh Marhaen dan Manipol tidak luput dari pengganyangan mahasiswa.

Pada tahun 1967, Syamsuddin DL yang tentara mendirikan Harian Tegas. Dahlan yang tidak memiliki media lagi, pun bergabung ke media baru itu hingga akhir khayatnya.

Pria yang pernah beberapa periode menjadi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan ini, sebelum menjadi wartawan pernah mencoba peruntungan menjadi pegawai negeri. Itu terjadi sekitar tahun 1960-an.

Dia mengawalinya dengan bekerja di salah satu distrik (sama dengan kecamatan sekarang) di Kota Makassar. Namun gaji tidak kunjung diterima. Sudah bekerja tiga bulan, sepeser pun tak pernah dia lihat, meski pekerjaannya memang terbilang ringan. Dia jadi tukang stempel setiap surat dan surat keputusan. Tapi, bukan itu soalnya. Orang kerja harus digaji.
Kecewa tak dapat gaji, M.Dahlan Kadir banting stir.

"Saya mau jadi wartawan saja," katanya saat diwawancarai untuk buku profil 99 wartawan Sulawesi Selatan yang saya tulis dan terbit tahun 2010.

Sembari bernada humor almarhum menambahkan,"Bagaimana mau jadi pegawai, untuk ganti celana dalam saja susah".
Pengalaman Dahlan yang lain, ketika usai mengikuti latihan militer di Pakatto. Hatinya sudah mantap menjadi wartawan yang berseragam tentara. Belum sempat pergi mengukur baju serdadu, dia bertemu L.E.Manuhua (alm), Pemimpin Umum Harian Pedoman Rakyat.

"Kalau kau selesai pendidikan militer, pangkatmu apa?," tanya Manuhua.

"Serma (sersan mayor), Pak," jawab Dahlan singkat.

"Ah, tidak benar itu. Wartawan harus berpangkat letnan satu (Lettu). Kalau kau Serma, capek kau menghormat terus. Lettu ‘kan dihormati,’’ kata Manuhua.

Ternyata komentar pria Ambon itu masuk di akal Dahlan.

"Akhirnya saya batalkan jadi tentara. Padahal, saya sudah lancar memberi hormat," kenangnya sembari terkekeh.

Ketika masih bersama Razak Mattaliu, Dahlan juga punya pengalaman yang tak terlupakan. Waktu itu, mayat Kahar Muzakkar disemayamkan di RS Pelamonia. Beberapa wartawan datang melihat mayat itu.
"Bahkan, saya sempat pegang janggutnya Qahar," katanya.

Usai ‘melayat’, Dahlan keluar. Di luar ada pos. Di situ, setiap orang yang selesai melihat mayat harus mengisi buku tamu. Isi komentarnya di situ bahwa betul jenazah yang terbaring di RS Pelamonia itu adalah tubuh Qahar Muzakkar.

Sekitar tahun 1978, bersama beberapa orang teman wartawan lainnya, Dahlan menghadiri acara pembukaan lintas feri Bajoe-Kolaka. Waktu itu, Kapal landing (yang muat kendaraan mobil) dilepas Gubernur Sulsel Achmad Lamo dan dihadiri juga oleh Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Sayidiman.

Wartawan yang ikut, seingat Dahlan, antara lain Abu Pattisahusiwa (PR), Rahim (RRI Nusantara IV), Ady Kamaruddin (Antara).

Kapal berangkat pukul 06.00. Pada pukul 13.00, perut teman-teman wartawan mulai ‘’kacau’’. Lapar. Dahlan Kadir naik ke tempat kapten. Melapor.

"Rombongan wartawan belum makan," lapor Dahlan.
"Kami tidak dapat perintah menyediakan makan," jawab sang Kapten.
"Jadi?," tanya Dahlan bingung.
"Maaf saja," sambung Kapten kapal.
"Minta air putihnya," usul Dahlan.

Kapal merapat di Dermaga Kolaka pukul 23.00. Perut terus keroncongan. Kolaka sepi. Sunyi. Tak ada kendaraan yang lalu lalang. Turun dari kapal, rombongan kecil wartawan ini berjalan kaki ke tengah kota. Mereka menggedor rumah rakyat untuk menanyakan kantor Komandan Kodim. Dapat. Kebetulan ada CPM.

‘’Kami wartawan yang meliput pembukaan feri Bajoe-Kolaka, Pak,’’ lapor Dahlan.
‘’Oh ya, dari tadi ditunggu,’’ kata anggota CPM yang menerima mereka.
‘’Di mana kami menginap?,’’ tanya Dahlan.
Tanpa menjawab pertanyaan, CPM langsung mengantar empat wartawan ini ke salah satu rumah penduduk. Perut mereka sejak pagi belum terisi.

Mereka dibawa ke rumah salah seorang penduduk untuk bermalam. Dahlan menangkap isyarat, tuan rumah takut. Pasalnya, tamunya itu diantar CPM. Lagi baring-baring, Dahlan mendengar selentingan kalimat dalam bahasa Bugis. Isinya, mempertanyakan asal usul keempat tamunya di tengah malam itu. Sang suami menjawab tak tahu.

‘’Ugiki? (orang Bugis jugakah?),’’ tanya Dahlan setelah melongokkan kepalanya di dekat kain tirai pintu pembatas kamar.
‘’Bugis dari mana?,’’ sambung Dahlan lagi.
‘’Kajuara!,’’ jawab pasangan itu.
‘’Sekampung ki itu!,’’ Dahlan menimpali.
‘’Dari mana, Pak!,’’ tanya tuan rumah lagi.
‘’Makassar! Kami semua ini wartawan, Pak!,’’ jawab Dahlan lagi.

Rupanya, tuan rumah tak mengerti yang dimaksud wartawan.

‘’Apa itu wartawan?’’.
‘’Itu yang sering menulis di suratkabar dan radio. Sering mendengar radio?,’’ Dahlan menjelaskan. Rupanya, pasangan itu mengerti.

‘’Barangkali belum makan,’’ kata ibu tuan rumah dalam bahasa Bugis.
‘’Kami wartawan, sudah biasa, Bu. Tapi, bisa ji i’’ kata Dahlan, meski perutnya sudah ‘’cincong’’ tak jelas.
Saat itu lonceng menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Ternyata ibu itu mengerti. Dia pergi memasak.
‘’Kami makan sudah pukul 04.00 subuh,’’ cerita Dahlan.

‘’Untung kau mengaku dari Kajuara,’’ teman-teman Dahlan menyeletuk, ketika usai makan subuh.
Keesokan harinya, dengan mata masih terkantuk-kantuk mereka kembali ke kapal untuk diterima secara resmi sebagai rangkaian peresmian pembukaan lintas feri Bajoe-Kolaka.

Suatu waktu, Dahlan ditugaskan ke Sulawesi Tengah. Melacak kasus kayu hitam. Yang berperkara waktu itu dua perusahaan. Salah satu perusahaan dipimpin oleh seorang berpangkat Lettu. Pembelanya adalah Amir Syamsuddin di Jakarta. Yang satu lagi, sebagai penggugat, dibela Laica Marzuki.

Ketika mereka berperkara di pengadilan, Dahlan hadir meliput. Pas dia duduk di belakang kuasa hukum penggugat, Pak Laica. Hakim Ketua bertanya kepada Pak Laica selaku penggugat.

‘’Apa masih ada saksi yang mau diajukan Saudara Penggugat?,’’ pertanyaan itu ditujukan ke Laica.
‘’Ada!,’’ sahut Laica pendek.
‘’Ada di ruang sidang ini?’’
‘’Ada di Palu!,’’ jawab Laica lagi.
‘’Bisa dihadirkan!’’ pinta Hakim
‘’Besok’’ sahut pengacara penggugat lagi.

Dalam perjalanan pulang, Laica memberitahu Dahlan agar siap menjadi saksi.

‘’Mengapa saya yang jadi saksi?,’’ tanya Dahlan setibanya di hotel.
‘’Ya, karena kau habis mewawancarai J Kanter (staf Kopkamtib waktu itu). Jika kau jadi saksi, kita bisa menang,’’ kata Laica.

Tawaran itu ditolak Dahlan. Pukul 22.00 telepon berdering di kamar yang ditempati Dahlan. Ternyata dari Pak Syamsuddin DL.

‘’Katanya, kau diminta jadi saksi oleh Laica Marzuki,’’ tanya almarhum.
‘’Ya, itulah masalahnya. Katanya, kalau saya jadi saksi, Dullah bisa menang. Tetapi, saya ini ‘kan wartawan, ’’ jawab Dahlan.
‘’Sebagai warganegara kau jadi saksi saja besok,’’ kata Syamsuddin DL.

Akhirnya, Dahlan jadi saksi. Tiba di ruang sidang, Pak Sanusi, Ketua Pengadilan Negeri Palu heran.

‘’Ini kan wartawan yang selalu ketemu saya. Kau mau jadi saksi,’’ kata Sanusi.
‘’Saya diminta,’’ jawab Dahlan.
‘’Keberatan?,’’ tanya hakim lagi.
‘’Tidak’’.
‘’Siap disumpah’’.
‘’Siap!,’’ tangkis Dahlan.

Sanusi kemudian mengarahkan pertanyaannya pada pengacara penggugat.

‘’Dia saksi dalam hal apa?,’’ tanya hakim.
‘’Dia akan menjelaskan hasil wawancaranya dengan J Kanter tentang pemeriksaan kasus kayu hitam di Sulteng,’’ jawab Laica.

Saat Dahlan menjelaskan hasil wawancaranya itu, pengacara tergugat, Amir Syamsuddin protes. Dia berdiri.

‘’Saya tolak keterangan saksi, karena saksi satu pesawat, satu mobil, satu hotel, dan satu tempat makan dengan pengacara penggugat,’’ kata Amir Syamsuddin lantang.

‘’Itu fitnah. Saya akan laporkan itu ke Polisi. Bohong semuanya, ’’ sergah Laica sembari berdiri.
Usai sidang, di hotel Dahlan bertemu Laica.
‘’Mengapa tadi kita bilang bohong?’’ tanya Dahlan.

‘’Ini masalah hukum. Untuk mematahkan lawan,’’ kunci Laica Marzuki. [MDA]

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close