Berjuang Melawan Kekerasan Anak Melalui Sastra

Ilustrasi (Foto: Google)

KabarMakassar.com — Terlibat aktif dalam dunia sastra tidak mengurungkan niat dan kemampuan penyair ini untuk ikut berjuang dalam melawan kekerasan pada anak.

M. Yulanwar lahir di Makassar pada 1 Mei 1971, telah terlibat aktif dalam dunia sastra dengan memulai karirnya sebagai penulis puisi sejak SMP hingga saat ini.

Diwawancarai khusus oleh Tim Redaksi KabarMakassar.com, Yulanwar yang mencintai fotografi sekaligus sastra ini mengatakan bahwa sastra sebagai seni sangat penting membantu melihat permasalahan kekerasan pada anak

M. yulanwar ikut aktif dalam membantu penyair Sulsel dalam terlibat aktif melawan kekerasan pada anak, bersama dengan kawan lamanya yaitu Ketua Lembaga Perlindungan Anak Sulsel, Fadiah Mahmud .

Baca juga :   Founder Polmark Indonesia Bahas Demokrasi

“Saya ikut membantu Fadiah terkait buku kumpulan puisi tentang anak, dari sisi penyair sangat penting penyair lokal terlibat dalam isu anak. karena seni mempunyai peran penting dalam membantu melihat sebuah permasalahan secara lembut, apalagi kasus anak,” ungkap penulis buku puisi berjudul “Sembunyi” ini.

Yulanwar juga menambahkan seni merupakan puncak ilmu, sehingga melalui seni kita dapat melihat kasus lebih mendalam dan tenang.

“Puncak ilmu itu muara ke puisi, puisi meneduhkan perasaan, puisi juga sisi lain bentuk perlawanan, penyair yang berperan sebagai orang tua maupun anak pasti dididik teduh dan lembut melalui seni, banyak pemimpin yang tidak suka seni cenderung kasar,” ungkapnya.

Baca juga :   Foto: Kasihan, Hewan Langka Ini Diselundupkan ke Makassar

Yulanwar mengatakan kekerasan pada anak salah satunya bersifat verbal, sehingga perjuangan yang dibutuhkan harus bersifat mengajarkan kelembutan dan ketenangan. salah satu karya sastra Yulanwar yang dimuat dalam buku Berkaca pada kata menggambarkan pentingnya pengetahuan mengenai kelembutan hati dan sikap.

“Salah satu karya saya menggambarkan anak saya sendiri, dia ultah tapi saya tidak bisa belikan kue ultah yang dia inginkan, namun saya berjanji meninggalkan nama yang paling bagus untuknya agar bangga sebagai anak, meninggalkan nama baik bagi masyarkat, hal ini yang luput dari pemikiran orang para koruptor yang tidak memikirkan telah meninggalkan nama buruk bagi anaknya,” katanya

Baca juga :   Kemenhub Kembali Gelar FGD ke Tiga

Lama berkecimpung sebagai wartawan juga membantu Yulanwar melihat perbedaan zaman dalam mendidik anak. Yulanwar mengatakan bahwa masyarakat harus mengerahui perlakuan dalam mendidikn anak anak sudah berbeda zaman, orang tua dituntut untuk memperkaya cara dalam mendidik.

M. Yulanwar untuk saat ini sedang berfokus pada literasi dan aktif terlibat dalam desain karya sastra termasuk karya sastra yang memperjuangan hak asasi manusia.(*)

Penulis: Muhammad Fajar Nur