kabarbursa.com
kabarbursa.com

Inflasi Tahunan Sulsel Tembus 6,13 Persen, Sidrap Tertinggi

Inflasi Tahunan Sulsel Tembus 6,13 Persen, Sidrap Tertinggi
Ilustrasi Inflasi (Dok : KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan melaporkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 6,13 persen pada Februari 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulawesi Selatan tercatat sebesar 110,93.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan Februari 2025. Secara agregat, tekanan inflasi masih didorong kelompok pengeluaran strategis yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Kepala BPS Sulsel Aryanto dalam keterangan resminya menjelaskan capaian inflasi tahunan tersebut. Ia menegaskan angka inflasi yang terjadi pada Februari berada pada level 6 persen lebih.

“Pada Februari 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 6,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,93,” ungkap Aryanto, Senin (2/3).

Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 7,54 persen dengan IHK 109,37. Sementara inflasi terendah tercatat di Kota Palopo sebesar 5,14 persen dengan IHK 109,55.

Kabupaten Bulukumba mencatat inflasi 5,47 persen dengan IHK 109,52. Watampone mengalami inflasi 5,87 persen dengan IHK 109,70, sedangkan Kabupaten Wajo 5,61 persen dengan IHK 111,33.

Kabupaten Luwu Timur mencatat inflasi 5,86 persen dengan IHK 111,39. Untuk wilayah perkotaan, Kota Makassar mengalami inflasi 6,23 persen dengan IHK 111,23, sementara Kota Parepare 5,95 persen dengan IHK 111,93.

BPS mencatat inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 6,48 persen, sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga melonjak 18,57 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi tinggi sebesar 18,60 persen. Sementara kelompok kesehatan 1,94 persen, transportasi 0,42 persen, rekreasi 0,81 persen, pendidikan 1,04 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,18 persen.

Sebaliknya, tiga kelompok pengeluaran mengalami deflasi tahunan. Kelompok pakaian dan alas kaki turun 0,58 persen, perlengkapan rumah tangga turun 0,31 persen, dan informasi, komunikasi, serta jasa keuangan turun 0,23 persen.

Dari sisi kontribusi, kelompok makanan, minuman dan tembakau menyumbang 2,02 persen terhadap inflasi y-on-y. Kelompok perumahan menyumbang 2,36 persen dan perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 1,50 persen.

Aryanto menjelaskan bahwa inflasi tahunan terjadi karena kenaikan indeks pada berbagai kelompok pengeluaran. Ia menekankan bahwa tekanan harga terlihat merata di sejumlah sektor utama.

“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran,” sebutnya.

Komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain tarif listrik sebesar 2,27 persen dan emas perhiasan 1,40 persen. Selain itu, beras, daging ayam ras, telur ayam ras, udang basah, serta sejumlah komoditas ikan juga memberi andil signifikan.