Pasien Positif Covid-19 di Sulsel Bertambah 44 Orang, 26 Diantaranya ABK KM Lambelu

KabarMakassar.com — Jumlah pasien positif Covid-19 di Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga Ahad (12/4) pukul 19:54 Wita, tercatat sebanyak 222 orang. jumlah ini bertambah 44 orang dari sehari sebelumnya yang jumlah totalnya masih sebanyak 178 orang.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prvinsi Sulsel, dr. Muhammad Ichsan Mustari mengatakan, 44 tambahan pasien positif Covid-19 tersebut terdiri dari 18 warga Sulsel dan 26 orang anak buah kapal (ABK) yang berada di atas kapal KM Lambelu.

“Tambahan 44 pasien positif itu 18 di Sulsel dan 26 pasien positif dari KM Lambelu. Yang 18 di Sulsel itu 14 di Makassar, 1 pasien Enrekang, 1 Sidrap, 1 Pangkep, 1 Gowa,” terang Ichsan, Ahad (12/4) malam.

“KM Lambelu itu mengangkut 141 ABK. Yang sudah dilakukan pemeriksaan swab itu baru sebanyak 42 orang. Hasilnya, 26 positif dan 16 negatif. Yang positif ini kategori orang tanpa gejala (OTG),” sambungnya.

Ichsan menjelaskan, KM Lambelu tidak sandar di Pelabuhan Makassar. Kapal tersebut hanya didekatkan ke pelabuhan, dan diperbolehkan sandar hanya jika ada keperluan mendesak. Seperti pengisian air bersih dan hal penting lainnya.

“Di kapal itu, masih ada 99 ABK-nya yang belum diperiksa swab. Besok rencananya tim dari Dinkes Provinsi Sulsel, Dinkes Kota Makassar dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) akan melakukan pemeriksaan swab kepada 99 orang ABK itu,” ujarnya.

Lebih jauh Ichsan mengatakan, berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan stake holder terkait termasuk Kantor Otoritas Pelabuhan dan PT Pelni, diputuskan bahwa semua ABK KM Lambelu (baik positif maupun negatif Covid-19) tetap berada di atas kapal untuk menjalani isolasi selama 14 hari.

“Jadi semuanya diisolasi 14 hari di atas kapal, terhitung mulai hari ini. Makanan mereka akan di drop dari darat, akrena SOP atau protokol kesehatan yang ada memang seperti itu, tidak diperbolehkan ada aktivitas masak-memasak untuk menghindari penularan,” jelasnya.

Ichsan menambahkan, selain penambahan pasien positif, jumlah pasien sembuh juga bertambah, dimana saat ini totalnya sudah sebanayak 30 orang.

Sekadar diketahui, berdasarkan data yang dirilis di laman covid19.sulselprov.go.id, hingga Ahad (12/4) pukul 19:54 Wita, tercatat jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel sebanyak 222 orang (176 dirawat, 30 sembuh, 16 meninggal). Sementara untuk Pasien Dalam pengawasan atau PDP, jumlahnya sebanyak 382 orang (236 dirawat, 125 sehat, 21 meninggal). Sedangkan Orang Dalam Pemantaua atau ODP, jumlahnya sebanyak 2.672 orang (1.424 proses pemantauan, 1.248 selesai pemantauan).

Bertambah 220 dalam 24 Hari, Jumlah Pasien Positif Covid-19 di Sulsel Tembus 222 Orang

KabarMakassar.com — Kementerian Kesehatan merilis update jumlah kasus Covid-19 di Indonesia perhari ini, Ahad (12/4) pukul 12.00 WIB. Berdasarkan data tersebut, khusus di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) ada penambahan sebanyak 44 pasien yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19.

Dengan begitu, secara akumulasi jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel sudah menembus angka 222 orang. Dari jumlah tersebut, 25 orang sudah dinyatakan sembuh, 15 meninggal dunia; dan sisanya masih menjalani perawatan (termasuk isolasi mandiri).

Ini berarti, sejak pertama kali diumumkan adanya 2 kasus positif Covid-19 di Sulsel pada 19 Maret lalu, selama 24 hari atau hingga 12 April, terjadi penambahan sebanyak 220 kasus.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, secara nasional, hari ini terjadi penambahan sebanyak 399 kasus positif. Dengan begitu, secara komulatif jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga Ahad (12/4) pukul 12.00 WIB sudah sebanyak 4.241 kasus.

“Terjadi penambahan 399 kasus baru, sehingga totalnya 4.241 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 373 orang meninggal dunia dan pasien sembuh bertambah menjadi 359 orang,” kata Yurianto saat menyampaikan keterangan pers di Gedung BNPB, Jakarta, Ahad (12/4).

Sekadar diketahui, meski saat ini Sulsel berada di urutan ke-5 dari total 34 provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus positif Covid-19 terbanyak, sekaligus menjadi satu-satunya provinsi di luar Pulau Jawa yang masuk dalam zona merah penyebaran Covid-19 di Indonesia, Pemerintah Provinsi Sulsel belum juga mengajukan usulan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayahnya ke pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Kesehatan.

Pembatasan sosial baru dilakukan di Kota Makassar yang memang menjadi episentrum penyebaran Covid-19 di Sulsel. Itu pun hanya di 4 dari total 15 kecamatan yang ada di Ibukota Provinsi Sulsel itu.

4 Kecamatan tersebut merupakan wilayah yang memiliki angka kasus Covid-19 tertinggi di Kota Makassar. Yakni: Rappocini, Tamalate, Panakkukang, dan Manggala.

“Ini intervensi tingkat tinggi yang akan dilakukan. Jadi tidak lagi menyarankan dan mengimbau, kita sudah intervensi tingkat tinggi,” kata Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, Sabtu (11/4) siang.

Nurdin mengatakan, pembatasan sosial di daerah-daerah episentrum penularan Covid-19 yang dilakukan di Kota Makassar ini bukan berskala besar (PSBB), melainkan hanya berskala kecil (PSBK).

“Pemetaan sudah selesai dilakukan, dan langkah konkret akan kita ambil di daerah-daerah episentrum penularan. Disitu nanti akan pasti kita bicara soal logistik, pengamanan. Tapi intinya kita akan berikan kewenangan kepada RT/RW. Jadi bukan PSBB tapi berskala kecil (PSBK),” ujarnya.

“Sekarang ujung tombak terdepan kita adalah RT/RW, dia lebih tahu warganya. Dan wilayah tidak besar, paling maksimal 150 KK. Kedua, lurah camat, mereka harus betul-betul bahu membahu. Kita betul-betul harus ketat, tidak bisa lagi kita hanya mengimbau,” sambungnya.

Sementara, Pj Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb mengatakan, pemberlakukan PSBK di 4 kecamatan ini bukanlah keputusan yang diambil secara sporadis dan tiba-tiba. Akan tetapi, berdasarkan hasil survei dan analisis dari data-data yang ada.

Iqbal mengungkapkan, hasil analisis tim dari Universitas Hasanuddin (Unhas) soal kondisi penyebaran Covid-19 di Makassar telah memberikan referensi, bagaimana jika hal ini dibiarkan dan bagaimana jika ada intevensi.

“Dari situ, diputuskan ada intervensi agar pemutusan penyebaran Covid-19 ini bisa dilakukan lebih cepat. Di wilayah ini (4 kecamatan) akan diterapkan (PSBK) secara ketat. Kita belum bicarakan PSBB, lebih banyak PSBK dengan pengetatan physical distancingnya. Kenapa? Karena sekarang transmisi lokal yang banyak,” kata Iqbal.

Menurut Iqbal, transmisi lokal ini disebabkan adanya kontak antar masyarakat. Olehnya itu, kata dia, tidak ada cara lain untuk mempercepat pemutusan penyebaran Covid-19 di Kota Makassar selain menerapkan physical distancing seccara ketat.

“Beberapa pemukiman akan dilakukan isolasi, tidak menerima tamu dari luar wilayah tersebut. Peran RT/RW akan dimaksimalkan, dan patroli-patroli akan ditingkatkan dengan melibatkan personel Polres dan Kodim,” pungkasnya.

Egy Akui Sudah Berteman Lama Dengan Doni Monardo

KabarMakassar.com — Penunjukan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo sebagai Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 membuat masyarakat mencari informasi. Terbaru, pada mesin pencarian google, bermunculan foto lama anggota TNI dengan pangkat tiga bintang itu.

Salah satu diantaranya adalah foto ketika Doni masih berpangkat mayor sedang berada di satu lokasi bersama beberapa prajurit lain dan beberapa teman berpakaian casual. Foto itu pun dibenarkan Anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Egy Massadiah.

“Yang sudah pernah melihat foto itu dan tahu latar belakangnya, mungkin biasa saja. Tapi yang tidak tahu dan baru pertama kali melihat foto-foto itu, banyak sekali yang bertanya, karena ada saya di foto itu,” kata Egy Massadiah.

Ia mengaku jika kisah foto tersebut sudah dikemas dalam sebuah buku yang diberi judul Secangkir Kopi Di Bawah Pohon – Kiprah Doni Menjaga Alam. Menurutnya buku itu semestinya sudah launching pada akhir Maret ini, tapi tertunda akibat adanya tugas sebagai Satgas Covid.

“Foto itu diambil sekitar April atau Mei tahun 1998 di Lapangan Tembak Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur,” kata Egy.

Menurutnya, pada foto itu tampak ada Letnan Inf Mohammad Hasan yang saat ini sudah berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI dan menjabat Wadanjen Kopassus. Juga, kata dia, ada almarhum Mayor Inf Made Agra yang pangkat terakhirnya Mayor Jenderal TNI, lulusan AMN tahun 1985, seangkatan dengan Doni Monardo.

Kata dia, foto itu memang menjadi foto kenangan yang jika dinarasikan, bisa menjadi tulisan panjang. Salah satu angle yang menarik bisa diangkat, kata dia, adalah persoalan friendship dan soal brotherhood. “Kita contohkan saja antara Pak Doni Monardo dan Egy Massadiah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan walau berkarier di dunia yang berbeda, dirinya dengan Doni tetap membangunan pertemanan yang baik dan tidak pernah runtuh. Komunkasi masih tetap terjalin baik ketika Doni Monardo bertugas di Singaraja-Bali, Serang-Banten, Kariango, Ambon, sampai Bandung.

Sedang dirinya, kata dia, meniti karier kewartawanan, menulis buku, aktif di Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya, bermain film hingga memproduksi film layar lebar. Bukan itu saja, dirinya juga sempat juga menjajal dunia politik dan merambah dunia bisnis.

“Bak takdir yang sudah tersurat, kami toh akhirnya dipertemukan kembali di BNPB. Komunikasi lewat telepon, kemudian musim blackberry, musim sms, sampai WA tidak pernah terputus. Dan foto-foto itu kini menjadi sarat makna,” pungkasnya.

Pasien Positif Covid-19 Imbau Masyarakat Tetap di Rumah

KabarMakassar.com — Redaksi Kabar Makassar kembali menggelar diskusi online seri ke-4 dengan mengambil tema “Melawan Stigma Covid-19”, Minggu (12/4). Kegiatan itu menghadirkan pembicara antara lain Humas RS Wahidin Sudirohusodo Makassar Dewi Rizki Nurmala. Kemudian ada Caecilia Kapojos yang memiliki keluarga pasien Covid-19 dan Chika Mailoa pasien positif Covid-19.

Pada kesempatan itu, Dewi Rizki Nurmala menjelaskan bagaimana tim medis sebagai garda terdepan bekerja untuk melawan Covid-19. Ia mengatakan jika tenaga medis pada sejumlah rumah sakit harus bekerja ekstra. Karena itu, ia meminta doa seluruh masyarakat agar para pahlawan itu dapat bekerja dengan baik.

“Sebagai garda terdepan dalam melawan Covid-19, para tenaga medis yang ada di RS Wahidin maupun di rumah sakit lain tentu akan bekerja profesional. Bantulah para tenaga medis kita dengan tetap berada di rumah, jika terpaksa harus keluar yah pakai masker dan rajin cuci tangan,” kata Dewi.

Ia menjelaskan bahwa penyebaran Covid-19 tidak mengenal usia. Tapi, kata dia, paling rentan kelompok Lanjut Usia (Lansia). “Kalau melihat trend-nya memang paling banyak terkena itu kelompok Lansia, apalagi di atas 50 tahun. Maka dari itu perlu penangan secara khusus pada Lansia ini,” jelasnya.

Walau demikian, ia meminta kepada para remaja dan anak muda untuk tetap tinggal di rumah. Menurutnya, sikan dan tindakan dengan berdiam di rumah itu telah menjadi pahlawan melebihi para tenga medis. “Tinggallah di rumah, itu sudah membantu. Bagi yang tinggal di rumah itu adalah pahlawan karena telah menahan penyebaran, apalagi sekarang ada Orang Tanpa Gejala (OTG),” katanya.

Ia pun menghimbau kepada masyarakat agar tidak menolak pemakaman jenazah positif Covid-19. Menurutnya, pihak rumah sakit telah menjalankan prosedur kesehatan kepada jenazah positif Covid-19. “Jadi jenazah sebelum dimakamkan itu sudah melalui prosedur. Ada tujuh lapisan dari jenazah itu sehingga tidak mungkin menular. Dan Covid-19 dalam jenazah itu juga telah mati bersamaan dengan inangnya,” jelasnya.

Sementara itu, Caecilia Kapojos menjelaskan bagaimana sulitnya merawat ibunya yang positif Covid-19. Apalagi, kata dia, ketika dilakukan isolasi mandiri di rumah dan harus bersentuhan langsung karena harus memegang ibunya ketika akan berdiri dan menyiapkan makanan dan segala keperluan lainnya.

“Tanggal 27 ibu saya dinyatakan positif Covid-19, maka saya panik langsung berangkat ke Makassar. Karena saya domisili Jakarta. Setelah dilakukan perawatan beberapa hari di rumah sakit, pada 30 Maret dibolehkan pulang dan diisolasi mandiri. Disini saya betul-betul kerepotan karena harus bersentuhan langsung. Tapi syukurnya saya tidak terinfeksi,” kata Caecilia.

Ia mengaku sangat bersyukur memiliki tetangga yang toleran sehingga sangat terbantu ketika melakukan isolasi mendiri di rumah. Menurutnya, seluruh tetangganya berperan aktif dalam melakukan pencegahan di perumahan. Terutama, kata dia, Ketua RT dan RW tempatnya tinggal sangat membantu terutama dalam melakukan penyemprotan desinfektan.

“Keluarga dan tetangga sangat baik dan toleran. Mereka semua membantu saya dan keluarga selama melakukan isolasi mandiri di rumah. Bahkan, ketika saya tidak bisa keluar rumah, para tetanggalah yang belanja keperluan saya. Kemudian mereka menyimpan di depan rumah, ketika mereka sudah menjauh barulah saya ambil belanjaan itu,” jelasnya.

Karena itu, ia berharap agar masyarakat juga tidak melakukan stigmatisasi terhadap pasien positif Covid-19 dan keluarganya. “Baiknya kita saling mendukung, apalagi ketika pasien positif itu Lansia. Butuh perhatian terutama dari keluarga. Maka baiknya menghindari untuk menjustifikasi kami kelurga pasien positif,” jelasnya.

Sementara Chika Mailoa menceritakan bagaimana dirinya terpapar Covid-19. Awalnya, kata dia, ibunya yang mengalami sakit seperti demam dan batuk. Menurutnya, dirinya bersama keluarga belum berpikir jika ibunya terkena Covid-19 karena masih berpikir jika sakitnya tersebut masih biasa dan kurang istirahat.

“Awalnya sih ibu yang sakit. Dan gejalanya itu demam dan batuk kemudian susah untuk bernafas. Setelah beberapa hari, saya juga ikut sakit dan gejalanya sama persis dengan ibu. Saya sulit bernafas ketika itu. Dan pada 25 Maret saya ke rumah sakit dan diopname. Ibu sendiri diopname itu sejak 19 Maret. Tanggal 30 Maret saya sama ibu dinyatakan postifi Covid-19,” kata Chika.

Saat ini, kata dia, dirinya masih menjalani isolasi di rumah sakit. Sementara, kata Chika, ayahnya dinyatakan negatif setelah melakukan test pada 2 April lalu. “Saya saat ini masih menjalani isolasi di rumah sakit. Syukurnya, tes terakhir saya sudah dinyatakan negatif tapi tetap mengikuti arahan tim medis untuk isolasi. Kalau untuk ayah itu hasilnya negatif,” ujarnya.

Ia pun sangat mengapresiasi tim medis yang bekerja sebagai garda terdepan dalam melawan Covid-19. Menurutnya, tim medis yang selama ini merawatnya sangat peduli dan bekerja secara profesional. “Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada tenaga medis. Selama saya diisolasi mereka selalu profesional,” katanya.

Terkait dengan banyaknya masyarakat yang masih berkerumun dan berkelompok, Chika mengaku sangat miris. Menurutnya masih banyaknya warga dan masyarakat yang tidak mendengar imbauan dari pemerintah untuk sementara tidak keluar rumah karena mereka belum merasakan bagaimana rasanya ketika menjadi pasien positif Covid-19.

“Saya kira mirislah melihat masyarakat yang tidak mendengar imbauan pemerintah. Saya telah merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi pasien positif Covid-19. Kita harus menjalani isolasi di rumah sakit dan lain-lain. Bagaimana rasanya sulit untuk bernafas dan fungsi indra penciuman kita menurun dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Relawan Gugus Tugas Minta Kemenkes Terbitkan STR untuk Relawan Kesehatan

KabarMakassar.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah merekrut relawan sebanyak sejumlah 18.830 orang. Relawan itu terdiri dari 3.412 orang tenaga medis, 15.814 orang non medis dan 2167 orang relawan hotline. Pendaftaran relawan itu dilakukan melalui website milik desk relawan BNPB, Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, dan berbagai komunitas.

Koordinator Tim Relawan Gugus Tugas, Andre Rahadian mengatakan jika bidang relawan medis sedang berupaya merekapitulasi data yang masuk dari berbagai pihak dan organisasi dan juga mengumpulkan data dari RS rujukan dan RS darurat terkait kapasitas dan kebutuhan tambahan relawan medis yang diminta.

“Saat ini sudah ada 396 relawan medis di RS Wisma Atlit dan masih dibutuhkan sekitar 1,512 orang. Untuk rumah sakit di bawah Kementrian Pertahanan juga membutuhkan 50 orang dokter dengan beberapa dokter spesialis dan 250 orang perawat, sedangkan total data yang dimiliki oleh tim kementrian kesehatan hanya sekitar 1,000an yang siap” kata Andre.

Ia mengaku jika tim relawan perlu adanya terobosan dengan kerjasama antara Kementrian Kesehatan, Konsil Kedokteran dan organisasi profesi untuk membolehkan mekanisme Surat Tanda Register (STR) sementara untuk dokter dan perawat agar bisa memenuhi kebutuhan yang ada. “Mereka ini akan diberikan insentif tunai sebagai tambahan dari insentif yang diberikan pemerintah” ujarnya.

Selain menyalurkan tenaga kesehatan, pihaknya juga sedang membangun SOP/Protokol Monitoring Evaluasi. Tujuannya untuk mengurangi jatuhnya korban tenaga kesehatan. Karenanya, 13 April nanti bidang relawan medis akan bergerak dan menerapkan sistem koordinasi berjenjang dengan 4 area kerja yakni Barat, Tengah, Timur Indonesia dan Jakarta.

“Setiap wilayah akan ada koordinator yang akan memonitor di setiap provinsi yang ada di wilayah kerjanya,” ujarnya.

Termasuk, kata dia, pada senin 13 April juga akan dilakukan pelatihan relawan non medis yang akan akan dilakukan melalui media online. Pelatihan itu dilakukan beberapa kali pada tiap minggunya dengan peserta pelatihan sekitar 200-250 orang per sesi. Nantinya, kata dia, relawan yang ditugaskan akan diberikan buku saku mengenai materi yang telah diberikan.

“Materi yang diberikan terkait informasi dasar Covid-19, protokol relawan, keamanan dan pengamanan, dan uraian situasi seperti tanggap darurat, transisi darurat, rehab dan rekondisi. Materi akan diberikan dengan kolaborasi bersama RedR Facilitators, RedR training alumni, dan mitra seperti WHO dan BNPB,” jelasnya.

Andre menambahkan pihaknya juga telah bertemu dengan BAZNAS yang akan menempatkan 1 perwakilannya untuk masuk dalam tim relawan sebagai penghubung dengan lembaga yang tergabung dalam Humanitarian Forum Indonesia (HFI) yang merupakan forum lembaga kebencanaan lintas iman di Indonesia.

“Kami juga sudah mengundang banyak organisasi yang biasa terlibat dalam penanganan bencana seperti ORARI, Satkornas Banser, JKMC, jaringan interfaith seperti Gusdurian, PGI, WALUBI, dan lain-lain untuk melakukan monitoring dan pendataan kelompok rentan yang tidak tercover oleh program bantuan pemerintah,” pungkasnya.

Pemkab Diminta Sanksi Pasien Covid-19 yang Tak Patuhi Aturan

KabarMakassar.com — Sejumlah warga di Kelurahan Penrang, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, menuntut ketegasan pemerintah setempat untuk memberikan sanksi kepada pasien positif Covid-19 tanpa gejala, yang tak mematuhi aturan atau prosedur isolasi mandiri.

Desakan dalam bentuk aksi protes ini dilakukan sejumlah warga pada Ahad (12/4), menyusul adanya salah satu pasien positif Covid-19 tanpa gejala atau OTG yang melakukan isolasi mandiri, namun oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya, yang bersangkutan dianggap tidak mematuhi aturan isolasi mandiri.

“Kami minta pemkab tegas dan konsisten dalam menangani Covid-19 di Pinrang. Termasuk pasien yang sedang menjalani isolasi mandiri, berikan sanksi tegas jika tidak patuh terhadap prosedur isolasi. Ini membahayakan orang lain,” kata salah seorang warga yang meminta namanya tak disebutkan.

Terkait aksi protes yang sempat dilakukan sejumlah warga di Kelurahan Penrang tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang, Dyah Puspita Dewi mengatakan, pasien positif Covid-19 berstatus OTG yang diprotes warga itu sebenarnya sudah diasingkan oleh pihak keluarganya ke suatu tempat, Sabtu (11/4) kemarin.

Hanya saja, kata dia, hari ini yang bersangkutan pulang kembali ke rumahnya di Kelurahan Penrang.

“Mereka pulang sendiri ke rumahnya. Sebenarnya tidak ada masalah, mau padat penduduk atau tidak, yang penting isolasi mandirinya dipatuhi. Tidak keluar rumah dan tidak dikunjungi siapapun termasuk keluarga. Ini disepakati dengan penandatanganan dari pihak keluarga dan dipasang police-line bila melanggar akan dikenakan sanksi,” kata Dewi.

Dewi menjelaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pinrang memang tidak menyiapkan tempat khusus untuk isolasi pasien positif Covid-19 yang berstatus OTG. Sebab, sesuai protap maupun protokol kesehatan yang ada, pasien tersebut bisa melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

“Kita sudah sebenarnya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat, bahwa isolasi mandiri di rumah bisa dilakukan oleh pasien positif Covid-19 yang berstatus OTG, namun harus sesuai protap,” jelasnya.

“Jadi, tadi dari pihak keamanan sudah membubarkan masa yang melakukan aksi protes untuk kembali ke rumah masing-masing,” pungkasnya.

Menunggu Hasil Swab, 1 PDP Meninggal di RSUD Bulukumba

KabarMakassar.com — Seorang yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP), meninggal dunia di RSUD H.A. Sultan Daeng Raja Bulukumba, Ahad (12/4) sekira pukul 03.30 Wita.

Pasien berumur 72 tahun tersebut merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Palangisang, Kecamatan Ujung Loe, yang dirujuk ke RSUD H.A. Sultan Daeng Raja Bulukumba pada Sabtu (11/4) kemarin, dengan gejalan klinis batuk dan pneumonia.

“Hasil pemeriksaan swab pasien tersebut telah dikirim ke Makassar kemarin, dan sementara ditunggu untuk penetapan statusnya,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bulukumba, Daud Kahal

Namun, kata dia, sesuai dengan protokol kesehatan, jenazah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang diisolasi di Rumah Sakit dan hasil laboratorium yang menyatakan jika yang bersangkutan negatif, maka penanganan atau pemulasaran jenazahnya dilakukan selayaknya pasien positif Covid-19.

“Saat ini sedang dipersiapkan pemakaman di kampung halamannya di Palangisang, Desa Balleanging, Kecamatan Ujung Loe,” terang Daud.

Daud menambahkan, seluruh petugas medis di RSUD H.A. Sultan Daeng Raja Bulukumba yang menangani pasien tersebut juga sudah diperintahkan untuk melakukan isolasi mandiri, sambil dilakukan pemantauan oleh tim surveilance.