KabarMakassar.com — Setelah sukses menggelar dua edisi sebelumnya di Kalimantan, Spektamagis kembali hadir melalui Volume 3 yang akan berlangsung pada Rabu, 4 November 2026, di Parking Lot Phinisi Point, Makassar.
Promotor Spektamagis, Rio menjelaskan mengusung konsep konser musik berskala besar, Spektamagis Vol. 3 menghadirkan enam super lineup dan dua local heroes Makassar.
“Ini dengan perpaduan musisi lintas genre untuk memberikan pengalaman konser yang lebih spektakuler bagi penonton,” terangnya, Jumat (30/10).
Dipromotori oleh PT Panca Rahayu Kreasindo (Para Kreator) di bawah kepemimpinan Alam Nirza, Spektamagis Vol. 3 membawa semangat dari dua penyelenggaraan sebelumnya ke
panggung yang lebih besar.
Dua edisi terdahulu yang digelar secara indoor di Kalimantan mencatat 4.988 penonton pada Volume 1 dan 5.560 penonton pada Volume 2. Kini, Spektamagis Vol. 3 hadir dengan konsep yang lebih istimewa melalui penyelenggaraan
outdoor di Makassar.
“Hadir di ruang terbuka, Spektamagis Vol. 3 tetap mempertahankan kemewahan dan kemegahan produksi yang menjadi ciri khasnya, dengan menghadirkan pengalaman konser berskala besar yang inklusif dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan jika Pemilihan Makassar menjadi bagian dari perjalanan Spektamagis untuk menjangkau
penikmat musik di wilayah yang berbeda.
“Kota ini akan menjadi tuan rumah bagi konser yang menyatukan beragam karakter musik, mulai dari pop, rock, hingga penampilan kolaboratif yang dirancang khusus untuk panggung Spektamagis,” ucapnya.
Sejumlah nama yang akan meramaikan acara ini adalah Mahalini, Fadly “Padi”, Vierratale, For Revenge, Sound Of Panca, Fiersa Besari serta 2 band Local Heroes Rissline dan Selatan.
“Tidak hanya mengandalkan deretan penampil, Spektamagis Vol. 3 turut mengusung konsep produksi panggung berskala besar,” ungkapnya.
PIC Lokal Spektamagis, Dhika menjelaskan Area outdoor Parking Lot Phinisi Point akan dilengkapi tata suara, pencahayaan, visual LED, dan efek khusus untuk membangun pengalaman konser yang imersif.
“Dengan sasaran utama generasi Z dan
milenial muda, acara ini dirancang sebagai ruang bagi penonton untuk menikmati musik sekaligus merasakan atmosfer pertunjukan secara langsung,” ucapnya.
Promotor Spektamagis, Samuel mengatakan Salah satu penampilan yang patut dinantikan adalah Sound Of Panca, band asal Jakarta yang membawa karakter rock dengan lirik yang berangkat dari kegelisahan terhadap persoalan sosial.
Band beranggotakan Ozzy (keyboard), FR (vokal), Nanda (drum), Nayank (gitar), dan Alam (bas) ini terbentuk pada awal 2026 setelah para personilnya lebih dahulu bertemu dan bekerja sama dalam berbagai proyek musik.
“Dalam perjalanan awalnya, Sound Of Panca langsung merilis album perdana bertajuk Menang Untuk Kalah,” ucapnya.
Album ini memuat 11 lagu, termasuk dua versi akustik, yang pengerjaannya berlangsung selama dua bulan di bawah arahan Nanda sebagai produser Album tersebut.
“Mereka berangkat dari kebutuhan musik ilustrasi dan original soundtrack film Menang Untuk Kalah. Namun, karya ini juga membawa pesan yang lebih luas yaitu mengajak pendengar merefleksikan normalisasi judi online di masyarakat,” tuturnya.
Melalui musik, Sound Of Panca ingin menyuarakan keresahan yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
“Secara musikal, album Menang Untuk Kalah menawarkan variasi warna tanpa meninggalkan akar rock mereka,” tuturnya.
Lagu “Menang Untuk Kalah” dan “Lelah Hati”
menghadirkan nuansa nu metal, sementara “Kalah Telak” menonjolkan karakter groove yang kuat. Di sisi lain, “Dewi” membawa warna pop yang berbeda.
Sound Of Panca juga memberikan interpretasi baru terhadap lagu legendaris “Judi” milik H. Rhoma Irama.
“Lagu yang identik dengan genre dangdut tersebut diaransemen ulang dengan pendekatan rock sesuai karakter band,” tambahnya.
Album ini turut melibatkan Rudy Nugraha, mantan vokalis Caffeine, dalam tiga lagu, serta Andinna, vokalis band Candu, dalam lagu “Hancur Lebur”
Kehadiran Sound Of Panca di Spektamagis Vol. 3 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya-karya tersebut kepada penonton Makassar.
“Lebih dari sekadar penampilan band, materi yang mereka bawa memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi medium hiburan sekaligus sarana menyampaikan refleksi sosial,” tutupnya.