News

Curhat di Grup WhatsApp, Doktor Tanti dan Puluhan Dosen UIN Dijerat UU ITE

Curhat di Grup WhatsApp, Doktor Tanti dan Puluhan Dosen UIN Dijerat UU ITE

Kabar Makassar --- Gara-gara chatting di grup WhatsApp dosen sekaligus pimpinan Laboratorium Radio kampus, Doktor Irwanti Said dilaporkan ke aparat kepolisian oleh Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar.

Uniknya bukan hanya doktor Tanti, 41 anggota grup WhatsApp juga akan diperiksa polisi, sejauh ini sudah 16 dosen yg diperiksa di Mapolres Gowa, Sulawesi Selatan.

Kejadiannya bermula saat WD III, Nursyamsiah Yunus Teken melaporkan ujaran Irwanti Said (Tanti) yang merupakan seorang dosen dan menjadi pimpinan di Laboratorium Radio Kampus UIN Alauddin pada grup WhatsApp "Save FDK".

Nusyamsiah tidak hanya melaporkan ujaran Tanti pada grup WhatsApp tapi juga menutup laboratorium radio dan menyuruh para crew untuk meninggalkan studio.

"Kejadiannya itu tanggal 5 Mei 2017 lalu, ia datang dengan semena-mena dan merusak bagan struktural kami di studio, lalu ia menyuruh anak-anak saya (mahasiswa) yang ada di studio saat itu untuk meninggalkan studio. Dan dengan sikap sinis ia mengambil kunci dan menutup studio sehingga sejak tanggal 5 Mei itu sampai 3 Juli ini kami tidak bisa melakukan on air," kata Tanti.

Lebih lanjut Tanti menjelaskan, didalam grup WhatsApp yang beranggotakan 41 orang, terdiri dari mahasiswa dan dosen FDK itu, tidak ada percakapan dengan unsur menghina namun lebih kepada memberi solusi dengan menggunakan kalimat "edisi curhat".

"Pada percakapan itu tidak ada maksud untuk melakukan ujaran kebencian tapi lebih kepada solusi terkait kejadian penutupan radio kami itu," jelasnya.

Hari ini Doktor Tanti bersama sejumlah aktifis yang tergabung dalam Koalisi #SaveDosenTanti, memenuhi panggilan pemeriksaan di Polrestabes Gowa atas laporan WD III.

Koalisi ini diantaranya: Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Berekspresi (KPJKB), LBH Makassar, LBH APIK, LBH Pers, dan Anti Corruption Committee.

"Hari ini saya memenuhi panggilan pemeriksaan di Polresta Gowa," kata Ibu Tanti kepada KabarMakassar.com, di Polres Gowa. Selasa, 25 Juli 2017.

Aktivis KPJKB Herwin Bahar yang mendampingi proses hukum yang menimpa Tanti berharap agar kasus ITE seperti ini tidak ada lagi.

"Kasus UU ITE ini banyak yang menjadi korban, kita berharap agar kedepannya tidak ada lagi karena kasus seperti ini masih bisa untuk di rundingkan dulu tanpa harus langsung menuju proses hukum. Sebaiknya juga jika aparat kepolisian mengedepankan mediasi. Selain itu, masyarakat juga harus lebih bijak dalam menggunakan sosial media," jelasnya.

Aziz Ladumpa dari LBH Makassar, berharap polisi bisa membuka kasus ini secara transparan. "Kami akan mendampingi Ibu tanti selaku korban UU ITE," kata Aziz.

Sejauh ini sudah puluhan pengacara yang siap mendampingi kasus pertama dimana semua anggota grup WhatsApp dilapor ke polisi.

Foto: Doktor Tanti, Dosen UIN yang dilaporkan Perkara ITE

Arini Wulandari

Journalist

Aktifis mahasiswi ini mulai aktif menulis sejak 2014 lalu. Kemampuan komunikasi personalnya di ekspresikan dalam bentuk karya jurnalistik.

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close