News

Ancaman Besar Narkoba di Kalangan Pekerja

Ancaman Besar Narkoba di Kalangan Pekerja

Kabar Makassar ------ Ancaman besar Narkoba di kalangan pekerja juga terlihat dari data peningkatan jumlah tangkapan tersangka kasus Narkoba yang berstatus pekerja. Hasil penelitian BNN, kerjasama dengan Puslitkes, Universitas Indonesia menunjukkan angka prevalensi pernah pakai Narkoba naik dari 12,7% (tahun 2009) menjadi 13,8% (2012) dalam tiga tahun terakhir.

Hasil studi di negara lain memperlihatkan angka penyalahgunaan di kalangan pekerja kisarannya hampir sama ,angka penyalahgunaan setahun terakhir 14% pekerja menyalahgunakan Narkoba di USA, 17 % pekerja di Australia dan 10%-13% pekerja di Inggris.

Pekerja yang berisikotinggimenyalahgunakanNarkoba adalahlaki-laki, namun angka prevalensi pernah pakai pada kelompok perempuan naik secara signifikan, bujangan. hidup berpisah (cerai), tinggal tidak bersama keluarga terutama di rumah kost atau apartemen. Pekerja yang tinggal di kost prevalensi lebih tinggi (6,8%) dibandingkan pekerja tidak kost (2,1%).

Pekerja di sektor lapangan usaha konstruksi, pertambangan dan jasa kemasyarakatan dan sosial, lebih rentan terhadap penylahgunaan Narkoba dibanding pekerja di sektor lain. Kenaikan tertinggi pada sektor jasa kemasyarakatan dan sosial dari 5,4% (2009) menjadi 9.8% (2012) disebabkan adanya kontribusi dari sub-sektor kesehatan, yang pada tahun 2009, sub-sektor ini tidak tersurvei. Ganja masih jenis Narkoba yang paling banyak disalahgunakan di kalangan pekerja, diikuti dextro (saat ini paling diminati oleh pekerja perempuan), ekstasi, shabu, codein dan analgesik.

Penyalahgunaan Narkoba pada pekerja berdampak negatif terhadap kesehatan dan produktivitas. Laporan ILO menunjukkan bahwa lebih dari 40% kecelakaan kerja berkaitan dengan penyalahgunaan Narkoba dan minuman keras. Kasus kecelakaan terkenal karena penyalahgunaan Narkoba adalah kecelakaan pesawat terbang Nimitz, tabrakan kereta api di Maryland, Amerika Serikat, kecelakaan tumpahan minyak tanker Exxon di Alaska, Amerika Serikat.

Karyawan dengan ketergantungan Narkoba dan alkohol menuntut tiga kali lipat tunjangan kesehatan dan biaya lembur serta mencatat peningkatan ketidakhadiran sebesar 2-3 kali lipat dan 5 kali lipatbiaya kompensasi kesehatan.
Tempat kerja perlu melakukan kegiatan pencegahan penyalahgunaan Narkoba. Perlu disadari bahwa pencegahan itu is goodbusiness. Kalau pekerja sehat dan bebas dari Narkoba maka produktivitas kerjaakan meningkat, keselamatandan keamanan pekerja membaik, motivasimeningkat; dan corporate imagemeningkat.

Oleh karena itu, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah berusaha mengeluarkan Peraturan Menteri No. 11/MEN/VI/tahun 2005 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya di tempat kerja. Pengusaha wajib melakukan upaya aktif pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di tempat kerja dalam bentuk:Penetapan kebijakan di tempat kerja;Penyusunan dan pelaksanaan program dengan melibatkan pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, pihak ketiga atau ahli di bidang pencegahan dan penanggulangan Narkoba; Pelaksanaan program seperti penyuluhan, pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan pekerja/buruh tentang bahaya Narkoba; Pengembangan program bantuan konsultasi bagi pekerja atau buruh, pelaksanaan tes urine bagi pekerja atau buruh.

Pencegahan di tempat kerja seharusnya diawali dengan penetapan kebijakan yang jelas dan komprehensif meliputi: alasan dan tujuan penyusunan kebijakan; jenis pelanggaran, (sepertipenggunaan, pemilikan, jual-beli), lingkup jenis Narkoba yang dilarang di tempat kerja (alkohol, rokok, narkotik,obat psikotropika dll) Tindakan pelanggaran kebijakan (sanksi); posisiperusahaantentangtesNarkoba (Siapa yang di tes, Jenis Narkoba yang di tes, kapan dan berapa kali testing dilaksanakan. tindakan yang dilakukan bila tespositif) dan programpencegahan yang dilaksanakan seperti pelatihan, pendidikandaninformasibagimanagers, supervisors, dan pegawai.

Diperlukan pelaksanaan program pencegahan di tempat kerja seperti, kampanye, penyuluhan, pendidikan dan pelatihan. Materi program pendidikan dan penyuluhan meliputi antara lain : hukumdan perundang-undang penyalahgunaan Narkoba, faktor risiko dan faktor pelindung berkaitan dengan penyalahgunaan Narkoba, peningkatan keterampilan sosial seperti berkomunikasi yang baik, cara membuat keputusan yang baik, resistance skills, stress management, parenting skills, dampak buruk penyalahgunaan Narkoba, dan strategi pencegahan di tempat kerja.

Badan Narkotika Nasional sudah mulai bekerjasama dengan perusahaan dan tempat kerja lain untuk melaksanakan program pemberdayaan tempat kerja bertujuan menggerakkansemua lingkungan kerja, baik pemerintah maupun swasta agar berperan aktif dalam upaya mencegah penyalahgunaan Narkoba sehinggamampumenanggulangimasalahpenyalahgunaanNarkobasendiri. (adv)

 

BNNP Sulsel
Editor : Marwah

Redaksi

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close