Aksara Lontara, Saksi Kebudayaan Masyarakat Sulsel

Aksara Lontara [Foto: Int.]
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kabar Makassar– Makassar merupakan suatu daerah yang memiliki bahasa daerah dengan aksara tersendiri. Keberadaan aksara ini menjadi suatu berkah dan keberuntungan tersendiri bagi masyarakat lokal, karena dari ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia tidak semuanya memiliki aksara seperti yang dimiliki oleh masyrakat Makassar.

Aksara ini adalah aksara lontara yang menjadi salah satu bukti bahwa Sulawesi Selatan memiliki kebudayaan yang tinggi. Dalam lontara, pikiran pikiran, aktifitas, dan prilaku masyarakat terekam dan terekpresi secara abadi dalam tulisan aksara lontara.

Pada awalnya Aksara Lontara bernama Lontara Toa atau Lontara Jangang-Jangang, karena bentuknya yang merupai burung (jangang-jangang). Tapi pada masa masuknya budaya islam aksara tersebut mengalami perbaikan dan penyempurnaan menjadi Lontara Bilang-Bilang sepeti yang ada hingga saat ini.

Namun, hingga saat ini tak seorang pun ahli yang menemukan siapa yang menciptakan aksara lontara tersebut.

Christian Pelras (Prancis) yang merupakan peneliti dan penulis ‘the Bugis’ (1996) menyebutkan bahwa lontara di Sulsel mempunyai persamaan dengan aksara yang ada di Sumatera, Lampung, Rejang, Batak, dan Pasemah.

Johan Hendrik Caspar Kern salah seorang ahli bahasa sansekerta berkebangsaan Belanda berpendapat bahwa aksara lontara berasal dari huruf Sanskrit yang disebut Dewanagari.

Pendapat tersebut dibenarkan oleh Prof. Ahmad Mattulada seorang budayawan Sulsel menyebutkan bahwa Daeng Pamatte seorang menjabat sebagai syahbandar dan Tumailalang (Urusan Dalam Negeri) kerjaan Gowa pada saat itu memperbaharui aksara lontara.

Aksara Lontara ini sudah ada pada abad ke XIV sebelum masuknya agama islam di Sulsel. Pada awalnya lontara di tulis pada daun lontar dengan menggunakan benda tajam sejenis pisau atau kallang tulang daun ijuk kemudian dibubuhi dengan arang yang dicamour dengan minyak atau kemiri yangn telah dibakar sampai gosong.

Itulah sebabnya sehingga disebut akasara lontara atau aksara yang ditulis diatas daun lontara.

Namun, menurut kepercayaan adat masyarakat Makassar, huruf huruf lontar dilatarbelakangi oleh suatu kepercayaan atau falsafah “Sulapa’ Appa” (Empat Persegi alam semesta) diantaranya: Butta (tanah), Je’ne (air), Anging (angin), dan Pepe’ (api).

Ada yang menyebutkan bahwa yang menciptakan huruf lontara karena berangkat dari keparcayaan tersebut. Dimana huruf huruf tersebut ditulis diatas selembar daun lontar (siwalan) sebagai pengganti kertas saat itu.

Walaupun daun lontar bukanlah satu satunya media yang dapat diajdikan bahan untuk menulis, tapi masyarakat meyakini hanya daun lontar yang tahan lama dan lebih mudah untuk disimpan.(berbagi sumber).

[divider sc_id=”sc517753607878″]divider-3[/divider]

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.