HOAX versus BERITA

KabarMakassar.com— DARI pemahaman teori yang kita pelajari dan yakini bersama. Dunia jurnalistik tidak mengenal yang namanya berita HOAX. Jika sebuah fakta dan atau peristiwa sudah di publikasikan. Maka berita itu sudah melalui tahapan redaksional.

Dalam teori jurnalistik HOAX di kategorikan sebagai informasi. Kedudukannya sama dengan rumors, info dan kabar burung. Tugas jurnalis atau media melakukan Verifikasi, Check, Double Check, Konfirmasi hingga Cover Both Sides.

Sebuah berita lahir tidak dengan serta merta, tapi melalui tahapan-tahapan yang cukup panjang di newsroom. Mulai dari rapat redaksi – perencanaan liputan – peliputan – penentuan angle – pemilihan narasumber – evaluasi – editing -gatekeeping – publikasi. Jika melalui proses ini tak mungkin ada sebuah berita yang bernama HOAX.

Berita itu sebuah barang yang amat “suci”. Pemahanan sebagian pekerja media yang menganggap jurnalis adalah “agama” mereka. Berita dibuat untuk tujuan mulia, To Inform. Membuat masyarakat tahu sesuatu hal yang mereka sepenuhnya tidak diketahui.

Baca juga :   Tajuk: Fenomena None di Makassar

Tugas jurnalis disini adalah sebagai penyampai pesan, pembawa kabar tentang sesuatu yang tidak diketahui menjadi untuk diketahui. Media menjadi penerang dari kegelapan. Ia menjalankan tugas-tugas para nabi dan rasul di zaman dahulu kala.

Tujuan kedua adalah To Educated. Fungsi jurnalis dan media adalah memberi arahan tentang sebuah hal yang baik di masyarakat. Sesungguhya tidak ada berita buruk yang di kabarkan.

Media dan jurnalis memberitahukan berita buruk itu tujuannya agar masyarakat tidak melakukan hal-hal yang buruk seperti korupsi, dan tindak kejahatan lainnya.

Disini tugas media adalah menjalankan fungsi guru, mendidik masyarakat agar melakukan hal-hal yang baik dan tentu saja bermanfaat.

Tugas ketiga adalah To Entertaint. Peran jurnalis dan media adalah menghibur. Menghibur dalam arti bukan sekadar membuat orang tertawa.

Baca juga :   Tajuk: Menuju 2025

Dalam filosofi jurnalisme, menghibur itu bisa berarti membuat perasaan publik terbawa emosi, bersimpati, marah atau malah bersedih. Bersedih dan menangis bukankah juga adalah esensi hiburan.

Fungsi media dan berita disini bisa saja membantu masyarakat bergotong royong atau bahkan beramai-ramai menolong seorang bocah miskin yang tidak punya biaya untuk berobat. Kita sering menemukan gara-gara sebuah berita seorang bocah miskin dibantu publik untuk biaya pengobatannya.

Ke-empat Social Control. Tugas media dan jurnalis sebagai pilar keempat demokrasi adalah menjadi “wacht dog” bagi eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Di posisi ini, media dan jurnalis sama kedudukannya dengan elemen NGO dan mahasiswa yang berteriak di jalan. Mengabarkan kebenaran dan menjadi saksi atas kebisuan sosial. Media dan jurnalis menjadi parlemen jalanan yang berkoar-koar untuk kepentingan publiknya.

Baca juga :   Tajuk: Menyoal Perppu No 2 Tahun 2017

Jadi berita itu tidak akan pernah menjadi Hoax dan atau semacamnya. Tugas para jurnalis itu adalah antitesa hoax itu sendiri.

Satu lagi yang terpenting berita itu berawal dari kepentingan publik dan untuk kepentingan publik. Untuk apa berita dibuat dan digunakan untuk siapa. Sasarannya jelas. Kepentingan publik semata.

Bagaimana sebuah berita di kategorikan sebagai HOAX jika yang berseliweran di time line media sosial hanya berdasarkan selera, kepentingan sesaat dan atau kepentingan kelompok atau golongan semata.

Jadi atas nama melindungi berita dan jurnalisme dari berbagai upaya mendiskreditkan fungsinya.

Jangan samakan HOAX dengan BERITA !!!