KabarMakassar.com — Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menilai bahwa kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2025 berada dalam kondisi stabil dan tetap resilien di tengah dinamika perekonomian nasional maupun global.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengatakan, jika stabilitas tersebut mencerminkan daya tahan sistem keuangan daerah yang mampu menopang aktivitas ekonomi secara berkelanjutan.
“Stabilitas sektor jasa keuangan tercermin dari berbagai indikator utama pada sektor Perbankan, Pasar Modal, serta Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang menunjukkan kinerja terjaga dan tumbuh secara positif,” ujarnya, Minggu (01/03).
Kinerja yang solid tersebut memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan pertumbuhan ekonomi daerah di Provinsi Sulawesi Selatan yang pada tahun 2025 yang tercatat sebesar 5,43 persen lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 5,02 persen.
“Capaian ini menunjukkan bahwa sektor keuangan tidak hanya berperan sebagai penopang stabilitas, tetapi juga sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan,” paparnya.
Perkembangan Sektor Perbankan di Sulawesi Selatan
Pada posisi Desember 2025, kinerja perbankan di Sulawesi Selatan pada indikator Total Aset, Dana Pihak Ketiga dan Kredit menunjukkan pertumbuhan positif.
Total aset perbankan tumbuh sebesar 5,33 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp214,32 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 9,74 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp146,61 triliun.
DPK di Provinsi Sulawesi Selatan didominasi oleh tabungan dengan share 59,92 persen, disusul Deposito sebesar 25,23 persen dan Giro sebesar 14,85 persen.
Adapun kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 5,26 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp172,92 triliun.
Penyaluran kredit pada tahun 2025 tumbuh lebih tinggi jika dibandingkan penyaluran kredit pada tahun 2024 sebesar 4,23 persen, yang menunjukkan adanya percepatan pembiayaan kepada sektor riil seiring dengan membaiknya aktivitas ekonomi daerah.
Pertumbuhan kredit didorong oleh penyaluran kredit produktif dengan share 53,07 persen yang berhasil tumbuh positif sebesar 3,06 persen pada tahun 2025 setelah sebelumnya terkontraksi sebesar -0,08 persen pada tahun 2024. Di sisi lain kredit konsumtif juga masih mencatatkan pertumbuhan yang tinggi yaitu sebesar 7,85 persen.
“Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit yang disalurkan pada sektor perdagangan besar dan eceran memiliki porsi terbesar dengan share 22,19 persen,” tuturnya.
Kinerja intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 117,95 persen dan tingkat rasio kredit bermasalah berada di level 3,65 persen.
Perbankan Syariah turut menunjukkan pertumbuhan positif pada posisi Desember 2025.
Total aset perbankan syariah tumbuh sebesar 22,38 persen (yoy) menjadi Rp21,81 triliun, dengan penghimpunan DPK yang tumbuh 20,64 persen menjadi Rp14,66 triliun dan penyaluran pembiayaan juga tumbuh sebesar 23,69 persen (yoy) menjadi Rp17,58 triliun.
Tingkat intermediasi perbankan Syariah berada pada level 119,94 persen dengan tingkat NPF pada level 1,72 persen.














