Air Mata Perjuangan Halifa Intania

KabarMakassar.com — Pemenang Duta Bandara 2016 ini telah mencapai puncak karirnya di usia 21 tahun. Berbagai prestasi yang telah diukir wanita yang dikenal dengan Halifa Intania D.T.Tobing.

Namanya cukup terkenal di dunia Instagram. Nama akunnya @halifaintania. Pemilik akun dengan followers sebanyak 31,1K ini dalam postingannya banyak di hiasi seputar kegiatannya sehari-hari.

Bakat modelling mulai terlihat sejak Halifa duduk di bangku taman kanak kanak (TK). Pernah mendapatkan juara 3 kategori cilik fashion show Busana Muslim.

Ini adalah awal dari perjalanan Halifa. Tetapi tak lantas wanita cantik kelahiran Toraja, 30 Juni 1995 ini langsung mengikuti arus modelling.

Ketika duduk di jenjang sekolah menengah pertama (SMP), Halifa malah beralih ke bidang olahraga Basket dan Pencak Silat.

Di dunia ini karakter seorang Halifah terbentuk. Prestasi yang ia dapat pun tidak tanggung-tanggung. Dirinya sempat mewakili Barru di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Dia berhasil menyabet juara ke-2.

Dari karir inilah mulai Halifa aktif di Barru Basketball Club (BBC). Sampai ke level Praporda yang menjadi pencapaian terbaik Halifa di usia yang menginjak 15 tahun kala itu.

Pada masa Sekolah Menengah Atas (SMA), Halifa kembali bergelut di dunia modelling. Pemilihan Putri Pariwisata Barruajang yang kembali diikutinya. Tahun 2013 ia mampu mencatatkan namanya sebagai juara satu.

Memasuki bangku perkuliahan, Halifa memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM). Halifa mulai mengembangkan diri bukan hanya di dunia modelling. Seni tari, Akting dan Nyanyi pun di geluti wanita yang akrab disapa “Ifa” ini.

Kerja Keras Sang Putri

Apa yang diraih Ifa ternyata tidak seperti yang kita bayangkan. Proses untuk menggapai sukses tidaklah mudah bagi anak pertama dari lima bersaudara ini.

Saat usianya masih duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri (SD) di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Ayahnya kehilangan pekerjaan dan ibunya sakit-sakitan.

Di tengah kondisi ini, Halifa harus mengambil tanggung jawab untuk membantu meringankan beban keluarga. “Ketika saya lahir. Mama dan bapak saya mulai sakit-sakitan, akhirnya ayah saya memutuskan untuk resign dari pekerjaannya,” ungkapnya

Dia  mengaku menikmati kejayaan Ayahnya hanya sampai sekolah dasar kelas dua SD pada 2001 lalu. Memasuki kelas 3, ibunya sering sakit dan ayahnya juga sering keluar rumah sakit karena terkena guna-guna.

“Jadi beban saya semakin berat karena harus mengurus adik adik saya yang masih kecil. Saya diperhadapkan untuk mengurus adik adik saya. Jadi waktu saya belajar menulis itu, sambil mengendong adik saya sampai kelas 5 SD.

Mama saya mulai sembuh itu waktu saya Kelas 2 SMA. Karena kondisinya sudah mulai sangat kurus sekali, saya mulai berfikir untuk bisa menghidupi diri saya sendiri.

Saya kembali bermain basket meskipun itu dilarang sama orang tua, mulai ikut nari juga jadi hasil dari situ mulai saya sisipkan untuk kebutuhan saya sendiri.

Keterbatasan ini ternyata membuat Halifa harus mengambil keputusan. Dirinya memutuskan untuk mandiri. Tidak membebani orang tuanya dalam urusan sekolah. Dia harus berupaya mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolah.

Selebgram Makassar Halifa Intania D. T. Tobing. Foto : Imran Arief

Kerasnya kehidupan Halifa sudah mulai rasakan ketika harus menerima kenyataan sulit.

Sedangkan mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk mendapatkan tempat tinggal baru. Di tengah kondisi yang serba sulit itu. Halifa pun memutuskan untuk tinggal di kolong rumah milik warga untuk sementara.

“Kami sudah bingung mau kemana lagi kak, makanya kita minta ijin. Pak boleh kami tinggal untuk sementara karena kita sudah bingung mau kemana soalnya mau masuk bulan puasa. Sakit loh kak rasanya angkat barang, saya lihat kasur yang masih digulung-gulung di saat orang lain sudah siap untuk sahur pertama dibulan puasa”, ungkapnya dengan isak tangis yang pecah.

Baca juga :   Mahasiswa Sibuk Demo, Polisi Ini Pungut Sampah

Dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, dirinya bersama keluarganya harus menumpang tinggal di kolong rumah orang di kampungnya. Selama tiga tahun Halifa bersama keluarganya bertahan hidup dibawah kolong rumah orang itu.

“Saya sedih melihat orangtua dan adik-adik saya yang tidur tanpa alas di kolong rumah orang. Hati ini terasa miris.

Saya hanya bisa berdoa menghadapi cobaan ini, “Yallah semoga saya bisa mengangkat derajat orang tua saya. Semoga saya bisa membuka mata orang yang telah melakukan hal ini kepada bapak saya. Dan saya berdoa semoga puasa ini akan menjadi berkah untuk saya dan keluarga saya” ucapnya sambil berderai air mata.

Dia akhirnya mengambil sikap dan berprinsip agar tetap semangat. Dirinya berjanji tidak akan membebani orang tua. Siap mengambil tanggung jawab sebagai anak pertama yang bisa membantu kedua orang tuanya.

“Biarpun uang sedikit yang diperoleh. Saya tidak mampu membiayai orang tua saya. Setidaknya saya bisa membiayai diri saya sendiri dulu, biar orang tua saya tidak merasa terbebani.

Tidak sampai disitu, air mata Halifa terus bercucuran, ketika dirinya menceritakan bagaimana kondisi ayahnya yang tidak mampu lagi membiayai sekolah Halifa di perguruan tinggi.

“Saya mau melanjutkan kuliah. Bagaimana dengan sekolah saya,” ucap Ifa saat menanyakan nasibnya ke Ayahnya.

Halifa hanya mengurut dada, ketika sang Ayah pasrah dan mengaku tak mampu membiayai uang sekolah lanjut ke perguruan tinggi.

“Kalau Allah berkehendak insyallah kamu akan kuliah nak, Bapak sudah tidak mampu untuk membiayai,” kata Ifa menirukan perkataan Ayahnya dengan suara terisak. Halifah mengaku tetap ngotot ingin melanjutkan kuliahnya “Saya ingin tetap kuliah pak. Saya mau mengangkat derajat Bapak dan keluarga,” ucap Halifa sambil mengusap air matanya.

Di tengah kondisi yang terpuruk itu, Halifa pun pasrah dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi.

Tetapi tanpa terduga keajaiban terjadi di keluarga Halifa. Di tengah kesedihan itu, tiba-tiba Halifa mendapat kabar baik dari gurunya di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Barru.

“Saya di telfon sama guru saya kak bapak Nasdir Rafli. Dia menyampaikan kalau ada beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Makassar. Akhirnya saya ambil dan nekat ke Makassar dengan modal pas-pas’an,”kata dia sambil terisak sedih.

Ternyata, cobaan hidup Halifa tidak sampai disitu. Tiba di Makassar, Halifa ternyata lupa membawa ijazah kelulusan sekolahnya. Sedangkan dirinya harus melengkapi berkas pada hari itu.”Saya panik kak, nda tahu mau berbuat apalagi. Ijazah saya ada di kampung. Sementara pihak kampus sudah mendesak saya harus melengkapi berkas beasiswa saya hari itu juga,” tuturnya dengan sedih.

Tinggal dua jam waktu untuk penyerahan berkas berakhir. “Saya coba untuk menelfon ibu saya untuk coba mencari solusi, saya menanyakan apakah ada yang ingin berangkat ke Makassar agar ijazah saya bisa dititipkan.Ternyata ibu saya hanya pasrah, karena tidak ada biaya untuk berangkat ke Makassar,” kisahnya.

Halifa pun pasrah. Di tengah penderitaannya, tiba-tiba dia teringat dengan kawan baiknya yang bernama “Awal”. Dia pun mengontak temannya itu dan ternyata dia bersedia mengantarkan ijazah Halifa. “Alhamdulillah kawan saya yang bernama Awal bersedia mengantarkan ijazah saya. Meski dia menggunakan kendaran motor ke Makassar.

Saya selalu berpegang teguh dan ingat perkataan ayah saya. Kalau memang Allah berkehendak, saya kuliah pasti bisa. Alhamdulillah saya akhirnya lulus di Universitas Negeri Makassar,” ucapnya tersedu-sedu.

Ketika memulai perkuliahan, Halifa mulai kembali menekuni dunia tari yang sempat vakum. Uang dari hasil menari dia sisipkan. “Ayah saya nelfon dan meminta maaf tidak bisa mengirimkan apa apa untuk Halifa, beraspun juga bapak nda bisa kirim karena ayah dan ibu disini kondisinya susah.

“Lalu saya menyemangati Bapak. Bapak tidak usah khawatir tentang saya, saya bisa cari uang sendiri. Alhamdulillah saya nari-nari pak, hasil dari itu saya pakai buat makan. Kalau pun ada lebih, saya kirimkan buat bapak,” kata Ifa

Baca juga :   Beredar Video Ahmad Dhani Sebut "Adakah Acara Malang Ini!"

Walaupun gadis berkulit mulus ini merasa pendapatannya terbatas untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dirinya tetap berfikir tentang nasib keempat orang saudaranya di kampung halaman. Halifa merasa kebutuhan adik-adiknya jauh lebih penting, meskipun dirinya merasa banyak kekurangan membiayai hidup dan kuliahnya di Makassar.

“Dibalik itu semua, Alhamdulillah selalu ada rezeki yang datang dan ini membuat saya semangat.

Sambil mengusap air mata yang terus jatuh di pipinya, Halifa percaya jika dirinya berusaha membantu orang tua dan keluarganya maka Tuhan akan berkehendak membantu dirinya.

Mimpi Sang Putri 

Duta Bandara yang di sandangnya sekarang pun bukan dengan mudah di raihnya.

Halifa pun mengisahkan dirinya mengikuti audisi Duta Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (SHIAM) tahun 2016 lalu.

“Waktu itu saya masih kuliah semester 5. Dapat info dari teman yang saya anggap kakak sendiri. Namanya Indri Wijaya. Dia menyarankan untuk mencoba mengikuti audisi tersebut.

“Di satu sisi saya juga bingung untuk memulainya dari mana. Saya tidak tahu persis pengetahuan tentang bandara. Persiapan saya juga masih sangat kurang. Jadi saya ragu untuk ikut.

Malamnya saya kembali di telfon oleh teman saya, menyampaikan bahwa ini adalah pendaftaran akhir. Kebetulan waktu itu, Halifa libur jadi dia mencoba untuk ikut.Dia pun berangkat ke tempat pendaftaran dan datang dengan pakaian yang berbeda dengan peserta lain. Karena waktu itu ada dress code yang sudah ditetapkan oleh panitia. “Saya datang dengan pakaian tangtop putih dan rok jeans.

Ketika memulai audisi saya bingung, tapi tetap yakin saya harus bisa dan BISMILLAH. Pertanyaan seputar Bandara dan juga tentang Pariwisata hingga tes bakat saya lalui,” ucapnya.

Waktu audisi berjalan selama tiga hari. Hari pertama kala itu tes fisik, kemudian hari kedua tes wawancara dan tes bakat. Dan pada hari terakhir tiba saat waktu malam pengumuman. “Saya kaget dan terharu karena nama saya disebut tiga terbaik. Alhamdulillah. Saya sangat bangga karena saya peserta yang paling muda di antara 32 peserta pada waktu itu berhasil menjadi tiga terbaik,” paparnya dengan keharuan.

Perjalanan karier Halifa terbuka sejak menjadi Duta Bandara. Wawasan dan pengetahuannya makin bertambah hingga mampu menguasai beberapa bahasa. Awalnya yang kurang fasih berbahasa inggris sekarang sudah dikuasainya. Bahasa lain pun mampu fasih Halifa ucapkan seperti seperti Jerman, China, Perancis meskipun sedikit-sedikit.

Seiring berjalannya waktu, perjalanan karier Halifa makin terbuka. Isak tangis kembali memuncak ketika Halifa menuturkan penghasilan sebagai Duta Bandara dan endorsement akun instagram miliknya ternyata cukup membeli rumah untuk Keluarganya

“Pak kita sekarang sudah tidak tinggal dibawah kolong rumah lagi. Saya sudah pesan rumah ini hasil kerja saya untuk bapak dan mama. Perasaan senang dan bangga inilah yang membuat saya selalu bersemangat untuk mencari uang,” ungkapnya

Meskipun Halifa menceritakan banyak teman-temannya yang mengatakan, “Halifa kok naik motor ke Bandara? Jadi saya tegaskan ini adalah hasil keringat saya sendiri karena orang tua saya tidak mampu dan saya tidak pernah gengsi,” ujarnya

Ini menjadi acuan saya, selalu berpedoman untuk tidak memilih dalam pertemanan. Dia mengaku tidak memaksakan orang lain mau berteman dengannya.  Ifa selalu berusaha jadi diri sendiri, tidak bergantung orang lain.

“Ketika saya dijalan dan melihat orang tidak mampu, kadang saya merasa sedih. Saya bungkuskan nasi dan berdoa semoga nanti ada yang melihat orang ini. Sama ketika saya juga susah, ada yang melihat saya,” tuturnya

Teringat ketika Ifa merasa ada di posisi terpuruk kala itu. Adiknya pun sempat mengatakan kepada dirinya sambil menangis, “Kak saya malu, mama selalu masuk rumah sakit. Kadang sampai mama saya stress suka teriak-teriak karena memikirkan sakitnya. Jadi saya selalu berusaha memberikan pengertian ke adik adik saya. Dek jangan pernah malu, walaupun bagaimana itu orang tua kita,” ucapnya mengisahkan.

Baca juga :   Job Fair 2017, Siapkan 3500 Lapangan Pekerjaan

Sampai pernah teman teman saya bilang waktu sekolah. “Ih halifa orang tuanya gila”. Tapi saya hanya diam serta nangis. Tetapi saya tidak pernah malu untuk keluar rumah. Adik saya hanya bisa mengurung diri dikamar.

Dan akhirnya teman saya sadar kalau permasalahan saya sangat besar. Tapi saya tidak pernah menampakkannya.

Apa yang Halifa lakukan semua hanya untuk kelurganya. Dibalik ini semua, orang tua Halifa sangat bangga. Orang tuanya menceritakan ke orang sekitar bahwa saya membiayai kehidupan sendiri dan orang tua saya.

Bekerja untuk keluarga menjadi motivasi gadis murah senyum ini. Apalagi ketika saya mampu menghadiahkan rumah. Ayah saya tersenyum dan ibu saya sudah kembali Alhamdulillah.

Halifa pun menuturkan, gaji yang dia dapatnya sebagai duta bandara di tabungnya untuk membayar cicilan rumah dan kebutuhan adik adiknya. Dan hasil endorsmentnya digunakan untuk kebutuhan sehari harinya.

Pencapaian Halifa sekarang adalah buah proses yang dijalaninya. Hasil dari prosesnya pun akhirnya membuahkan senyumoleh orang tua serta adik adiknya.

Puncak kebanggan dari orang tua Halifa ketika melihat langsung anaknya di layar televisi.

Tetapi dibalik kesuksesan sekarang. Halifa masih punya harapan yang sangat mulia untuk orang tuanya. “Saya mau sekali menaikkan orang tua haji kak. Karena selalu berkhayal ketika tugas di bandara dan liat mereka pulang dari haji. Selalu membayangkan ayah saya yang memakai baju itu.”lanjutnya dengan memelai air mata

Halifa menuturkan akan terus berusaha mencari nafkah untuk menggapai impiannya. Dia sadar, ada hal yang harus diselesaikan oleh orang tuanya ketika sampai di rumah Allah.

“Dulu orang tua saya berbeda keyakinan, karena ibu saya kristen dan ayah saya Islam. Ketika sebelum menikah ayah saya mengajak ibu saya untuk masuk ke Islam dan ibu saya mengiyakan. Tapi setelah menikah, banyak selisih paham yang terjadi terkait persoalan agama mereka berdua,” tuturnya

“Tetapi dari kejadian orang tua yang saya alami saya bisa mengambil hikmah, bahwa ada hal yang harus diselesaikan dengan cara yang baik. Itu kenapa kak saya mau membawa mereka ke Tanah Suci agar mereka bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah,” ungkapnya

Proses yang di alami Halifa hingga bisa menjadi sekarang adalah buah dari kesabaran dan kegigihannya. Menjadi wanita yang tangguh dan semangat untuk merubah derajat keluarganya.

Kita tidak pernah akan tahu usaha mana yang akan berhasil, tapi kita akan sadar selama apa yang kita kerjakan selalu berniat baik di mata Allah Insyallah akan selalu mendapat keberkahan olehnya.

Dibalik kesuksesan Halifa sekarang, ada sosok yang kuat dan memberikan motivasi . Yaa ibu Rahmatiah S.ag . Dia adalah sosok yang tidak pernah surut untuk mendukung karier Halifa.

“Dia yang selalu dukung saya kak , memberikan motivasi, ketika saya butuh sesuatu pasti bunda yang selalu bantu saya. Ketika saya ikut lomba, pasti bunda yang menemani. Dia yang berjasa besar menjadikan saya seperti sekarang.”Ungkap Ifa

Halifa sekarang menikmati hasil dari kerja kerasnya selama ini. Puncak kebahagaiaan yang Halifa rasakan ketika dirinya telah dilamar oleh kekasihnya yang akan melangsungkan pernikahan pada bulan dua tahun depan.

“Insyallah kak doakan yaa semoga semuanya berjalan lancar” tutupnya dengan senyum bahagia.

Penulis Andi Lasinrang