Hari Terkahir PSBB Tahap I di Makassar, Ada Tambahan 12 Kasus Positif Covid-19

Ilustrasi - pixabay

KabarMakassar.com — Hari terakhir tahap pertama pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Makassar, jumlah pasien positif masih terus bertambah.

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, khusus di Kota Makassar, Kamis (7/5) malam kemarin, ada penambahan sebanyak 12 kasus terkonfirmasi positif. Sehingga jumlahnya total kumulatifnya naik dari 454 menjadi 466 kasus.

Sementara untuk lingkup Provinsi Sulsel, total penambahannya sebanyak 19 kasus terkonfirmasi positif. Sebarannya, selain di Makassar 12 kasus, juga ada penambahan di Gowa 6 kasus dan Sinjai 1 kasus. Jumlah pasien positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh juga bertambah 13 orang, sehingga total keseluruhannya menjadi sebanyak 250 orang.

Dengan begitu, total kumulatif pasien positif Covid-19 di Sulsel hingga Kamis (7/5) sudah sebanyak 684 orang (388 dirawat, 250 sembuh, 45 meninggal dunia). Sementara untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 1.037 orang (206 dirawat/proses follow up, 673 sehat/negatif Covid-19, 100 meninggal dunia). Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 4.206 orang (747 proses pemantauan, 3.459 selesai pemantauan).

Adapun 5 daerah dengan jumlah total kasus positif Covid-19 terbanyak di Sulsel yakni; Makassar (466 kasus); Gowa (48 kasus), Maros (36 kasus); Luwu Utara (25 kasus); dan Sidrap (22 kasus).

Sementara 19 kabupaten/kota lainnya, yakni: Parepare (16 kasus); Luwu Timur (12 kasus); Pangkep (10 kasus); Sinjai (7 kasus); Bulukumba (6 kasus); Pinrang (5 kasus); Bone (5 kasus); Takalar (5 kasus); Soppeng (5 kasus); Enrekang (4 kasus); Tana Toraja (3 Kasus); Selayar (2 kasus); Luwu (2 kasus); Jeneponto (1 kasus); Palopo (1 kasus); Wajo (1 kasus), Bantaeng (1 kasus); Barru (1 kasus), dan Toraja Utara (0 kasus).

Sejauh ini, di Sulsel sudah ada 2 kabupaten/kota yang menerapkan PSBB, yakni Kota Makassar (24 April – 7 Mei) dan Kabupaten Gowa (4 Mei – 17 Mei). Khusus untuk Kota Makassar, pelaksanaannya diperpanjang hingga 22 Mei 2020.

Sebelumnya, Gubernur Sulsel mengakui bahwa salah satu alasan utama pihaknya menyetujui perpanjangan PSBB di Kota Makassar adalah karena masih rendahnya tingkat kepatuhan masyarakat yang masih sangat rendah dalam menerapkan imbauan dan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19.

“Setelah kita rapat, kita evaluasi selama 14 hari, PSBB Makassar ini boleh dikata tingkat kepatuhan kita masih sangat rendah. Sehingga, perpanjangan ini kita lakukan,” kata Nurdin.

Meski begitu, Nurdin menekankan beberapa catatan dalam pelaksanaan perpanjangan PSBB di Kota Makassar. Salah satunya, semua petugas yang ada di lapangan harus lebih santun.

“Termasuk Satpol PP. Turun bukan untuk marah-marah, tetapi turun untuk melayani. Kalau ada yang keliru, ada yang tidak patuh, hukuman boleh, tetapi tidak dengan kata-kata yang menyakitkan. Orang yang dihukum itu butuh sentuhan. Saya berharap, PSBB diberlakukan tapi ekonomi masyarakat tetap bisa bergerak,” ujarnya.

Untuk menjaga ekonomi agar bisa terus bergerak, Nurdin mengaku sudah meminta kepada Pj Walikota Makassar mengundang semua pemilik toko di Makassar, terutama yang memiliki karyawan dalam jumlah besar.

“Karena mau lebaran, kalau toko ditutup semua, orang mau belanja dimana? Makanya semua toko, terutama yang punya tenaga kerja banyak ini harus kita tetap buka. Tapi dengan catatan protokol kesehatan harus tetap dijaga. Pakai masker, jaga jarak, di depan ada wastafel, ada hand sanitizer, ada scanner, itu saja. Kita pastikan orang yang masuk di toko tidak ada yang positif, tidak ada yang bermasalah,” ujarnya.

Nurdin menegaskan bahwa persoalan tutup jalan bukan lagi fokus utama dalam PSBB. Yang lebih penting adalah lebih masif mencari carrier Covid-19 untuk memotong mata rantai penyebaran Covid-19, khususnya dengan menemukan kasus-kasus transmisi lokal.

“Local transmission ini harus betul-betul ditemukan orangnya,” tegasnya.

Nurdin juga meminta agar seluruh warga Kota Makassar tidak perlu panik dengan perpanjangan PSBB ini. Ia memastikan PSBB akan berjalan lebih baik dari sebelumnya.

“Tidak usah kita panik atau resah, kita sudah melakukan evaluasi 14 hari ini. Iya tentu masih ada oknum-oknum aparat kita, terutama Satpol-PP yang berlaku tidak sepantasnya di tengah-tengah masyarakat, itu kita minta maaf. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang siram-siram barangnya orang, karena itu sudah dilarang. Langkah yang cocok, kalau ada yang salah kita bicarakan secara persuasif,” tuturnya.

Nurdin menambahkan, tugas pemerintah saat ini adalah menyelamatkan usaha-usaha yang sudah hampir bangkrut atau colaps.

“Ini harus kita selamatkan. Cara kita selamatkan, kita support, jangan justru tambah dipojokkan,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Prof. Aminuddin Ilmar mengatakan, JIka PSBB di Kota Makassar diperrpanjang, maka yang dibutuhkan adalah ketegasan yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini mengingat tingkat kepatuhan masyarakat di Kota Makassar untuk mengikuti imbauan pemerintah dan menjalankan protokol kesehatan masih rendah.

Sementara, kata dia, tujuan utama PSBB adalah untuk menghentikan terjadinya penyebaran atau penularan virus Corona (Covid-19) secara efektif, dengan melarang atau membatasi interaksi orang, guna mencegah terjadinya transmisi lokal.

“Kemarin kan pak gubernur juga bilang bahwa tingkat kepatuhan masih rendah, sehingga masih harus dilakukan PSBB lanjutan di Makassar,” kata Prof. Aminuddin.

Menurut dia, problem yang dihadapi saat ini adalah akan diberikannya relaksasi atau kelonggaran pada penerapan PSBB, dengan alasan bahwa ternyata pelaksanaannya mengakibatkan roda perekonomian terganggu.

“PSBB itu sebenarnya sudah longgar. Kalau kemudian itu dilonggarkan lagi, ya sama saja tidak ada PSBB. Ini yang harus diperhatikan. Seharusnya relaksasi itu baru bisa dilakukan kalau kasusnya sudah mulai menurun dan kepatuhan masyarakat sudah tinggi. Sekarang ini itu belum tercapai. Kasusnya kan masih tinggi,” ujarnya.

“Makanya harus lebih tegas dari sebelumnya, dan bukan justru dengan relaksasasi mengajak orang pergi belanja karena menghadapi idulfitri. Apa yang mau dicapai dengan PSBB seperti itu? Kalau itu (kelonggaran) diberikan, saya yakin penerapan PSBB itu akan menjadi masalah dan akan sia-sia,” pungkasnya.

Reporter :

Editor :

Firdaus

Redaksi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI