Andi, Awalnya Panggilan Kesayangan Anak Raja

Andi, Awalnya Panggilan Kesayangan Anak Raja
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kabar Makassar — Harian Pedoman Rakyat edisi 26 Juli 1966 menyiarkan berita tidak biasa. Dikutip dari Antara Bandung, media yang terbit 1 Maret 1947 dan ‘tewas’ per Oktober 2007 menyiarkan berita yang tentu – kalau sekarang – sangat menghebohkan.

“Beberapa mahasiswa anggota Ikatan Kekeluargaan Organisasi Mahasiswa Indonesia (IKOMI) Sulawesi Selatan Tenggara (Sulselra) yang ‘masih berketurunan bangsawan’’ telah menanggalkan gelar Andi di depan namanya sebagai gelar kebangsawanan atas dasar kesadaran sendiri. Peristiwa itu terjadi sewaktu mahasiswa Sulselra seluruh Jawa mengadakan musyawarah di Kota Malang pada Juli 1966 itu”. Kutipan ini saya ambil dari buku berjudul Takutlah pada Orang Jujur yang ditulis mendiang Hamzah Daeng (HD) Mangemba yang diterbitkan tahun 2002 atas kerja sama Lembaga Penerbitan Unhas (Lephas) dengan Pustaka Pelajar Yogyakarta. Buku setebal 325 halaman itu saya sunting bersama Hasrullah (kini, Dr. dan M.A.).

Di dalam buku itu dijelaskan, perkataan Andi sebagai gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan sebenarnya mulai dikenal pada abad XX. Sebelum itu, kata “Andi” memiliki pengertian “adik” saja, Di dalam masyarakat kita (Sulawesi Selatan) pengertian kata Andi bermakna “adik” dan “gelar kehormatan”. Dalam masyarakat Bugis, kata Andi hanya memiliki pengertian tunggal, “gelar kebangsawanan”. Sebab kata “adik” dalam bahasa Bugis adalah anrik.

Pertanyaannya, bagaimana proses dari pengertian “adik” menjadi “gelar kebangsawanan”? Hal itu, menurut Mangemba di dalam buku tersebut, disebabkan, pada mulanya hanya sebagai panggilan ‘’kesayangan’’ kepada anak-anak raja (kaum bangsawan). Lama kelamaan panggilan itu mengandung pengertian sebagai panggilan kebangsawanan.

Jadi, kata Andi mengalami kemajuan dalam perkembangannya. Kemungkinan lainnya, kata Andi sama pengertiannya dengan tondi dalam bahasa Batak, yang oleh Prof.Dr.Ph.O.L.Tobing, dimaknakan ‘manusia luar biasa’’, yaitu berasal akar kata to+ndi. Kedudukan tondi bagi orang Batak sama dengan semangak bagi orang Makassar, dan mana bagi orang-orang dari Kepulauan Melanesia. Mereka yang kuat tondi-nya adalah orang-orang yang luar biasa kemampuannya. Jadi tondi bukan hanya berarti ‘’jiwa’’, melainkan lebih daripada itu, manusia itu sendiri.

Di dalam bahasa Sansekerta dikenal kata adhi yang dekat ucapannya dengan kata Andi. Kata adhi berarti super (above on, di atas). Kata Sansekerta lainnya adhika, berarti unggul.

Di dalam bahasa Jawa Kuno terdapat kata ari, yang kemudian menjadi adi, yang berarti ‘’adik’’. Perkataan rari terdiri atas ra+ari, yang berarti ‘’adik’’. Prefiks ra sebagai penghormatan atau honorifiks. Jadi rari mempunyai pengertian ‘’adik yang dihormati’’, sama pengertiannya dengan kata andika. Andika (dalam bahasa Makassar) boleh berarti adik kita, dan boleh pula berarti adik yang unggul, yang mempunyai keluarbiasaan. Keluarbiasaan itu dimiliki karena dia mempunyai benda-benda sakti (magis) yang tidak dimiliki orang lain. Lantaran kaum bangsawan mempunyai ‘’keluarbiasaan’’ dari manusia-manusia lainnya, maka diberi gelar Andi.

Dari segi sejarah

Supaya lengkap catatan tentang kata Andi ini, ada baiknya diungkap dari sisi sejarahnya. Kata Andi sebagai gelar bangsawan belum begitu lama usianya. Di Gowa, Tumanurunga sebagai raja Gowa yang pertama sampai kepada raja Gowa XXXIV belum ada yang bergelar Andi di depan namanya. Raja Gowa XXXIII yang berperang melawan Belanda pada tahun 1905-1906 bernama I Makkulau Daeng Parani Karaeng Lembangparang Sultan Muhammad Husain. Dia pun digelari Karaeng Hanga (Tummenanga) ri Bundukna, karena gugur dalam pertempuran dan tidak diketahui tempat makamnya. Ada juga yang mengatakan, Belanda mengantar jenazahnya ke Gowa dan dikebumikan di dalam pekarangan Masjid Jongaya.

Raja Gowa XXXIV (1937-1946) bernama I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompok Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin, dilantik menjadi raja Februari 1937 dan mangkat di Sungguminasa 3 April 1946.

Di Bone pun demikian. Mulai Tumanurunge ri Matajang sebagai raja I Bone sampai kepada raja Bone yang berperang melawan Belanda pada tahun 1903 belum ada yang bergelar Andi di depan namanya. Nama raja Bone yang berperang melawan Belanda pada tahun 1905 ialah La Pawawoi Karaeng Segeri.
Di Luwu, pada tahun 1905 ratu (raja wanita) yang berperang melawan Belanda bernama We Kamba Daeng Risompa.
Dari ketiga kerajaan besar di Sulawesi Selatan ini yang lazim disebut Tellu Boccoe (tiga besar) hingga tahun 1905 belum didapati kata Andi di depan nama para rajanya sebagai gelar kebangsawanan.

Di dalam Volksamanak Melajoe (1927, hlm 136) dijumpai nama-nama raja di Sulawesi Selatan dan Tenggara sbb: Siti Saenaba Aru Lapayung (Soppeng), I Jonjo Karaeng Lembangparang (Barru), La Madiewe (Soppengriaja), I Pancai Tanah Aru Pancana (Tanete, Barru), La Cibu (Sidenreng), E.Tenri (Rappang), I Makung (Mallusetasi), La Parenrengi Karaeng Tinggimae (Supa), I Baeda (Sawitto), I Coma (Batulapa), I Bua Bara (Kasa) La Cori (Maiwa), Patta Achmad (Enrekang), La Parang Barana Lolo (Maluwa, Enrekang), Bangon (Bontobaru), La Wello Iyena Banti (Alla, Enrekang), We Kambo Daeng Risompa (Luwu), Rammang Patta Lolo (Majene), Andi Batara wakil sementara Tonra Lipu masih kecil (Pamboang), Pawelloe (Cenrana), Laju Kakanna I Doro (Balangnipa), La Paenrongi (Binuang), Jalalu Amanna Inda (Mamuju), Bustari Patana Lantang (Tapalang), Laode Hamidi (Butung), dan Sao-Sao (Laiwui).

Ketika itu kekuasaan para raja terhadap rakyatnya masih sangat besar. Di Bone, sebagai pemerintah buat sementara dipegang oleh Hadat Bone, karena belum ada Mangkau (raja) dilantik, sementara di Wajo pada waktu itu belum ada diangkat seorang Arung Matoa. Di Pamboang, Majene, berhubung karena Tonra Lipu yang seharusnya diangkat menjadi raja masih kecil, maka diwakili sementara oleh Andi Batara.

Berdasarkan keterangan tersebut, kata Andi sebagai gelar kebangsawanan barulah muncul kira-kira abad XX, yaitu sesudah seluruh Sulawesi Selatan dengan resmi masuk ke lingkungan pemerintahan Hindia Belanda yang berpusat di Betawi (Jakarta).

Menurut Mangemba, dalam sejarah perkembangannya, gelar Andi mengalami pasang surut dan pasang naik. Tatkala Andi Azis memberontak 5 April 1950, saat menggeloranya semangat kebangsaan dan pro-Republik Indonesia di Makassar dalam bingkai negara Republik Indonesia Serikat (RIS), sebagai akibat tindakan Andi Azis, ketika itu gelar Andi mengalami ‘’nilai kurang’’ Barulah 5-6 tahun kemudian mengalami pasang naik ketika beberapa kedudukan penting di bidang militer dan sipil di Sulawesi Selatan dipegang oleh para pejabat yang bertitel Andi.

Pada waktu itu di dalam masyarakat Sulawesi Selatan nilai pribadi seseorang mulai kembali dilihat pada golongan Andi atau bukan. Tidaklah mengherankan bila orang-orang yang menganggap dirinya juga turunan bangsawan dan belum memakai gelar Andi, segera membubuhi gelar Andi di depan namanya. Terjadilah seseorang yang orangtuanya belum mendapat panggilan Andi tiba-tiba si anak itu telah dipanggil dengan sapaan Andi Anu.
Sebagai ilustrasi, Amir Hamzah menjadi Andi Hamzah, Abdul Latif menjadi Andi Latif, Abu Hamid menjadi Andi Hamid, Ahmad Dahlan menjadi Andi Dahlan, dan sebagainya.

Ada juga aliran yang dianut oleh orang-orang Sulawesi Selatan yang merantau dan bermukim di daerah lain, membubuhi gelar Andi di muka namanya, sebagai petanda ia berasal dari Sulawesi Selatan. Fungsi Andi di depan namanya lebih sebagai tanda pengenal asal daerah, sehingga tidak heran seseorang yang di Sulawesi Selatan dikenal dengan nama si anu tiba-tiba di daerah rantau bernama Andi Anu.
Namun yang sangat kontras adalah terdapat beberapa orang yang dikenal sebagai turunan bangsawan tinggi di Sulawesi Selatan, justru tidak menuliskan gelar Andi di depan namanya.

Begitulah sejarah perkembangan gelar Andi dari waktu ke waktu. Bahkan sekarang, perkembangan kata Andi sudah menembus batas negara dan dikenal di ranah global. Kita kemudian mengenal beberapa nama yang menggunakan nama depan Andy (kalau diucapkan nama dengan ucapan pada Andi). Sebut saja bintang film Mandarin kelahiran Hong Kong 27 September 1961, Andy Lau.

Masih ada pemain bola kesebelasan Arsenal dan terakhir di kesebelasan Nottingham Forest, kelahiran Inggris, 15 Oktober 1971, yang bernama asli Andrew Alexander Cole. Mungkin namanya terlalu panjang, biar singkat dan mudah diingat, dia kemudian lebih kondang dengan sapaan Andy Cole.  Di Amerika pun ada. Seorang bintang penyanyi dan aktor kelahiran 3 Desember 1927 dan meninggal dunia 25 September 2012, pun dikenal dengan nama Andy Williams.

Ini sekadar contoh saja. Apakah ini imbas dari penggunaan gelar Andi di Sulawesi Selatan atau kata itu sendiri yang go international? Entahlah! [MDA]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.