Perusda
Bank SUlsel Bar

LBH Pers Desak Ungkap Kasus Kematian M. Yusuf

on 13/6/18 Oleh Hendra N. Arthur
LBH Pers Desak Ungkap Kasus Kematian M. Yusuf
Almarhum Jurnalis Media Siber M. Yusuf yang diduga meninggal tak wajar di dalam tahanan Polres Kota Baru, Kalimantan Selatan pada 12 Juni 2018 lalu. [Foto: AMSI]

KabarMakassar.com -- Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mempertanyakaan kasus kematian Wartawan Kemajuan rakyat.co.id, M Yusuf di tahanan Kota Baru, Kalimantan Selatan yang diduga tidak wajar.

Hal ini diungkapakan LBH Pers berdasarkan rilis dari AJI Balikpapan yang diterima redaksi KabarMakassar.com melalui via whatsapp, Rabu, 13 Juni 2018.

Diketahui dari berita-berita yang tulis dan dipublikasikan dari beberapa Media Online bahwa almarhum sangat berani  menulis berita dan mengabarkan peristiwa yang belum tentu media lain berani memuat informasi tersebut. 

"Kami sangat menghormati kegigihannya almarhum dengan  kualitas berita di buat, Yang pada akhirnya menjadi terkdakwa.

Dengan kejadian ini, LBH Pers mengecam keras kematian almarhum tidak wajar," ungkap Perwakilan LBH Pers Nawawi Bahrudin melalui siaran pers resminya.

Ini diduga akibat dari kelalaian prosedur ataupun pelanggaran lainya yang menyebabkan almarhum meninggal dunia di dalam tahanan/RSUD Kota Baru, dimana korban dalam status terdakwa.

LBH Pers juga mengapresiasi upaya Komnas HAM yang akan membentuk tim investigasi terkait kematian M Yusuf yang dinilai tidak wajar.

Jika hasil investigasi itu ditemukan fakta-fakta pelanggaran prosedur ataupun pelanggaran lainya. Lbh Pers mendesak agar kasus itu segera diusut tuntas, dan memberikan keadilan terhadap almarhum, keluarga dan masyarakat secara umum.

Selain itu, LBH Pers juga mendesak Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri)  dan Kejaksaan Agung (Kejakgung) untuk turun menginvestigasi kasus kematian M Yusuf. 

Dan jika ditemukan kelalaian ataupun pelanggaran yang mengakibatkan meninggalnya almarhum, Kapolri dan Kejakgung mengusut tuntas serta menindak tegas aparat yang berada di bawah kewenangannya. 

Hal ini mengingat almarhum sempat mengajukan penangguhan penahananan karena sakit, namun tidak dikabulkan oleh pihak kejaksaan.

Dia juga mendesak Dewan Pers untuk juga turun menginvestigasi jika ditemukan kejanggalan-kejanggalan terhadap kematian dari almarhum M.Yusuf dan juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum (Kapolri, Kejakgung dan Komnasham) untuk mengusut dugaan-dugaan pelanggaran tersebut.