Aksi Kamisan Makassar, Aktifis Anak Orasi Dalam Bentuk Puisi

AKSI KAMISAN MAKASSAR

KabarMakassar.com — Aksi Kamisan Makassar akan kembali dilaksanakan pada hari kamis besok tepatnya di depan Monumen Mandala Jalan Jendral Sudirman.

Pada aksi kamisan besok akan dihadiri oleh sejumlah aktifis anak mulai dari Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel Fadiah Mahmud, Aktifis Lisan Makassar Rusdin Tompo, Maysir Yulanwar dan sejumlah aktifis lainnya akan bergabung dalam aksi Kamis, 4 Januari 2017 besok.

Rusdin Tompo mengatakan dirinya akan membawakan puisi buatannya sendiri dalam Aksi Kamisan Makassar yang akan membahas kasus-kasus anak yang sampai saat ini belum di tuntaskan. Termasuk kasus yang menimpa seorang bocah di hotel berbintang di Makassar akibar kelalaian yang tidak menyiapkan sarana publik yang ramah anak.

“Saya tidak hanya berpuisi. Sesuai dengan tema aksi kamisan, kami akan fokus pada topik Lindungi Anak Indonesia, sekaligus untuk mengingatkan kita kembali tentang peristiwa Allea Ramadhani,” ujarnya.

Sekilas Tragedi Allea Ramadhani

Kematian Allea Ramadhani bocah empat tahun masih menyisahkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Bocah perempuan ini diketahui merupakan anak tunggal pasangan Safril Biki dan Hasni Sulaimana. Safril Biki merupakan anggota keluarga Amir Biki saya (almarhum), tokoh agama yang tewas dalam Peristiwa Tanjung Priok pada 1984.

Ibu Allea, Hasni yang menjabat sebagai ketua RT di Jakarta tidak menyangka akan secepat ini kehilangan buah hatinya.

Almarhumah Allea baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota Makassar.

Putri berambut panjang ini, berangkat bersama tantenya Jaitun Sulaiman ke Kota Daeng 30 September.

Kedatangan Allea di Makassar dalam rangka acara resepsi pernikahan keluarganya. Namun keceriaan resepsi pernikahan keesokan harinya terganti menjadi isak tangis atas meninggalnya Allea.

Saat Allea tenggelam, Ibunya masih berada di Jakarta. Pasca mendengar kabar duka tersebut, Hasni kaget dan langsung bergegas menuju bandara.

Tante Allea, Jaitun menceritakan sebelum berangkat ke Makassar Allea menyempatkan diri pamit kepada neneknya.

“Cece, Alea mau pulang kampung, Allea juga diberikan boneka oleh neneknya. Allea anak yang paling disayang dalam keluarga besarnya. Setiap kali pamannya dan sepupunya datang dari Amerika dan Belanda selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama Allea. Allea juga sering dibelikan sepatu karena Allea suka sekali bergaya layaknya seorang artis,” kata Jaitun memperagakan ucapan dari almarhuma Allea, Rabu 03 Oktober lalu.

Jaitun menambahkan, Allea sering direkomendasikan menjadi artis, namun keluarga tidak mengiyakan karena Allea mau diajar terlebih dahulu sekolah lenong.

“Allea lebih akrab dengan mamatun itu panggilan Allea ke saya, dibandingkan dengan ibunya sendiri karena dari kecil Allea selalu dirawat saya,” lanjut Jaitun.

Ayah Allea Safril, bekerja di kapal. Saat Allea berangkat ke Makassar ayahnya sedang berada di laut.

“Pada saat kejadian ayahnya susah dihubungi. Sehingga ibunya yang pertama kali dihubungi dan ayahnya dihubungi langsung oleh ibunya pada saat di bandara. Ayahnya tiba di Makassar pukul 3 subuh. Setibanya di makasssar ayahnya hanya bisa duduk di samping kuburan anaknya, duduk diam termenung melihat kuburan anak satu-satunya. Ayah Allea asli gorontalo. Allea anak satu-satunya lahir di Jakarta namun dia merasa memiliki kampung halaman sehingga sudah lama dia ingin pulang kampung,” ungkap Jaitun.

Sebelum ke Makassar, Allea sempat membeli pakaian di Pasar Ular Jakarta.

“Saya tanya mau kemana cantik, dijawab mau pulang kampung, baju yang dibeli belum pakai,” cerita Jaitun.

Baca juga :   Personel Polres Ini Bantu Warga Kurang Mampu

Kini Allea sudah dimakamkan di pemakaman keluarga di Jalan Tinumbu Makassar.

Sebelumnya, Allea Ramadhani tenggelam dan meninggal di kolam renang hotel Clarion Makassar, Senin 02 Oktober kemarin.

Allea datang bersama sejumlah kerabatnya ke Makassar dan menginap sejak 30 September lalu.

Sebelum peristiwa terjadi, Allea saat itu bermain di sekitar kolam anak atau baby bersama beberapa anggota keluarganya sebelum akhirnya ditemukan berada di kolam untuk orang dewasa. (*)

Penulis Nur Marwa Yuwa