news

Fenomena Anak Jalanan di Makassar

Fenomena Anak Jalanan di Makassar

Kabar Makassar--- Setiap anak berhak menerima perhatian dan perlindungan dari orangtua, mendapatkan pendidikan yang layak, dan jauh dari tindak kekerasan.

Sayangnya, tidak semua anak mendapat perlakuan baik di lingkungan. Sehingga tidak jarang pula ada anak yang terpaksa berhenti sekolah dengan alasan yang berbeda-beda.

Beberapa diantara anak putus sekolah tidak lain karena masalah ekonomi.

Di Makassar, akan dijumpai beberapa anak berjualan tisu, menjajakan koran, mengamen, mengemis, berjualan ikan hias, memulung, dan ada pula yang berkeliling di beberapa tempat untuk berjualan buku. Hal itu dilakukan tidak lain karena faktor ekonomi.

Melihat fenomena tersebut, pihak pemerintah memerlakukan pembersihan atau penyisiran dengan mengamankan anak-anak dan pengemis lainnya jika terlihat mengganggu aktifitas di jalan.

Inna (13) Salah seorang di antaranya, ketika melihat mobil petugas Saribattang ta' mendekat, ia dan teman-temannya mengaku akan langsung berlarian untuk sembunyi dengan alasan takut.

"Takut ditangkap, kalau ditangkap ki' didata ji saja (kantor Dinas Sosial) baru dikasih keluar. Baru tisu ta' na ambil, tidak ada apa-apa didapat," terangnya.

Inna mengatakan, jika tidak berjualan tisu, ia dan keluarganya akan makan apa jika tidak bekerja. Sehingga itulah alasan kenapa Inna harus berhenti sekolah.

Meski demikian, Inna mengaku tidak merasa ada tekanan dari siapapun untuk bekerja, sebaliknya ia ingin membantu orangtua mencari tambahan penghasilan dengan berjualan tisu. Bahkan ia tidak malu bila ada orang yang mengejeknya.

"Mau diapa mi, lebih baik jual-jual begini dari pada sekolah," katanya.

Namun, tidak semua anak jalanan bernasib seperti Inna. Masih ada anak yang melanjutkan sekolah sambil bekerja untuk membantu orangtuanya.

Juju (9) misalnya, ia menjajakan tisu kepada setiap pengendara jalan untuk mendapat tambahan penghasilan setelah pulang dari sekolah. Meski masih kelas 4 SD, Juju merasa tidak mau ataupun takut berjualan dan bermain bersama teman-temannya di jalanan.

Sementara itu, Kepala Seksi Jaminan Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial Kota Makassar, La Heru, mengatakan upaya pemerintah Kota Makassar melakukan penyisiran melalui Tim Reaksi Cepat Saribattangta' untuk menjaga keamanan anak ataupun yang lainnya. Hal ini dikarenakan mereka tidak segan-segan berdagang di jalan raya dan mengganggu pengguna jalan.

"Kemarin kan sempat ada kejadian sampai ada yang meninggal, karena mereka berjualan di fly over (jembatan layang, red), mereka lari-lari di jalan. Selain itu, kita lakukan asesmen dan pembinaan sama mereka. Kalau ada yang dari luar daerah, kita kembalikan ke daerah asal. Kemudian kalau ada yang kedapatan hisap lem kita bawa dia ke tempat rehabilitasi di BNN, dan lain sebagainya," terangnya.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) Makassar, Rosmiati Atin mengatakan fenomena yang terjadi saat ini sudah semakin banyak terjadi. Sehingga diperlukan himbauan untuk tidak melakukan kekerasan dan diskriminasi terhadap anak. Namun, faktanya masih banyak anak yang belum mendapatkan haknya.

"Mereka dilarang bermain, disuruh berjualan. Ini harusnya menjadi peran orangtua dan juga pihak pemerintah," terangnya kepada kru Kabarmakassar.com melalui via telepon.

Menurutnya, jika memang niatnya untuk membantu orangtua, seharusnya anak-anak tetap diberikan pendidikan yang layak. Sehingga meskipun tetap bersekolah, mereka dapat membantu orangtua di hari libur atau setelah pulang dari sekolah.

Sedangkan untuk pihak pemerintah, menurut Rosmiati, perlunya memberikan pemahaman pembinaan seperti apa yang dilakukan kepada anak. Jangan hanya melakukan pengamanan dan pendataan saja, dan melakukan tindakan tanpa memberikan solusi yang pada akhirnya anak kembali melakukan pekerjaan yang sama setelah diamankan.

"Harusnya tidak hanya menangkap, tapi membangun komunikasi sama orangtua minta apa yang diinginkan terhadap anak itu. Kalau ditangkap tanpa melibatkan orangtua, karena yang menyuruh selain orangtua pasti orang sekitar, makanya mereka seperti itu. Kalau perlu, mereka (anak) diberikan ruang untuk berekspresi," pungkasnya.

Foto: Ist

Marwah Ismail

Journalist

Pewarta yang telah memiliki sertifikasi "Jurnalis Muda" dari Dewan Pers. Mahasiswi Jurusan Broadcast Universitas Fajar ini aktif menulis sejak 2013 lalu.

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close