GM Dalam Catatan

GM Dalam Catatan

GM Dalam Catatan

Di antara ribuan tulisannya yang terserak dalam rentang waktu puluhan tahun, amat jarang Goenawan Mohamad menulis tentang diri sendiri. Saya yang amat mengaguminya, mungkin baru membaca dua di antaranya, satu tulisan ketika ia bercerita sebagai seorang ayah, dan yang satu adalah ini: tentang pertemuannya dengan beberapa orang, nama-nama besar sastrawan Indonesia.

Ada juga beberapa tulisan GM yang sedikit menyinggung pengalaman diri sendiri. Misalnya, ketika ia berkesempatan masuk ke dalam ruangan Kakbah di Masjidil Haram.

Tentu saja, tulisan GM tentang diri sendiri jauh dari pemaparan ala narsisme media sosial. Selalu bertebaran fakta, cerita, mungkin sejarah dan juga pemahaman tentang hubungan dan pertautan sejumlah orang yang mewarnai perjalanan panjang dunia kepenulisan negeri ini. Dan yang penting adalah pelajaran tersembunyi tentang cara bercerita tanpa berpamer-pamer tentang kelebihan diri sendiri dan bergunjing soal kekurangan orang lain.

Karena halaman Mas GM di Facebook tak bisa di-share, saya salinkan saja di sini. Silakan menikmati:

-----

SEBUAH MASA, BEBERAPA ORANG

-- catatan Goenawan Mohamad

Dalam umur saya yang 76 tahun, saya berbahagia masih bisa menulis, berdiskusi dan bekerja sama dengan mereka yang jauh lebih muda. Tapi mungkin karena itu, banyak pengamat kesusastraan sekarang yang tampaknya menduga bahwa para penulis yang pernah hidup di satu periode yang sama selalu berarti sebaya dan saling kenal.

Kenyataannya tak demikian.

H.B. Jassin mengenal saya baru di tahun 1961. Waktu itu saya seorang mahasiswa yang baru datang di Jakarta dan tak begitu berani mendekati dia.

Pertemuan kami terjadi kebetulan. Saya kuliah di Fakultas Psikologi UI yang ruang kelasnya terletak di Jalan Diponegoro, Jakarta, di seberang RS dr, Cipto Mangunkusumo. Jassin bekerja di Pusat Bahasa, di lokasi yang sama; bedanya: dia bekerja di tingkat dua, sedangkan saya kuliah di lantai bawah..

Saya baru berani datang ke ruangan Jassin, diantar seorang teman, setelah salah satu tulisan saya terbit di Majalah Sastra.

Umur saya baru 20. Waktu itu Jassin 44 tahun. Saya tak menduga dia ramah sekali; ia tak meletakkan diri di atas sebagai orang tua. Padahal, ketika H.B. Jassin menjadi redaktur majalah sastra Kisah, 1953, saya baru berumur 12 tahun.

Bagaimana dengan yang lain? Pramoedya Ananta Toer baru kenal saya setelah dia keluar dari Pulau Buru. Ia datang ke Majalah Tempo dan memberitahu rencananya untuk menerbitkan tetraloginya yang kemudian tersohor itu. Seingat saya dia datang bersama Joesoef Ishak, juga bekas tahanan, yang sudah lebih lama jadi kenalan akrab.

Sebelum hari itu -- waktu saya sebagai wartawan mengunjungi Pram di pulau tahanan itu -- ia menyangka nama saya "Gunawan Semaun".

Isterinya lebih dahulu kenal saya, meskipun saya duga hanya samar-samar, sejak saya ke rumahnya membawakan royalti dari penerbit Malaysia. Ketika itu Pramoedya sudah di dalam penjara, dan penerbit Malaysia tak punya cara, atau tak berani, menyampaikan uang itu. Mereka minta tolong saya jadi kurir, setelah menemui saya di sebuah seminar di Kuala Lumpur.

Saya baru berumur 9 tahun ketika Pramoedya menerbitkan "Keluarga Gerilya", tahun 1950. Setelah saya di Jakarta, saya baru melihat wajah Pram dari jauh di sebuah ceramah di Universitas Indonesia tahun 1963. Tentu saja dia tak melihat saya.

Demikian juga perkenalan saya dengan Sitor Situmorang: baru setelah ia keluar dari penjara.

Kami pertama kali bertemu di Utan Kayu 68H.

Komunitas Utan Kayu memang tempat di mana bekas-bekas tahanan politik sering berkunjung. Juga Pram, yang rumahnya waktu itu tak jauh dari sana --meskipun ia akhirnya jarang sekali datang. Andreas Harsono, wartawan dan pendiri AJI, yang juga pengurus Utan Kayu, membuat aturan ketat melarang orang merokok di ruang pertemuan. Dan itu tak cocok dengan kebiasaan penulis "Bumi Manusia" itu.

Sitor tak merokok, seingat saya. Saya langsung senang berkenalan dengan dia waktu dia muncul. Saya mengagumi sajak-sajaknya, dan dia orang yang gampang bergaul. Tapi umur kami jauh berbeda. Ia sudah jadi wartawan di Waspada, Medan, tahun 1947, ketika saya baru 6 tahun. Kumpulan puisinya yang membuatnya terkenal, "Surat Kertas Hijau", terbit tahun 1954, umur saya 13 tahun.

Adapun mereka yang benar sebaya saya: Arief Budiman dan Sapardi Djoko Damono. Sejak perkenalan pertama di tahun 1960-an, kami, yang hampir seumur, bersahabat. Meskipun kemudian jarang ketemu.

Masa lalu, seperti halnya masa sekarang, memang tak pernah satu.

Penulis : Tomy Lebang

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close