Bandara Bali Tutup, Travel Agen Sulsel Merugi

Ketua DPD Asosiasi Travel Agen (ASITA) Sulawesi Selatan Didi Leonardo Manaba

KabarMakassar, — Penutupan bandara Ngurah Rai, Bali akibat erupsi abu vulkanik Gunung Agung ternyata berdampak buruk bagi industri jasa perjalanan wisata atau agen travel di Sulawesi Selatan.

Ketua DPD Asosiasi Travel Agen (ASITA) Sulawesi Selatan Didi Leonardo Manaba mengeluhkan penutupan ini menyebabkan travel agen terancam merugi sekitar 15 – 20 persen.

“Banyak travel agent mengalami kerugian karena melalukan transaksinya jauh hari sebelum penutupan bandara bali. Ini diluar perhitungan bisnis, bukan isu tapi bencana,” ucap Didi

Pria yang akrab disapa Dilema ini menjelaskan penutupan ini memberikan dampak kurang baik bagi seluruh industri. Bandara Ngurah Rai menjadi salah satu main gate Indonesia untuk pasar wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca juga :   Polda Sulsel-KPPU Sidak Pasar Tradisional

“Kita tahu sendiri Bali ini gate utama. Banyak bandara yang bergantung dengan penerbangan dari dan tujuan bandara Ngurah Rai sebagai gate internasional,” ucapnya

Meskipun, lanjutnya ada main gate internasional lain yang cukup potensial seperti Jakarta , Malaysia dan Singapura . “Tapi Bali salah satu main gate yang terbesar di Asia dan sangat berpengaruh. Penutupan ini murni faktor alam. Bukan isu semata,” keluhnya.

Dia mengharapkan ada langkah antisipasi dan solusi dari pemerintah setempat untuk menjaga arus kunjungan wisatawan khususnya mancanegara. “Mari kita berdoa bersama semoga bencana berlalu dan lalu lintas udara kembali terbuka,” ungkapnya.

Baca juga :   1.300 Koperasi Akan Ditindak di Sulsel

Pemilik Iramasuka Tour and Travel ini menilai kondisi ini membuka peluang bagi destinasi yang dilalui wisatawan yang akan mengalihkan jalur transportasi melalui darat atau laut.

“Ini akan menjadi keuntungan daerah lain seperti Banyuwangi , Surabaya dan daerah lain yang akan dilintasi oleh para wisatawan. Jalur alternatif yang mereka lewati itu akan membuka referensi bagi wisatawan lainnya untuk melihat sisi Indonesia yang lain,” tutupnya

“Kita tidak semata berpikir di industri pariwisata. Kita keluar dulu dari ranah bisnis. Kita harus masuk ke jalur sosial dan kemanusiaan. Kita harus menyikapi tamu dengan bijak dan menawarkan jalur.alternatif lain,” ungkapnya.

Baca juga :   Hari Santri, Legislator NasDem Protes Studio XXI

Didi menambahkan pihak ASITA berencana akan menggelar program ASITA Peduli dengan mengumpulkan dan mengirimkan bantuan secara nasional untuk meringankan kerugian yang diperoleh akibat erupsi Gunung Agung.(*/Mfn)

Penulis: Andi Lasinrang