Langsung ke konten
Ekonomi Bisnis

Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Sulsel Oktober 2026

Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Sulawesi Selatan pada Oktober 2026. BPS mencatat inflasi mencapai 4,24 persen secara tahunan, dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

Nofisari Diperbarui
Ilustrasi cabai rawit (Dok: Ist)
Ilustrasi cabai rawit (Dok: Ist)

KabarMakassar.com -- Cabai rawit menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan Sulawesi Selatan pada Oktober 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, komoditas tersebut memberikan andil 0,49 persen terhadap inflasi year on year (y-on-y) yang mencapai 4,24 persen.

BPS juga mencatat inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,57 persen, dengan kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar melalui andil 0,51 persen.

Kepala BPS Sulsel, Aryanto mengungkapkan, komoditas pangan, khususnya cabai rawit dan sejumlah bahan makanan lainnya, menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi Sulawesi Selatan sepanjang Oktober 2026.

"Cabai rawit kembali menempati posisi teratas sebagai komoditas penyumbang inflasi bulanan dengan kontribusi 0,13 persen. Tomat menyusul sebesar 0,12 persen, kemudian cabai merah sebesar 0,07 persen," katanya, Senin (02/10).

Komoditas pangan lainnya yang turut mendorong inflasi bulanan yakni ikan bandeng atau ikan bolu dengan andil 0,05 persen serta daging ayam ras sebesar 0,04 persen.

Labu siam atau jipang dan wortel masing-masing memberikan kontribusi 0,03 persen. Sementara angkutan udara menyumbang 0,02 persen terhadap inflasi bulanan.

Jeruk nipis atau limau dan jagung manis juga tercatat memberikan andil terhadap kenaikan harga pada Oktober 2026, masing-masing sebesar 0,01 persen.

Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan, pergerakan harga sejumlah bahan pangan menunjukkan kenaikan cukup tajam pada periode September-Oktober, terutama pada komoditas cabai dan daging ayam ras.

Cabai rawit merah mencatat lonjakan tertinggi sebesar 28,03 persen, dari Rp63.681 menjadi Rp81.528. Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting sebesar 19,76 persen, dari Rp43.675 menjadi Rp52.304, serta cabai merah besar sebesar 8,22 persen, dari Rp42.479 menjadi Rp45.972.

Daging ayam ras turut mengalami kenaikan harga sebesar 11,40 persen, dari Rp28.996 menjadi Rp32.302. Sementara harga telur ayam ras bertambah 3,01 persen, dari Rp25.015 menjadi Rp25.769.

Pada komoditas kebutuhan pokok lainnya, gula pasir curah mengalami kenaikan 1,23 persen dari Rp18.030 menjadi Rp18.251. Harga minyak goreng sawit curah bergerak naik 0,12 persen, dari Rp18.658 menjadi Rp18.681. Adapun beras medium mencatat kenaikan paling rendah, yakni 0,05 persen, dari Rp13.326 menjadi Rp13.333.

Kenaikan sejumlah bahan pangan tersebut memperlihatkan tekanan harga masih terkonsentrasi pada komoditas tertentu, terutama cabai dan sumber protein hewani. Sementara komoditas pokok lainnya cenderung mengalami perubahan harga yang lebih terbatas.

 

Penulis: Syamsi Nur Fadhila

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua