Alita Karen, Membantu Sesama Berkat Amanah Orangtua

Kabar Makassar — “Kenapa kalau kita bisa bantu, kita diam,” itulah singgungan Alita Karen, Staf Advokasi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) wilayah Sulawesi Selatan saat ditemuiKabarmakassar.com.

Salah seorang perempuan yang mengabdikan diri untuk kegiatan sosial ini sejak kecil berkat motivasi orangtuanya yang mengajarkan untuk selalu membantu siapapun. Hingga saat ini.

Bermula ketika ia masih bekerja di Kendari, Sulawesi Tenggara. Perempuan beranak tiga ini turut mendampingi anak-anak dan buruh transmigran di sela ia bekerja. Kala itu, desa yang ia datangi merupakan salah satu desa tertinggal, dimana jika ingin bersekolah harus menempuh jarak sangat jauh.

“Di situ saya mulai tertarik,” terang Ita sapaan akrab Alita Karen.

Berbicara menngenai kerja sosial, kata Ita, ia selalu akan membantu siapapun berdasarkan pengetahuan yang ia miliki. Sehingga setahun setelah tinggal di Kota Makassar, Ita langsung dipercayakan menjadi Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya dimana ia turut terlibat secara langsung untuk melihat masalah sosial di bawah.

“Dari ketua RT, saya dipanggil untuk pendampingan anak-anak jalanan. Mereka diistilahkan anak jalanan. Tapi sebenarnya orangtua tidak mampu, sehingga mereka banyak menghabiskan waktu untuk mencari uang di jalan di Mariso banyak. Kaum Marjinal kemudian anaknya harus mencari uang. Mulai dari kerja serabutan di pasar, jadi pengamen, dan akhirnya mereka mulai menghisap lem. Itu yang betul akhirnya saya pikir harus ada lembaga yang menjadi naungan untuk bisa berbuat lebih banyak dibanding bekerja sendiri,” katanya.

Baca juga :   Kesederhanaan Danny Pomanto dan Ahmadinejad

Berdasarkan pengalamannya itulah, Ita kemudian dipanggil untuk bergabung di Biro Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) Sulawesi Selatan pada tahun 2002-2003 sebagai motivator, fasilitator, dan pendampingan bagi para penyalahguna NAPZA. Dari situlah, Ita lalu fokus untuk mengabdikan diri melakukan pekerjaan sosial.

Selain itu, perempuan kelahiran tahun 1971 ini bergabung sebagai relawan (Volunteer, red) diSolidaritas Perempuan Anging Mammiri (SPAM) untuk membantu meningkatkan kualitas para anggota. Di tahun 2005, Ita kemudian bergabung dengan KPI Wilayah Sulawesi Selatan.

“Sebelum menjadi Staf Advokasi (jabatan saat ini), saya punya program di Gowa, tentang peduli disabilitas, jadi pendekatan ke teman disabilitas itu kita punya program di dua desa program percontohan Barembeng dan Pakatto yang boleh dibilang berhasil, karena kami berhasil memasukkan semua kebutuhan disabilas ke Renstra (rencana strategis). Mau itu di desa maupun di kabupaten,” lanjut Ita.

Baca juga :   In Memoriam Wartawan M.Dahlan Kadir , "Pernah Pegang Janggut Kahar Mudzakkar"

Sejak saat itu, ia menghabiskan waktu selama dua tahun menjalankan program peduli disabilitas dari Makassar ke Gowa untuk penguatan kapasitas dan telah berhasil dijalankan sampai saat ini.

“Saya menganggap berhasil, karena selama ini orang di Gowa mereka tidak pernah menganggap disabilitas. Nanti setelah kami (KPI) masuk, saya bicara dengan sekda memberitahukan semua rencana kami sekda menyambut baik dan akhirnya keluarlah itu aturan, tidak boleh menyebutkan kata cacat, karena itu diartikan sebagai barang rusak,”

Sejak bergabung di KPI, Ita mengaku telah membantu dengan banyaknya program perlindungan sosial seperti pengurusan akte kelahiran anak, BPJS, raskin, dan lainnya. Namun, ia menganggap masih kurang efektif dikarenakan belum membuahkan hasil apapun. Sehingga ia bersama para sekret KPI berembuk untuk memfokuskan program yang saat ini telah berjalan, yakni Pusat Informasi Pengaduan dan Advokasi Jaminan Kesehatan Nasional (PIPA-JKN).

Baca juga :   Agus: Masa Depan Sulsel ada di Dataran Rendah

PIPA-JKN merupakan program pendampingan mengenai masalah Jaminan Kesehatan daerah yang saat ini telah ada di empat kabupaten dan kota, di antaranya Makassar, Jeneponto, Takalar, dan Bantaeng. Program ini hadir untuk membantu persoalan masyarakat menengah bawah yang mendapat hambatan saat mengakses pelayanan kesehatan.

Sementara itu, Ita berperan sebagai Staf Advokasi dimana ketika ada masalah yang berkaitan dengan masalah sosial, ia akan turun langsung untuk membantu sesuai dengan pengalaman yang ia ketahui.

Banyak cerita mengesankan pernah ia alami selama melakukan pendampingan, tidak tanggung-tanggung ia bahkan rela mengeluarkan biaya pribadi untuk transportasi demi dapat membantu sesama.

“Kalau kita bisa bantu, bantu saja. Karena tugas kita hanya membantu saja. Itu pesannya orangtua kepada saya,” tutup perempuan berdarah Ambon ini.

Sumber foto: Alita Karen

[divider sc_id=”sc597829639964″]divider-3[/divider]

[team layout=”4″ staff=”489″ sc_id=”sc314368585319″]