News

Barazanji diantara Garis Akulturasi Agama dan Kepercayaan Adat

Barazanji diantara Garis Akulturasi Agama dan Kepercayaan Adat

Kabar Makassar--- Bearagam suku dan ras yang berada di kepulauan Indonesia menghasilkan kebudayaan yang beragam yang masih bisa kita jumpai sampai sekarang. Mengangkat tema tentang tradisi yang ada di Indonesia tentu tidak terlepas dari pengaruh budaya leluhur. Tapi setelah penyebaran Islam di nusantara, terjadi alkuturasi antara tradisi masyarakat adat dengan Islam.

Salah satu bentuk akulturasi yang ada di Sulawesi Selatan yang bertahan sampai sekarang adalah pembacaan kitab Barzanji atau Barasanji. Pembacaan kitab ini umumnya dilakukan di berbagai kesempatan besar sebagai sebuah pengharapan untuk pencapaian sesuatu yang lebih baik. Acara pernikahan, khitanan, aqiqahan, muharram, maulid Nabi Muhammad SAW, bahkan sampai perayaan Idul Fitri yang dimaksudkan untuk keselamatan arwah sanak keluarga yang telah meninggal masih sering dijumpai.

Bagi masyarakat Bugis, mereka memahami Barzanji sebagai sesuatu yang sakral dan “wajib” dilakukan ketika melaksanakan suatu upacara adat. Tanpa Barzanji suatu upacara adat dikatakan belum sempurna. Barzanji merupakan penyempurna dari upacara adat yang mereka lakukan.

Nama kitab ini diambil dari nama pengarangnya yaitu Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Karya tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd al-Jawahir (Bahasa Arab, artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, meskipun kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

Islam masuk ke Sulawesi Selatan dengan cara yang sangat santun dan menghormati kebudayaan serta tradisi masyarakat Bugis-Makassar. Terbukti dengan dalam tradisi-tradisi keislaman yang berkembang di Sulawesi Selatan hingga kini. Maka dari itu, budaya barazanji yang ada pada masyarakat bugis sulit akan pudar dalam kebudayaan dan keseharian masyarakat khususnya bugis Makassar.

Tidak hanya sebagai pengagungan dan muara hikmah semata, bagi masyarakat Bugis Makassar, Barazanji adalah pemersatu umat. Barzanji merupakan alat yang efektif untuk mengumpulkan umat Islam.

Di masjid-masjid umumnya orang-orang duduk bersimpuh dan membuat formasi lingkaran. Lalu seseorang akan membacakan Barzanji, yang pada bagian tertentu direspon dengan sahutan khusyuk oleh jemaah lainnya secara bersamaan. Hal ini membuktikan kekompakan dan persatuan yang kokoh dalam sebuah harmoni keagamaan.

Penulis: Rahmat Latang Reppa
Editor: Dim
Ket. Foto: sumberpandan.com. [Int.]

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close