Balai Kota Makassar Dulu dan Sekarang

Balai Kota Makassar Dulu dan Sekarang

Kabar Makassar ----- Masa penjajahan Belanda di Makassar tidak luput dari peninggalan-peninggalan yang sampai saat ini masih terawat. Mulai dari barang antik, sistem pemerintahan, buku-buku bersejarah, hingga bangunan tua masih terawat dengan baik.

Salah satu bangunan peninggalan Belanda yang sampai saat ini ada selain Fort Rotterdam, ialah Balai Kota Makassar.

Terletak di Jalan A. Yani atau Hoogepad (sebutan di jaman penjajahan Belanda), kantor ini memang sengaja dibangun sebagai kantor untuk para Pembesar (pejabat) Belanda di Bagian Timur Indonesia.

Bangunan yang khas dengan gaya arsitek Belanda ini telah didirikan antara tahun 1918 hingga 1922. Dengan selesainya kantor ini, maka kantor pemerintahan dipindahkan dari Fort Rotterdam ke Hoogepad. Dan balai ini juga dijadikan sebagai rumah jabatan gubernur pada masa itu.

Pada tahun 1992, kantor ini beralih instansi dari Kantor Gubernur Sulawesi Selatan (saat itu dijabat oleh Prof. Ahmad Amiruddin) menjadi Kantor Wali Kota Makassar atau saat ini dikenal dengan nama Balai Kota Makassar.

Balai Kota Saat Ini

Pada masa jabatan Wali Kota Makassar Baso Amiruddin Maula di periode 1999-2004, gedung balai kota banyak mengalami renovasi. Satu di antaranya adalah adanya penambahan gedung bertingkat, yakni menara Balai Kota Makassar. Sampai pada periode wali kota 2004-2008 (saat itu dijabat oleh Ilham Arief Sirajuddin) menara siap digunakan oleh Pemerintah Kota Makassar.

Tanpa meninggalkan desain terdahulu, gedung bersejarah ini seringkali mengalami peremajaan dan pengalihan fungsi di tiap-tiap ruangan yang bergaya Belanda ini.

Struktural yang mengisi balai kota di antaranya Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (saat ini menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Badan Kearsipan dan Peroustakaan Daerah (sekarang menjadi Badan Kearsipan), Bagian Keuangan, Humas, Dinas Ketahanan Pangan, Badan Sosial Politik (sekarang menjadi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik), dan struktural lingkup Pemerintah Kota Makassar lainnya.

Saat ini, di periode Wali Kota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto (2013-2018), balai kota kembali mengalami renovasi besar-besaran, di antaranya lantai 10 Menara Balai Kota menjadi ruangan berbasis teknologi pemantau CCTV (War Room), lantai dua menjadi Galeri Smartcity, ruang tunggu wali kota menjadi ruang khusus wartawan (press room), ruang pola terbagi menjadi dua ruang rapat (Sipakainga' dan Sipakale'bi), bahkan lantai 11 menara menjadi Kantor Wakil Wali Kota Makassar.

Meski demikian, gedung bersejarah peninggalan Belanda ini masih tetap dijaga menjadi salah satu ikon Kota Makassar.

Foto: Makassar Today

Marwah Ismail

Journalist

Pewarta yang telah memiliki sertifikasi "Jurnalis Muda" dari Dewan Pers. Mahasiswi Jurusan Broadcast Universitas Fajar ini aktif menulis sejak 2013 lalu.

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close