Pemkab Selayar Mulai Salurkan Sembako Kepada Warga Terdampak Covid-19

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Selayar melalui Dinas Sosial mulai menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak Covid-19, Sabtu (2/5).

Penyaluran bantuan itu diawali dengan penyerahan secara simbolis kepada keluarga penerima manfaat yang disaksikan oleh unsur Forkopimda Selayar kemudian dilanjutkan oleh tim dari Kadis Sosial, Patta Amir, SP. didampingi Camat, Lurah, Kabid Linjamsos dan Kepala Seksi PKBS.

“Penyaluran bantuan ini merupakan instruksi dari Pak Bupati sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian pemerintah kepada masyarakat. Dua hari ini kita salurkan bantuan sembako di Kecamatan Benteng menyusul kecamatan lainnya” kata Patta Amir.

Patta Amir mengakui jika ada keterlambatan dalam penyaluran bantuan. Karena, dana yang dipakai adalah APBD yang mesti disiapkan juga terkait data dari desa dan kelurahan harus melalui review dan diverifikasi pada OPD terkait.

“Jika data penerima dan berbagai kelengkapan administrasi rampung, maka kami akan langsung bergerak melakukan penyaluran bantuan,” ujarnya.

Semntara itu Kepala Seksi PKBS, Andi Sandra Esty Abriany mengatakan jika penyaluran bantuan ini dilakukan dengan by name by addres dengan sistem penyaluran door to door langsung kepada penerima manfaat.

Menurutnya, penyaluran bantuan tersebut juga semua pihak terkait seperti camat, lurah dan dipantau langsung oleh unsur Kodim 1415, Polres Selayar maupun Kejaksaan Negeri Selayar.

“Kami dan tim lainnya menyalurkan bantuan tidak mengenal waktu, bahkan kami menyalurkan langsung kepada masyarakat sampai larut malam, karena ini adalah pekerjaan kemanusiaan dan harus segera diselesaikan,” kata Andi Sandra.

“Kita semua tentu berharap bantuan ini dapat meringankan beban kebutuhan ekonomi masyarakat dalam menghadapi Covid-19,” tambahnya.

Tujuh Pasien Covid-19 di RS Bhayangkara Dinyatakan Sembuh

KabarMakassar.com – Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Makassar yang merupakan salah satu rumah sakit dirunjuk merawat Covid-19 di Sulsel berhasil menyembuhkan tujuh orang pasien Covid-19 dari 17 pasien positif yang dirawat.

Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Bhayangkara Makassar, Kombes Pol Farid Amansyah mengatakan jika pihaknya merawat 391 pasien dengan status ODP, 102 orang PDP dan 17 pasien positif. Kata dia, tujuh pasien yang sembuh itu membuat angka kesembuhan di RS Bhayangkara sebesar 41,18 persen.

“Iya, memang sudah dinyatakan sembuh karena sudah dua kali swabnya negatif. Mereka dari warga Kota Makassar dua orang, Kabupaten Takalar dua orang, Maros satu orang, Gowa satu orang dan Sulawesi Barat satu orang,” kata Farid Amansyah, Sabtu (2/5).

“Saat ini, kami masih merawat 7 orang di RS Bhayangkara, dua orang itu meninggal dunia serta 1 orang yang dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo,” tambahnya.

Farid menjelaskan bahwa RS Bhayangkara Makassar memberlakukan kewaspadaan universal terhadap pasien Covid-19 yakni dengan melakukan foto thorax (foto paru) dan CT scan paru bagi yang memiliki foto dada normal.

“Kami membedakan area hijau dan area merah, sehingga kontaminasi pasien Covid-19 dan non Covid-19 terhindarkan. Kami memiliki 54 isolasi bertekanan negatif mekanik (exhausted) untuk digunakan merawat ODP, PDP dan konflik positif. Diantara 54 kamar ini ada 12 kamar untuk perawatan VIP,” ungkapnya.

Ia menghimbau agar masyarakat tetap mematuhi anjuran pemerintah untuk selalu cuci tangan dengan sabun, memakai masker untuk semua orang, menjaga jarak aman dan mentaati aturan yang ada.

“Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) itu demi kebaikan kita semua. Kalau aturan aturan PSBB diterapkan dan dipatuhi masyarakat insyaAllah tidak lama kita akan keluar dari pandemi global ini,” pungkasnya.

Gubernur Target Pandemi Covid-19 di Sulsel Tuntas di Akhir Mei

KabarMakassar.com — Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah meminta seluruh elemen yang ada di Sulsel, mulai dari tingkat

provinsi hingga kabupaten/kota untuk sama-sama berkomitmen serius dalam memutus ata arantai penyebaran Covid-19 sesegera mungkin.

Nurdin berharap, pandemi ini segera berakhir dan kehidupan masyarakat khususnya di Provinsi Sulsel bisa kembali berjalan normal.

“Tentu kita ingin hidup normal kembali. Target kami kalau kita sepakat, akhir Mei kita harus akhiri Covid-19 ini. Tentu ini butuh komitmen bersama,” kata Nurdin saat melakukan kunjungan ke Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, di Balai Prajurit Jendral M Yusuf, Sabtu (2/5).

Nurdin mencontohkan seperti yang dilakukan di Kota Makassar, dimana Puskesmas-puskesmas yang ada melakukan tracking contact dan menelusuri semua riwayat pasien untuk mencegah terjadinya lokal transmisi.

“Kita berharap para Kepala Dinas Kesehatan, sampaikan apa yang kita butuhkan untuk betul-betul memutus rantai penularan. Nah kalau kita bergerak dari camat, lurah kepala desa RT/RW, kepala Puskesmas, saya kira tidak sulit,” ujarnya.

Sekadar diketahui, berdasarlan data Dinas Keesehatan Provinsi Sulsel, hingga Sabtu (2/5) pukul 18.00 Wita, total kumulatif kasus positif Covid-19 di Sulsel berjumlah 577 orang. Dari jumlah tersebut, 386 diantaranya masih dirawat, 151 sembuh, dan 40 meninggal dunia.

Sementara untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP), jumlah totalnya sebanyak 859 orang. 211 diantaranya masih dalam proses follow up, 559 sudah dinyatakan negatif Covid-19, dan 89 meninggal dunia.

Sedangkan untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP), totalnya sebanyak 4.036 orang. 890 diantaranya dalam proses pemantauan, dan 3.146 lainnya telah selesai dilakukan pematauan.

Bertambah 1 Orang, Sudah 2 Pasien Positif Covid-19 Asal Pinrang Dinyatakan Sembuh

KabarMakasar.com — Jumlah pasien Covid-9 asal Kabupaten Pinrang yang dinyatakan sembuh bertambah 1 orang. Hal ini disampaikan langsung Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Pinrang, drg. Dyah Puspita Dewi, Sabtu (2/5).

Dengan begitu, dari total kumulatif pasien positif Covid-19 asal Pinrang yang jumlahnya sebanyak 5 orang, sejauh ini sudah 2 orang yang dinyatakan sembuh. Sementara 3 lainnya masih dinyatakan positif dan menjalani perawatan.

“Seorang pasien yang beberapa waktu lalu dinyatakan positif, menunjukkan hasil negatif dari 2 kali swab tes yang dilakukan,” kata Dyah.

“Hal ini patut disyukuri, namun masyarakat haraus tetap disiplin melakukan semua imbauan pemerintah sambil terus berdoa agar pandemi Covid-19 ini cepat berlalu,” sambungnya.

Meski telah dinyatakan sembuh, kata dia, pasien tgersebut tetap diharuskan untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

“Ini untuk meningkatkan imunitas tubuh si pasien yang bersangkutan,” jelasnya.

Lebih jauh Dyah mengatakan, sebenarnya dari total 4 spesimen yang dikirimkan untuk dilakukan pemeriksaan (uji swab) di balai Besar laboratorium Kesehatan (BBLK) Makassar. Hasilnya, 2 dinyatakan negatif dan 2 masih positif.

“Hanya saja, 1 dari 2 pasien positif yang hasil swabnya dinyatakan negatif itu baru melakukan tes sebanyak 1 kali. Sehingga walaupun dinyatakan negatif, masih perlu dilakukan tes lagi untuk meyakini bahwa yang bersangkutan benar-benar bebas dari paparan Covid-19,” terangnya.

Dewi menambahkan, selain adanya tambahan pasien positif Covid-9 yang dinyatakan sembuh, warga Pinrang berstatus PDP yang meninggal di RSUD Andi Makkasau Parepare pada Rabu (29/4) lalu juga dipastikan negatif Covid-19.

“Pasien yang berstatus PDP dengan alamat di KTP asal Kabupaten Pinrang yang beberapa hari lalu meninggal dunia di RSUD Andi Makkasau Parepare dinyatakan negatif Covid-19,” ujar Dyah.

“Hasil ini dikuatkan dengan hasil uji PCR dari sampel yang diambil dari tubuh pasien tersebut. Dari hasil swab yang dilakukan di BBLK Makassar, pasien yang semula diduga terpapar Covid-19 itu dinyatakan negatif,” pungkasnya.

Pasien Positif Covid-19 dari Bulukumba Bertambah 1 Orang

KabarMakassar.com — Warga Kabupaten Bulukumba yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 bertambah 1 orang, sehingga jumlah totalnya kini menjadi 6 orang.

Pasien 006 yang terkonfirmasi positif berdasarkan hasil uji swabnya ini masuk dalam klaster Temboro atau dari pesantren Al Fatah Magetan, Jawa Timur, yang tiba di Sulsel bersama ratusan santri lainnya pada tanggal 18 April yang lalu.

Kemudian, pada tanggal 26 April, Tim Surveilans Bulukumba melakukan tracing terhadap para santri yang pulang dari Temboro dan melakukan pengambilan spesimen swab.

“Dengan bertambahnya pasien positif Bulukumba, kita harapkan masyarakat semakin waspada terhadap penularan virus Covid-19 ini dengan tetap konsisten menerapkan sosial distancing, tetap tinggal di rumah dan menjaga pola hidup sehat,” kata Juru Bicara Pemkab Bulukumba untuk Penanganan Covid-19, Daud Kahal, Sabtu (2/5).

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bulukumba, kata dia, akan segera melakukan langkah-langkah antisipasi, termasuk melakukan penyemprotan disinfektan di sekitar lokasi kediaman pasien 006.

Rencananya, lanjut Daud, pasien 006 ini akan dirawat di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja bersama dengan pasien 004 dan 005.

Pasien 002 Dinyatakan Sembuh

Jumlah pasien positif Covid-19 asal Kabupaten Bulukumba yang sembuh juga mengalami penambahan. Daud menyampaikan, pasien 002 yang dirawat di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar sudah dinyatakan sembuh.

Menurut Daud, pasien 002 yang merupakan jamaah tabligh ini telah menjalani 3 kali tes Swab. Swab pertama ketika masih di Bulukumba, yang bersangkutan dinyatakan positif. Namun setelah dirawat di rumah sakit, dinyatakan sembuh setelah hasil tes swab kedua dan ketiganya menunjukkan hasil negatif.

“Ketika dua kali swabnya berturut-turut hasilnya negatif, maka pasien tersebut dinyatakan sembuh dari Covid-19,” jelas Daud.

Sekadar diketahui, hingga Sabtu (2/5), total kumulatif pasien positif Covid-19 di Bulukumba berjumlah sebanyak 6 orang. (2 sembuh, 4 dirawat). Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 200 orang, dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 28 orang. (*)

Kelompok Pemuda di Alliritengae Maros Buat Posko Covid-19 Secara Mandiri

KabarMakassar.com — Sejumlah pemuda di Kabupaten Maros yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Cendana membuat portal dan dijaga selama 24 jam di Jalan Cendana, Kelurahan Alliritengae, Kecamatan Turikale.

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk melakukan pencegahan dan penularan Covid-19. Salah satu pemuda dari Aliansi Pemuda Cendana, Muh. Khairullah membenarkan hal tersebut. “Ini untuk memutus mata rantai Covid-19 karena kita tahu bahwa penyebaran virus ini sangat cepat,” kata Khairullah, Sabtu (2/5).

Selain itu, Khairullah juga mengaku telah membentuk posko yang diberi nama Posko Cendana vs Covid-19. Kata dia, posko tersebur melakukan sejumlah kegiatan seperti penyemprotan disenfektan pada rumah warga dan para pengendara yang ingin memasuki wilayah itu.

“Pengendara yang ingin memasuki wilayah cendana akan diperiksa suhu tubuhnya dan penyemprotan disenfektan pada kendaraan,” ungkapnya.

Ia juga menghimbau kepada para warga dan pengendara untuk wajib memakai masker jika ingin memasuki wilayah tersebut demi menjaga penyebaran Covid-19. Menurutnya, pembuatan portal dan posko tersebut dilakukan pada 17 April 2020 lalu.

“Kami berharap agar Covid-19 cepat berakhir agar masyarakat Indonesia terkhusus warga Jalan Cendana pada khususnya dan Maros pada umumnya bisa beraktifitas tanpa khawatir dengan Covid-19” pungkasnya.

Menginspirasi Guru di Indonesia, Bantaeng Luncurkan Buku Satu Guru Satu Inovasi di Hardiknas 2020

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng meluncurkan buku Satu Guru Satu Inovasi di Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5).

Bupati Bantaeng, Ilham Azikin secara resmi memperkenalkan buku itu kepada publik melalui diskusi online dan live streaming. Sejumlah tokoh pendidikan hadir dalam peluncuran buku tersebut. Mereka diantaranya adalah pengagas platform pendidikan Sekolah.mu, Najelaa Shihab; dan Rektor UNM, Prof. Husain Syam.

Dalam kesempatan itu, Najelaa Shihab yang juga penggiat pendidikan Indonesia ini mengakui terobosan yang telah dilakukan oleh Pemeintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan. Dia menyebut, dorongan Satu Guru Satu Inovasi ini adalah salah satu praktik baik dalam dunia pendidikan yang bisa mendorong terjadinya perubahan di dalam dunia pendidikan.

“Praktik-praktik baik yang terjadi di Bantaeng adalah kerja nyata yang bisa menginspirasi semua guru yang ada di Indonesia,” kata Najelaa.

Menurut dia, buku yang berisi inovasi pendidikan dari sejumlah guru yang ada di Bantaeng ini menujukkan proses merdeka belajar. Inovasi-inovasi yang tertuang di atas kertas ini akan menjadi contoh untuk diikuti guru-guru yang ada di Indonesia.

“Inovasi-inovasi ini akan diterapkan di lapangan oleh guru-guru yang menjadi garda terdepan dalam dunia pendidikan,” jelas ida.

Rektor UNM, Prof. Husain Syam mengatakan, apa yang telah dilakukan oleh Bantaeng ini adalah sebuah contoh untuk bisa diikuti di daerah lain di Indonesia. Menurutnya, Bantaeng sudah memancing guru untuk menjadi guru yang selalu berinisiasi dan berinovasi.

“Guru entrepreuner ini adalah guru yang selalu berada di depan untuk menjadi contoh. Apa yang ada di Bantaeng ini adalah contoh baik dan harusnya menjadi model di Indonesia,” katanya.

Prof Husain mengaku sangat senang dengan Pemkab Bantaeng yang memerhatikan kemajuan-kemajuan pendidikan serta kualitas SDM untuk indonesia maju.

“Di UNM ini, kita juga ingin alumni kita memiliki jiwa kreasi,” ujarnya.

Sementara, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin mengaku program Satu Guru Satu Inovasi ini adalah salah satu bagian dari upaya pemerintah Kabupaten Bantaeng untuk meningkatkan SDM.

Ilham mengatakan, peluncuran buku di tengah pandemi Corona ini juga menjadi spirit baru untuk Pemkab Bantaeng merancang model pembelajaran yang tepat di tengah kondisi saat ini.

“Di tengah pandemi ini, menjadi spirit untuk anak murid dan pelajar,” kata Ilham.

Dia menambahkan, inovasi yang dituangkan di dalam buku ini adalah untuk diterapkan di daerah lain. Menurut dia, inovasi itu hendaknya bisa bermanfaat untuk orang lain.

“Inovasi itu tidak hanya untuk di dalam kepala saja,” ujarnya.

Sekedar diketahui, buku Satu Guru Satu Inovasi ini berisi tentang inovasi pendidikan yang dilakukan sejumlah guru yang ada di Bantaeng. Buku ini rencananya akan terdiri dari enam jilid. Saat ini, buku yang sudah terbit terdiri dari dua jilid.(*)

3 Hari, Positif Covid-19 di Sulsel Bertambah 112 Kasus

KabarMakassar.com — Virus Corona atau Covid-19 sudah menyebar di 21 dari total 24 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Jumlah kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 pun terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, hari ini (Sabtu, 2 Mei 2020) ada penambahan sebanyak 30 kasus positif Covid-19 di Sulsel, dengan sebaran: Makassar 8 kasus, Parepare 2 kasus, Bulukumba 1 kasus, Soppeng 1 kasus, Luwu Utara 17 kasus, dan Maros 1 kasus.

Dengan begitu, jumlah total kumulatif kasus positif Covid-19 di Sulsel saat ini sudah sebanyak 577 kasus. Dari jumlah tersebut, 386 masih dirawat, 151 dinyatakan sembuh (bertambah 6 dari sehari sebelumnya), dan 40 meninggal dunia (bertambah 1 dari sehari sebelumnya).

5 daerah dengan jumlah total kasus positif Covid-19 terbanyak yakni; Makassar (401 kasus); Gowa (33 kasus), Maros (31 kasus); Sidrap (21 kasus); dan Luwu Utara (20 kasus)

Sementara 16 kabupaten/kota lainnya, yakni: Parepare (11 kasus); Luwu Timur (11 kasus); Sinjai (6 kasus); Bulukumba (6 kasus); Pinrang (5 kasus); Bone (5 kasus); Takalar (5 kasus); Soppeng (5 kasus); Pangkep (4 kasus); Enrekang (3 kasus); Tana Toraja (3 Kasus); Selayar (2 kasus); Luwu (2 kasus); Jeneponto (1 kasus); Palopo (1 kasus); dan Wajo (1 kasus).

Sedangkan 3 kabupaten di Sulsel yang sampai hari ini masih ‘bersih’ dari kasus positif Covid-19 yakni: Toraja Utara, Bantaeng dan Barru.

Jika melihat data, selama tiga hari terakhir total ada penambahan sebanyak 112 kasus positif Covid-19 di Sulsel. Rinciannya: 26 kasus di tanggal 30 April; 56 kasus di tanggal 1 Mei; dan 30 kasus di tanggal 2 Mei.

Kota Makassar yang sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 24 April lalu, masih menjadi daerah dengan jumlah penambahan kasus positif Covid-19 terbanyak di Sulsel. Dalam 2 hari terakhir saja, tercatat ada penambahan sebanyak 32 kasus di Ibukota Provinsi Sulsel itu.

Sehari sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel yang juga sekaligus sebagai Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, dr. Muhammad Ichsan Mustari mengatakan, penyebaran kasus positif Covid-19 di Sulsel saat ini sudah meluas ke kabupaten-kabupaten.

“Kalau melihat data, peningkatan penyebaran atau jumlah kasus positif Covid-19 di Sulsel ini sudah meluas ke kabupaten-kabupaten, Maka dari itu, kita mendorong semua kabupaten tidak lengah, tingkatkan kewaspadaan, dan sedini mungkin melakukan langkah antisipasi. Jangan hanya berpatokan pada angka, tapi harus lakukan langkah pencegahan sedini mungkin,” kata Ichsan.

Sejauh ini, lanjut Ichsan, pihaknya masih terus mendorong kedisiplinan masyarakat dalam membatasi diri sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Trennya masih lebih mendorong pada kedisiplinan masyarakat dalam membatasi diri. Kalau melihat data, peningkatan sudah meluas ke kabupaten. Kita mendorong semua kabupaten tidak lengah, dan sedini mungkin melakukan langkah antisipai serta pencegahan,” ujarnya.

Jurnal Pandemi #1: Adityawarman dan Wabah

Oleh: Arfi Bambani Amri

MENGAPA Adityawarman yang berjasa besar menaklukkan Bali untuk Majapahit pulang ke kampung halamannya di Sumatera untuk menjadi raja di Pagarruyung? Pertanyaan itu mengemuka dalam sebuah diskusi mengenai figur sejarah yang ibunya, Dara Jingga, bersaudara dengan Dara Petak yang dinikahi Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit. Adityawarman meninggalkan posisi kuat di Majapahit sebagai perdana menteri Majapahit, memilih untuk pulang, mengambil alih kekuasaan di kampung halamannya.

Apa alasan Adityawarman pulang kampung, bukan mudik, jika memakai definisi yang dipakai Presiden Joko Widodo? Itulah inti pertanyaan dari diskusi yang diikuti juga oleh beberapa sejarawan Minang pada Kamis malam, 29 April 2020 yang lalu.

“Wabah,” kata Wenri Wanhar, sejarawan yang sedang meneliti masa lalu Sumatera, menyebut penyebabnya.

Wenri menyatakan, wabah sudah berulang kali menyerang Sriwijaya atau Dharmasraya, bahkan kemudian Pagarruyung. Wenri mendasarkan teorinya ini dari berbagai temuan. Abad 11, seorang guru Buddha bernama Atisa Dipankara Srijnana yang berguru ke Kedatuan Sriwijaya bercerita tentang sebuah wabah yang melanda negeri tersebut. Setelah 12 tahun menuntut ilmu dari seorang guru besar bernama Dharmakirti di pusat Kedatuan Sriwijaya, Atisa kembali ke negerinya, Bengali, dan kemudian menetap di Tibet, mengembangkan sebuah teknik olah pikir yang oleh muridnya diajarkan ke pengidap sakit kusta. Teknik Atisa ini sekarang berkembang di Barat sebagai “Mind Awakening” yang populer juga untuk penyembuhan diri.

Selain dengan teknik meditasi, masyarakat Melayu atau Dharmasraya saat itu membakar kemenyan dan menggantung labu kayu atau yang di pulau Jawa dikenal sebagai buah Maja. Wenri yang sudah dua tahunan menghabiskan waktu antara Jambi dan Sumatera Barat untuk meriset soal sejarah Sumatera ini menemukan pohon-pohon maja itu banyak tumbuh di bantaran Sungai Batanghari. “Bahkan masih ada rumah yang menyimpan labu kayu tua itu,” kata Wenri saat saya hubungi tersendiri soal kisah ini. Praktik kuno membakar kemenyan juga masih kerap ditemukan di Jambi dan Sumatera Barat hari ini.

Menurut Wenri, wabah ini terus terjadi secara berulang. Lambat laun, pusat kerajaan yang kini disebut Candi Muaro Jambi mulai ditinggalkan. Penelantaran kompleks Candi Muaro Jambi yang diklaim Indonesia sebagai kompleks candi Buddha terbesar di Asia Tenggara ini, hampir seluas 4.000 hektare, telah menjadi objek banyak riset arkeologi. Pertengahan abad 12, pusat kerajaan telah berpindah ke pedalaman, ke hulu Batanghari.

Informasi soal wabah yang memperlemah Dharmasraya ini sampai beritanya ke Kerajaan Singasari yang sedang berkuasa di Pulau Jawa. Bagi Kertanegara, keberadaan Sriwijaya dan Dharmasraya penting untuk menghambat pengaruh kerajaan Mongol yang berekspansi ke Nusantara. Leonard Y Andaya, menyebut, tahun 1286, Kertanegara mengirim Arca Amoghapasa ke Dharmasraya, sebagai hadiah persahabatan dari Maharajadhiraja Kertanagara untuk Maharaja Tribhuwanaraja. Setelah penyerahan arca, Maharaja Tribhuwanaraja menyerahkan dua putrinya, Dara Petak dan Dara Jingga, kepada rombongan Kerajaan Singasari.

Wenri menjelaskan, Arca Amoghapasa diperuntukkan bagi rakyat Dharmasraya untuk dijauhkan dari karma buruk dan “agar rakyat Dharmasraya di Suwarnabumi berbahagia”. Simbol-simbol di Amoghapasa adalah simbol-simbol untuk mengusir karma buruk, kata Wenri. Wenri menyebut, berlainan dengan intrepretasi banyak sejarawan, Amoghapasa yang di Padang Roco ini mengisyaratkan Tribuanaraja Mauliwarmadewa adalah cakrawatinya Maharaja Kertanegara. Cakrawati Amoghapasa merupakan satu di antara 108 perwujudan Avalokitesvara, disebut juga Amogapasha Lokesvara.

“Tersirat begitu besar keinginan dari Kertanegara agar Tribhuwanaraja Mauliwarmamadewa mendapatkan anugerah,” kata Wenri. Wenri dengan kata lain membantah tesis banyak sejarawan yang menyatakan Kertanegara menaklukkan Dharmasraya, justru yang terjadi sebaliknya, Kertanegara menganggap penguasa Dharmasraya sebagai sumber kekuasaannya (cakrawati). Karena itu, Wenri menyatakan, dua putri Melayu yang ikut balik ke Jawa bukanlah seserahan, melainkan sebuah adat istiadat setempat.

Setelah bertahun-tahun di Dharmasraya, rombongan yang mengantar arca ini kembali ke tanah Jawa. Saat tiba di Jawa, ternyata Kerajaan Singasari sudah runtuh, yang sekarang berkuasa adalah Kerajaan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya. Raden Wijaya lalu memperistri Dara Petak yang mana kemudian anak mereka, Jayanegara, menjadi raja kedua Majapahit. Sementara Dara Jingga dinikahi Adwayawarman, seorang bangsawan Majapahit, dan kemudian melahirkan Adityawarman.

Sebagian sejarawan menyebut Adityawarman dilahirkan di Majapahit. Uli Kozok dan M Yamin berpendapat Adityawarman dilahirkan di Dharmasraya, anak hasil perkawinan salah satu petinggi Singasari yang mengantar arca dengan Dara Jingga. Lalu ketika Adityawarman beranjak besar dikirim ke Majapahit untuk mengklaim kekuasaan karena Jayanegara, sepupunya yang menjadi raja Majapahit, tidak memiliki ahli waris. Namun belakangan, kekuasaan Majapahit diteruskan oleh adik perempuan lain ibunya dan Adityawarman diangkat menjadi semacam perdana menteri. Nama Adityawarman disebut dalam berbagai aksi Majapahit termasuk dalam penaklukan Bali dan Palembang.

Tahun 1347, ketika Adityawarman pulang kampung, kembali ke Dharmasraya, dia menemukan wabah itu masih merajalela. Dia juga menemukan rakyat setempat mulai beralih ke agama baru yang disukai karena pemuka-pemukanya bisa menyembuhkan penyakit kusta yang sedang mewabah. Adityawarman yang dibesarkan sebagai penganut Buddha Mahayana kemudian mengambil alih kekuasaan dari Akarendrawarman yang merupakan pamannya dari garis ibu. Peralihan kekuasaan dari paman ke kemenakan seperti ini merupakan hal yang lumrah dalam sistem matriarkat di Minangkabau.

Adityawarman memindahkan pusat kekuasaan lebih jauh ke pedalaman Tanah Datar. Kerajaannya lalu disebut Malayupura. Untuk mengukuhkan kekuasaannya, Adityawarman memahat bagian belakang Arca Amoghapasa dengan menuliskan namanya sebagai maharaja diraja, sebuah simbol kepercayaan dirinya berkuasa penuh dan bukan bawahan dari Majapahit. Adityawarman kemudian mengangkat seorang raja untuk berkuasa di Dharmasraya sebagai bawahannya.

“Dia pulang untuk memulihkan negeri (dari wabah),” kata Wenri.

Di Abad 14, Adityawarman mencoba mengatasi wabah dengan meneguhkan ajaran Boddhi yang dia peluk. Dia menegakkan simbol-simbol ajaran Tantrayana. Dia memindahkan pusat kekuasaan ke pedalaman agar juga semakin terjauh dari marabahaya. Adityawarman berusaha mengembangkan sistem pemerintahan yang mendekati model Majapahit dengan mengadakan beberapa posisi dan membuat puluhan prasasti untuk mengukuhkan kekuasaannya.

Namun Wenri berpendapat berbeda soal ajaran yang dianut Adityawarman. Menurutnya, Adityawarman bukan menganut Buddha seperti yang banyak ditulis sejarawan lain. Adityawarman hanyalah mengembangkan sebuah sistem kepercayaan lokal yang disebutnya sebagai Boddhi. Intinya,  menganjurkan keselarasan (kelarasan) hidup.

Namun pasca-Adityawarman, kita menyaksikan diskontinuitas ajaran ini. Raja-raja Pagarruyung dua atau tiga generasi setelah Adityawarman kemudian memeluk Islam. Meski beberapa tradisi kuno seperti sirih carano dan membakar kemenyan masih dijumpai, namun posisinya semakin terpinggirkan.

Mengapa nyaris tak tersisa satu pun pengikut Hindu atau Buddha di tanah Minangkabau hari ini kecuali mungkin yang bermigrasi belakangan ke Sumatera Barat? Ada dua kunci jawabannya. Adat Minangkabau dan Islam. Adat Minangkabau memiliki keunikan pada sistem matrilinealnya dan beberapa filosofi dasarnya. Sementara Islam berhasil menjadi agama dominan saat ini di tanah Melayu. Apakah ada hubungan dengan keberhasilan atau kegagalan menangani wabah? Untuk itu, tentu butuh riset tersendiri.
 
Jurnal Pandemi ini adalah proyek pribadi untuk menuliskan apa yang sedang dibaca, didiskusikan, didengar, dan dipikirkan selama masa bekerja dari rumah saat Pandemi COVID-19. Tema tulisan akan sangat beragam. Tulisan ini adalah edisi perdana.

Penulis adalah Country Representative Internews untuk Indonesia, Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen 2014-2017, mantan redaktur VIVA.co.id, dan alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Hardiknas 2020, Ini Harapan Gubernur untuk Stakeholder Pendidikan di Sulsel

KabarMakassar.com — Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah menekankan agar persoalan zonasi tidak menjadi masalah pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) di tahun ajaran baru nanti.

Olehnya itu, Nurdin meminta Dinas Pendidikan benar-benar mempersiapkan PPDB dengan menyiapkan antisipasi terkait kemungkinan terjadinya hal-hal yang bisa memunculkan masalah, termasuk permasalahan zonasi.

“Setiap tahun yang kita hadapi terkait zonasi ini adalah banyaknya masalah tentang komplain orang tua yang anak-anaknya tidak mendapatkan sekolah,” kata Nurdin saat melakukan video conference dengan sejumlah stakeholder pendidikan di Sulsel dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2020, Sabtu (2/5).

“Saya tidak ingin mendengar lagi ada anak-anak SMP yang ingin masuk ke SMA, tidak memiliki bangku. Ini menjadi PR kita semua. Saya harap bukan lagi mereka yang mencari sekolah, tetapi kita menyiapkan sekolah untuk mereka,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Nurdin juga mendengarkan masukan dari berbagai unsur.

Ia berharap, diskusi tersebut bisa menghasilkan rekomendasi yang bisa dijalankan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Sulsel. (*)