Prof. Idrus Umumkan Dirinya Positif Covid-19, Begini Respon Rektor Unhas

KabarMakassar.com — Rabu (25/3) siang, pemerintah secara resmi mengumumkan adanya penambahan sebanyak 105 pasien di Indonesia yang telah dinyatakan positif Covid-19, dimana 9 diantaranya berada di Sulawesi Selatan.

Dengan adanya tambahan 9 pasien baru ini, secara total jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel bertambah menjadi 13 orang.

Tak lama setelah pengumuman itu atau sekitar pukul 17.00 WITA, Prof. Idrus A. Paturusi (Rektor Universitas Hasnuddin periode 2006 – 2010 dan 2010 – 2014) mengumumkan bahwa dirinya positif Covid-19, dan telah berada di Ruang Isolasi Rumah Sakit Unhas.

Informasi yang disampaikan melalui anak kandungnya ini sangat mengagetkan civitas akademika Universitas Hasanuddin (Unhas). Berbagai ucapan do’a memohon kesembuhan dan keselamatan dari para dosen dan pegawai yang disampaikan melalui berbagai grup WA internal Unhas pun mengalir.

Rektor Unhas, Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu mengatakan semangat yang ditunjukkan oleh Prof. Idrus sangat luar biasa.

Prof. Idrus, kata dia, dikenal aktif dalam merespon setiap peristiwa kemanusiaan, termasuk membantu menangani wabah Covid-19.

“Beliau merupakan motor penggerak Tim Satgas Covid-19 Unhas yang intensif melakukan koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar RSPTN Unhas bisa turut serta dalam pemeriksaan virus,” kata Prof. Dwia melalui pernyataan tertulisnya.

Selain itu, lanjut Prof. Dwia, Prof. Idrus juga aktif menggalang dan mengajak berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam gerakan mengatasi pandemi Covid-19, termasuk dengan Kodam XIV Hasanuddin, Polda Sulawesi Selatan, tokoh-tokoh masyarakat, dan pihak swasta.

“Kemarin beliau masih kontak saya, menyampaikan bahwa beliau saja mengecek kesiapan Lab BSL-3 Rumah Sakit Unhas yang dipersiapkan untuk mendeteksi virus. Beliau menyampaikan apa-apa saja yang masih kurang di lab tersebut,” terang Prof. Dwia.

Menurut Prof. Dwia, semangat yang ditunjukkan oleh Prof. Idrus dalam masalah kemanusiaan bukan kali ini saja. Ketika bencana tsunami menerjang Aceh pada tahun 2004, Prof. Idrus adalah relawan pertama yang datang ke lokasi yang porak poranda. Begitu juga setiap peristiwa kemanusiaan lainnya, beliau selalu hadir.

Lebih jauh Prof. Dwia mengatakan, sikap Prof. Idrus yang secara terbuka mengumumkan bahwa dirinya positif terjangkit Covid-19 tentunya dilandasi oleh kesadaran beliau bagaimana seharusnya wabah ini diatasi.

“Itu karena sensitifitas beliau yang tanggap bencana. Kita sangat hargai sekali. Prof. Idrus ingin agar orang-orang yang pernah berinteraksi dengan dirinya dalam beberapa hari terakhir ini segera mawas diri, melakukan isolasi mandiri, atau memeriksakan diri jika mengalami gejala klinis,” ujar Prof. Dwia.

Peristiwa ini merupakan peringatan bagi siapa saja, bahwa semua orang berpotensi untuk terpapar Covid-19. Keterbukaan seperti yang ditunjukkan Prof. Idrus adalah langkah pencegahan aktif. Ini akan memicu kesadaran bersama untuk selalu berhati-hati.

“Mari kita bersama-sama mendo’akan kesehatan dan kesembuhan beliau. Semoga apa yang telah beliau lakukan selama ini, dedikasi, dan pengabdiannya, akan menjadi amalan untuk kesembuhan beliau. Amin,” tutup Prof. Dwia.

KA-KBUI 98 Minta Pemerintah Karantina Wilayah Zona Merah Penyebaran Covid-19

Kabarmakassar.com — Wabah pandemi virus Corona (Covid-19) telah melanda dunia dan menyebabkan banyak orang terinfeksi virus tersebut. Kondisi penyebaran Covid-19 pertama kali terdeteksi sebagai kasus pneumonia sekitar 8 Desember 2019 di Wuhan, China, dan diumumkan pemerintah setempat pada 20 Januari 2020.

Kemudian sejak itu, terlihat penyebaran Covid-19 ini di banyak negara. Pada 11 Maret 2020, Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global karena telah menyebar di 121 negara dengan jumlah orang terinfeksi lebih dari 121.000, termasuk di Indonesia.

Hingga 25 Maret 2020, Covid-19 telah mewabah di 168 negara dengan jumlah yang terjangkit di seluruh dunia telah mencapai 417.582 kasus, dengan korban meninggal dunia sebanyak 18.612 orang. Lalu jumlah pasien yang sembuh tercatat sebanyak 107.247 orang (berdasarkan data dari John Hopkins CSSE).

Di Indonesia, Pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertama Covid-19 pada 2 Maret 2020. Kini sebaran warga terpapar Covid-19 hampir ada di semua provinsi dengan kategori-kategori: ODP (Orang Dengan Pengawasan), PDP (Pasien Dengan Pengawasan), Suspect, Positif dan atau meninggal.

Lebih 50 persen provinsi telah mengeluarkan atau menetapkan kondisi/status tertentu, seperti: KLB (Keadaan Luar Biasa), Tanggap Darurat, Siaga Darurat Bencana, dan Siaga.

Sejauh ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperpanjang status masa tanggap keadaan darurat akibat Covid-19 sampai tanggal 29 Mei 2020. Hal ini dilakukan skala penyebaran virus tersebut sudah meluas dan dikategorikan skala nasional.

Sedangkan Pusat Permodelan Matematik dan Simulasi (P2MS) Intitut Teknologi Bandung (ITB) melihat trend positif Covid-19 semakin naik dan memprediksi puncaknya pada bulan Juni 2020. Prediksi tersebut bersifat dinamis, bergantung pada perkembangan kasus kemudian.

Masalah-masalah yang muncul terkait penanganan COVID-19 di Indonesia:

Koordinator Kesatuan Aksi Keluarga Besar Universitas Indonesia (KA-KBUI) 98, Damar Juniarto melalui pernyataan tertulisnya menyampaikan, berdasarkan catatan KA-KBUI 98, ada beberapa maslah yang menonjol terkait penyebaran Covid-19 di Indonesia dan harus menjadi perhatian serius.

Pertama, 2 bulan di awal sejak kemunculan Covid-19 pada Januari – Februari 2020, pemerintah Indonesia kelihatan menganggap enteng dan tidak melakukan persiapan yang memadai untuk mengantisipasi pandemi Ccovid-19. Ketika kasus pertama terjadi di bulan Maret 2020, pemerintah tidak siap dan mengorbankan para tenaga medis, dokter, perawat, relawan untuk menangani kasus Covid-19 tanpa peralatan medis dan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. Sampai 24 Maret 2020, setidaknya sudah 6 dokter dan 1 tenaga kesehatan meninggal dunia terinfeksi dari pasien COVID-19.

Kedua, keterlambatan melakukan tes massal Covid-19. Imbas dari sikap anggap enteng pandemi Covid-19 ini adalah tidak dilakukannya tes massal Covid-19 dengan segera di epicentrum-epicentrum penyakit, seperti Jakarta dan Bali. Pengadaan tes cepat massal baru dilakukan setelah pemerintah dikritik oleh WHO dan masyarakat, itu pun baru dilaksanakan pada minggu ini dengan jumlah yang terbatas (tidak masif).

Ketiga, perlindungan data penderita dan literasi atas Covid-19 rendah dan tersentralisasi, sehingga di masyarakat luas memunculkan stigma dan pengucilan terhadap ODP, PDP, pasien Covid-19 dan para tenaga kesehatan yang menangani mereka.

Keempat, mitigasi dari pelaksanaan kebijakan Stay At Home tidak dibarengi dengan insentif bagi masyarakat kelas bawah sehingga menimbulkan imbas ancaman kelaparan akibat tidak bisa mendapatkan nafkah yang cukup.

Menyikapi situasi tersebut, KA-KBUI 98 meminta agar pemerintah:

  1. Mencegah dan memutus mata rantai penularan COVID-19 dengan segera melakukan karantina wilayah di daerah zona merah tanpa melupakan Hak Asasi Manusia secara politik, sipil,ekoonomi,sosial dan budaya menurut Kovenansi-Konvensi PBB dalam keadaan darurat.
  2. Percepat rapid test bagi masyarakat yang membutuhkan menurut skala prioritas standard WHO dan ahli medis mengenai siapa yang didahulukan untuk dites. Bukan menggunakan standar politisi! Alasan keterbatasan dana untuk pelaksanaan masif rapid test yang efektif, tidak bisa diterima oleh rakyat pembayar pajak. Segera alokasikan anggaran APBN/D yang tepat dengan pengawasan penerapan program-program dari alokasi APBN/D tersebut secara ketat dan serba digital. Keterlambatan ini membuat rapid test masih sedikit dilakukan dibandingkan dengan proporsi penduduk di daerah merah tentu akan berdampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan warga negara. Pelaksanaan rapid test massal harus dilakukan dengan metode yang tepat dengan mencegah orang untuk berbondong-bondong dan berkumpul antri untuk rapid test.
  3. Memberikan alat-alat keamanan kesehatan standar Covid-19 bagi para dokter, perawat, cleaning service dan seluruh staf rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya, yang menangani langsung pasien Covid-19 supaya bisa menjalankan protokol pelayanan, pencegahan dan penanganan dengan maksimal.
  4. Memperhatikan masyarakat yang terkena dampak ekonomi dari penyebaran Covid-19 dengan memberikan insentif yang cukup masuk akal untuk kebutuhan pokok 1 keluarga tiap bulan, penundaan pembayaran cicilan, tunjangan PHK bagi yang dirumahkan.
  5. Menindaktegas kepada pelaku usaha dan atasan kantor pemerintah yang masih mengabaikan penanganan Covid-19, karena:
    a. Mayoritas tidak memberlakukan kebijakan “bekerja di rumah”,
    b. Tidak memberlakukan shift terbatas untuk pegawai-pegawai yang harus melayani konsumen/ warga negara atau harus bertugas dengan tatap muka dengan rekannya, semisal di pergudangan, kurir,dll.
    c. Tidak menyediakan alat-alat dan protokol kebersihan dan kesehatan terkait pencegahan penyebaran virus Korona di tempat usahanya/ kantor/ maupun bagi pegawai di lapangan (contoh: pegawai gudang, tukang masak, dan kurir misalnya).
  6. Memastikan pasokan dan distribusi kebutuhan (sembako, medis termasuk sanitasi dan kebutuhan pokok lainnya) berjalan dengan baik, terkontrol, merata dengan memperhatikan keamanan, keselamatan dan kesehatan pekerja dan pelaku serta pegawai usaha UMKM yang terlibat.
  7. Menindaktegas penimbun dan pemain harga baik dari kalangan individu, swasta maupun dari kalangan birokrasi pemerintah sendiri demi memastikan distribusi yang baik dan merata.
  8. Membuat prosedur dan sosialisasi yang masif tentang pencegahan dan penanganan Covid-19 baik ODP, PDP, suspek, positif, wafat kepada masyarakat dengan jelas sampai ke tingkat terendah (RT), kepada para pelaku usaha, dan kepada pekerja di kantor-kantor pemerintah dan BUMN.
  9. Melarang seluruh penerbangan dan pelayaran penumpang internasional selama 21 hari. Penerbangan pesawat dan pelayaran penumpang dari negara China, Korea Selatan, Jepang, Afganistan, Filipina, Malaysia, Singapura, Australia, Uni Eropa, Inggris, Turki dilarang masuk ke Indonesia. Daftar ini harus dievaluasi per 21 hari sesuai perkembangan kasus positif Covid-19 dunia. Hanya logistik boleh masuk keluar Indonesia dengan protokol ketat dari sisi kesehatan dan keamanan.
  10. Segera menghentikan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja karena semakin tidak relevan dengan kondisi bencana sosial saat ini. Pemerintah dan DPR di tengah kondisi pandemi global yang makin parah harus memfokuskan peran negara dalam perlindungan sosial. Investasi yang diperlukan sekarang adalah solidaritas sosial.
  11. Memastikan data pribadi dari ODP, PDP, Pasien Covid-19 tidak disebarluaskan kepada publik. Penyebaran data pribadi tanpa izin pemilik data bila diumbar orang lain yang tidak punya kepentingan akan berdampak pada pengucilan, pengusiran dari tempat tinggal, dan cemoohan bagi ODP, PDP, Pasien Covid-19.
  12. Mengeluarkan pelarangan mudik dan piknik dengan menerapkan pelarangan keluar masuk dari daerah yang terkena Karantina Wilayah. Pemerintah harus memberikan ganti rugi bagi mereka yang terlanjur melakukan pembelian tiket dan pemesanan hotel.
  13. Memberlakukan protokoler perawatan dan penjagaan yang baik bagi pasien COVID-19 agar tidak kabur dari isolasi, selain juga memberikan sanksi tegas pada pasien yang kabur dan pada petugas yang lalai sehingga pasien tersebut kabur, serta mengumumkan identitasnya ke publik supaya masyarakat dapat ikut memberikan informasi yang tepat ke aparat berwenang.

Kepada Pengusaha, KA-KBUI:

  1. Mendesak untuk tidak melakukan PHK bagi pegawainya di saat pandemi Covid-19.
  2. Mendesak untuk segera memberlakukan kebijakan “bekerja di rumah” dan shift kerja terbatas untuk pegawai-pegawai yang harus melayani konsumen/ warga negara atau harus bertugas dengan tatap muka dengan rekannya, semisal di pergudangan, para kurir, koki masak, dsb
  3. Mendesak untuk menyediakan alat-alat dan protokol kebersihan dan kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid-19 di tempat usahanya/ kantor/ maupun bagi pegawai di lapangan
  4. Mendukung pemerintah dalam upaya menjamin ketersediaan pangan/sembako, medis, sanitasi dan kebutuhan pokok lainnya.
  5. Memastikan data pribadi dari ODP, PDP, Pasien Covid-19 dari karyawan perusahaan tidak disebarluaskan kepada publik tanpa izin yang bersangkutan. Pengumbaran oleh orang lain yang tidak punya kepentingan akan berdampak pada pengucilan, pengusiran dari tempat tinggal, dan cemoohan bagi ODP, PDP, dan pasien Covid-19.

Kepada Masyarakat, KA-KBUI 90 meminta agar:

  1. Ikut mencegah dan memutus mata rantai penularan COVID-19 dengan melakukan disinfeksi, jaga jarak, dan tetap tinggal di rumah.
  2. Patuh kepada instruksi Karantina Wilayah yang dikeluarkan
  3. Bersolidaritas terhadap mereka yang terkena dampak buruk dari penyebaran Covid-19, secara khusus kepada:
    a. Mereka yang terdampak secara ekonomi yang menyebabkan mereka kelaparan, kehilangan pekerjaan.
    b. Garda terdepan di kelompok medis.
    c. ODP, PDP, Pasien COVID-19.
    d. Garda terdepan non medis yang tidak bisa bekerja dari rumah seperti misalnya kurir, pegawai gudang, tukang masak, dll.
  4. Tidak menyebarluaskan data pribadi dari ODP, PDP, Pasien Korona NCOVID-19 lewat media sosial dan pesan singkat, atau apa pun juga. Pengumbaran oleh orang lain yang tidak punya kepentingan akan berdampak pada pengucilan, pengusiran dari tempat tinggal, dan cemoohan bagi ODP, PDP, Pasien COVID-19.
  5. Tidak menstigma dan mengucilkan ODP, PDP, Pasien COVID-19 dan para tenaga kesehatan yang menangani mereka lewat tindakan pengusiran dari tempat tinggal, cemoohan di media sosial dan pesan singkat, atau pun cara lainnya.
  6. Batalkan mudik dan piknik.

Pemkab Bulukumba Buat Masker, DPRD Mengapresiasi

KabarMakassar.com — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bulukumba memuji langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba dalam penanganan virus corona (Covid-19).

Pasalnya, Pemkab Bulukumba melakukan aksi gerakan 1000 masker melalui UPT Balai Latihan Kerja (BLK) dan Dinas Ketenagakerjaan Bulukumba.

Legislator dari Fraksi Golkar, Juandy Tandean mengatakan masker yang dibagikan tersebut hasil kerja dari para alumni BLK yang telah lulus pelatihan.

“Saya pantau langsung serta ikut mengemas masker yang telah dibuat. Atas nama DPRD, kami memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan oleh Pemkab Bulukumba,” kata Juandy.

Menurutnya, kolaborasi Dinas Ketenagakerjaan dan UPTD BLK Bulukumba tersebut ikut berperan aktif di tengah bencana Covid-19.

“Memang perlu keterlibatan kita semua, perlu kolaborasi dan bekerja bersama,” ujarnya.

Selain itu, Juandy juga mengapresiasi para petugas medis serta relawan yang bersama-sama melakukan penanganan dan pencegahan virus Covid-19 di Bulukumba.

“Buat masyarakat kami mohon untuk selalu mengikuti petunjuk pemerintah untuk kebaikan kita bersama. Mari kita lakukan proteksi diri minimal di lingkungan keluarga kita,” katanya.

Sementara itu, Ketua Darma Wanita Persatuan Bulukumba, Irmayanti Andi Bau Amal mengaku juga turut serta terjun langsung menjahit masker yang akan dibagikan kepada masyarakat.

“Mari bersatu melawan virus Covid-19. Semoga badai ini cepat berlalu dan semoga sehat selalu untuk pejuang yang ada digaris terdepan,” kata Irmayanti.

9 Pasien Baru Positif Covid-19 Diisolasi di 3 RS di Makassar

KabarMakassar.com — Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, dr. Ichsan Mustari mengumumkan adanya penambahan sebanyak 9 pasien positif Covid-19.

Dengan begitu, jumlah total pasien positif Covid-19 di Sulsel hingga Rabu (25/3) pukul 16.14 WITA berjumlah sebanyak 13 orang, dengan nomor kasus: 773,774,775,776,777,778,779,780,781.

“Ada penambahan 9 pasien positif. Sehingga jumlah totalnya sekarang berjumlah 13 pasien,” kata Ichsan melalui video conference, Rabu (25/3) malam.

Saat ini, lanjut Ichsan, kesembilan pasien baru yang dinyatakan positif Covid-19 itu tengah menjalani isolasi di tiga Rumah Sakit yang ada di Kota Makassar.

“9 tambahan pasien positif baru ini, 5 diisolasi di RS Wahidin, 1 di RS Unhas, dan 3 di RS Siloam. Secara total sampai hari ini, pasien positif yang dirawat di Sulsel itu ada 12 orang. Di Makassar ada 12 pasien dan Parepare1 pasien,” rincinya.

Menurut Ichsan, penetapan status positif Covid-19 terhadap 9 pasien baru ini dilakukan berdasar pada hasil tes yang dilakukan di Laboratorium Universitas Hasanuddin (Unhas) yang ada di RSUP Wahidin Sudirohusodo.

“Ada 29 spesimen yang diperiksa di Lab Unhas di RS Wahidin kemarin, dan 9 diantaranya dinyatakan positif. Ini yang kita umumkan hari ini,” terangnya.

Ichsan menambahkan, untuk bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini, sangat dibutuhkan kedisiplinan masyarakat untuk menerapkan social distancing atau phsycal distancing serta pola hidup bersih dan sehat.

“Jadi memang sangat dibutuhkan kesadaran dan kedisiplinan dari masyarakat supaya kita bisa sama-sama memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini,” ujarnya.

Sekadar diketahui, berdasarkan data terbaru yang dirilis Gugus Tugas Perceptan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, hingga hari ini pukul 16.00 WITA, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 158 orang (122 proses pemantauan, 36 selesai pemantauan). Sementara Pasien Dalam Pengawasan (PDP) jumlahnya sebanyak 89 orang (81 masih dirawat, 8 dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang).

Ibu Presiden Jokowi Tutup Usia

KabarMakasar.com — Ibu dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Sudjiatmi Notomiharjo, berpulang, Rabu (25/3) pukul 16.45 WIB, di Solo, Jawa Tengah. Berita duka ini disampaikan oleh Wakil Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Budi Arie Setiadi.

“Berita duka. Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Eyang Notomiharjo, Ibunda Bapak Presiden Jokowi berpulang di Solo pukul 16.45 WIB tadi,” tulis Budi Arie, seprti dikutip dari detik.com.

Kabar ini dikonfirmasi pula oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Donny Gahral Adian.

“Benar,” kata dia.

Deputi bidang Protokol, Pers, dan Media Setpres, Bey Machmudin kepada wartawan menyampaikan jika Jokowi saat ini tengah bertolak ke Solo.

“Presiden dalam penerbangan menuju Solo saat ini,” kata Bey Machmudin.

Bertambah 9, Jumlah Pasien Positif Covid-19 di Sulsel jadi 13 Orang

KabarMakassar.com — Juru Bicara Pemerintah RI untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengumumkan adanya penambahan sebanyak 105 kasus positif Covid-19 baru di Indonesia. Sehingga jumlah total saat ini menjadi 790 orang. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 58 orang, dengan jumlah yang sembuh 31 orang.

“Koreksi data 686 pasien positif kemarin, menjadi 685 kasus. Ditambah hari ini ada 105, sehingga totalnya 790 kasus,” kata Yurianto dalam keterangan persnya, di Kantor BNPB, Jakarta, pada Rabu (25/3) siang.

Berdasarkan pemaparan Yurianto, 105 pasien baru yang dinyatakan positif Covid-19 ini termasuk 9 orang yang berasal dari Sulsel. Sehingga total pasien positif Covid-19 di Sulsel hingga Rabu (25/3) sebanyak 13 orang.

Namun berdasarkan data yang dirilis di laman Covid19.sulselprov.go.id, website yang dikelola langsung oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Provinsi Sulsel, jumlah penambahan pasien positif di Sulsel ini belum dimasukkan. Hingga Rabu (25/3) pukul 18.14 WITA, jumlah pasien positif masih tercantum 4 orang (1 meninggal, 3 dirawat).

Berikut data penambahan jumlah pasien baru di masing-masing provinsi yang dinyatakan positif Covid-19 pada Rabu (25/3) siang:

  1. DKI Jakarta: 39 kasus baru
  2. Jawa Tengah: 19 kasus baru
  3. Jawa Barat: 13 kasus baru
  4. DI Yogyakarta: 11 kasus baru
  5. Sulawesi Selatan: 9 kasus baru
  6. Bali: 3 kasus baru
  7. Banten: 2 kasus baru
  8. Kalimantan Selatan: 1 kasus baru
  9. NTB: 1 kasus baru
    Dalam proses verifikasi: 7 kasus baru
    Total: 105 kasus

Posko Pra-Hospital RS Sayang Bunda Buka Layanan Pemeriksaan Gratis

KabarMakassar.com — Tim gugus penanggulangan Covid-19 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel membuka posko screening pra-hospital di Rumah Sakit (RS) Sayang Bunda, Rabu (25/3).

Tim tersebut tergabung dari berbagai relawan, lembaga dan komunitas yang ada di Kota Makassar. Diantaranya adalah dakwah peduli, lasjum dan lasi dakwah.

Koordinator Lapangan (Korlap) Relawan Non Medis, Basuki Cahyo Nugroho mengatakan jika ada masyarakat yang ingin memeriksakan diri untuk datang langsung di Pra-Hospital di RS Sayang Bunda.

“Jadi disini itu untuk free hospital, kita membantu screening sebelum pasien ke RS, jadi kalau RS terlalu penuh, kita disini akan memebantu melakukan diagnosa,” kata Basuki.

Ia mengaku jika sampai saat ini sudah 15 pasien dalam penanganan di Screening Pra-Hospital di RS Sayang Bunda. Menurutnya, pemeriksaan yang dilakukan hanya yang pokok.

“Pemeriksaan yang kita lakukan disini itu hanya yang pokok-pokok saja dulu, seperti tekanan darah, suhu tubuh, itu yang diutamakan dulu,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa di RS Sayang Bunda tidak ada pasien rujukan dan tidak perlu gunakan BPJS karena pemeriksaan secara gratis. “Ini gratis tidak dipungut biaya sama sekali,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga membuka rekening untuk membantu pasien yang dalam penanganan virus korona. “Siapa saja yang ingin melakukan bantuan bisa langsung berdonasi ke rekening 1919525258 atas nama relawan covid-19,” pungkasnya.

Cegah Covid-19, Pemkab Pinrang Minta 69 Warganya Lakukan Isolasi Mandiri

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabuaten Pinrang mengaku telah melakukan contact tracing terhadap orang-orang di wilayahnya yang pernah melakukan kontak pasien 557 (warga Pinrang yang kemarin telah dinyatakan positif Covid-19), termasuk, para jemaah umrah yang satu kloter atau rombongan dengan pasien tersebut.

Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid mengatakan, sejauh ini pihaknya telah mengidentifikasi sebanyak 69 warga pinrang yang berangkat umrah bersama dengan pasien 557.

“Kan satu kloter mereka pulang, jadi kita lakukan tracing. Sudah ditemukan, makanya kita sudah pakaikan radius 100 meter untuk isolasi, termasuk para keluarganya,” kata Irwan Hamid, Rabu (25/3).

“Mereka sudah kita minta untuk melakukan isolasi mandiri. Maka dari itu kita minta masyarakat tetap tenang. Kami dari pemkab bekerjasama dengan Polres Pinrang dan Kodim 1404/Pinrang bekerja setiap hari untuk meninjau di lapangan,” lanjutnya.

Irwan Hamid menambahkan, pihaknya juga sudah melakukan berbagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Pinrang. Diantaranya dengan melakukan penyemperotan desinfektan.

“Kami sudah koordinasi untuk dilakukan penyemprotan desinfektan tiap hari,” terangnya.

Sekadar diketahui, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, dr. Ichsan Mustari, Selasa (24/3) sore, mengumumkan adanya tambahan 2 pasien di Sulsel yang dinyatakan positif terjangkit Virus Corona (Covid-19) di Sulsel. Keduanya masing-masing pasien 309 dan pasien 557.

Ichsan menjelaskan, pasien 309 merupakan warga Kota Makassar yang dirawat dan diperiksa swab di Jakarta. Hasilnya dinyatakan positif terjangkit Covid-19.

“Yang bersangkutan kemudian dirujuk ke Makassar sesuai prosedur yang ditetapkan oleh Kemenkes. Karena yang bersangkutan ini memang tinggal (warga) Makassar. Sampai di Makassar, dia ke RS Wahidin untuk diperiksa, dan karena keadaaannya sudah tidak ada gejala-gejala lagi, makanya dia diputuskan untuk isolasi mandiri di rumah. Jadi tidak dirawat lagi di Makassar,” kata Ichsan melalui video conference, Selasa (24/3) sore.

Sementara untuk pasien 557, lanjut Ichsan, saat ini yang bersangkutan sementara dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare.

Menurut Ichsan, pasien 557 ini memiliki riwayat baru pulang dari menunaikan ibadah umrah pada tanggal ada tanggal 24 Februari sampai 8 Maret 2020.

Setelah pulang dari umrah, yang bersangkutan mengalami demam dan batuk. Tanggal 16 Maret, pasien tersebut dirawat di RS Fatimah Parepare. Kemudian tanggal 17 Maret dirujuk ke RSUD Andi Makkasau Parepare dengan keluhan batuk demam, dan sakit kepala.

“Tanggal 17 itu dia masuk ke RSUD Andi Makkassau, dan dilakukan pengambilan sampel atau spesimennya. Yang bersangkutan kemudian dinyatakan positif Covid-19 pada tanggal 24 Maret. Pasien 557 ini merupakan warga Pinrang, tetapi dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare,” terang Ichsan.

Ichsan menegaskan, Pemerintah Provinsi Provinsi dan pemerintah kabupaten kota di Sulsel sangat serius melakukann penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19 ini.

“Tim kita terus bekerja untuk melakukan pelacakan atau contact tracing terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan pasien positif. Kita juga terus mengimbau masyarakat untuk melakukan social distancing atau phsyical distancing. Pasalnya, hanya dengan ini kita bisa melakukan pemutusan mata rantai penularannya,” pungkasnya.

Wastafel Portable Mulai Terpasang di Sejumkah Titik di Makassar

KabarMakassar.com — Gerakan solidaritas bersama Makassar lawan Covid-19 terus dikobarkan. Selain penyemprotan disinfektan, Pemerintah Kota Makassar juga melakukan pemasangan Wastafel Portable di ruang-ruang publik di Kota Makassar.

Pj Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb berkeliling ke sejumlah tempat, diantaranya Pasar Pa’baeng-baeng, Karebosi, serta Pelabuhan Paotere, untuk memastikan alat cuci tangan untuk warga ini terpasang dengan baik.

“Ada warga kita yang terpaksa harus keluar rumah untuk kebutuhan yang mendesak, seperti membeli obat-obatan, belanja kebutuhan pokok dan lain-lain. Itu kan tidak bisa dilarang. Makanya agar lebih aman, kita siapkan tempat cuci tangan lengkap dengan air dan sabunnya yang nantinya akan terus disuplai oleh PDAM kota Makassar,” kata Iqbal, disela peninjauan yang dilakukannya di Pasar Pa’baeng-baeng, Rabu (25/3/2020).

“Prioritas kita adalah kebersihan warga untuk rutin mencuci tangan. Jadi saat datang dan akan pergi diharapkan warga selalu mampir cuci tangan di tempat yang disiapkan. Selain itu, pengetatan social distancing diantara warga, serta seruan untuk tetap tinggal di rumah akan terus kita gelorakan sebagai gerakan solidaritas bersama melawan penyebaran virus ini,” lanjut Iqbal.

Di tempat yang sama, Direktur Keuangan PDAM Kota Makassar, Asdar Ali menjelaskan, pengadaan dan pendistribusian alat cuci tangan ini ke sejumlah ruang publik merupakan arahan dari Pj Walikota.

“Beberapa waktu yang lalu Pak Wali (Iqbal) sudah perintahkan untuk segera merakit alat cuci tangan yang mudah dipasang dan diakses oleh warga saat beraktifitas di luar rumah. Itu yang kami respon, dan alhamdulillah saat ini sudah ada beberapa yang selesai dan langsung kita distribusi ke tempat-tempat umum,” ujar Asdar.

KabarMakassar.com — Gerakan solidaritas bersama Makassar lawan Covid-19 terus dikobarkan. Selain penyemprotan disinfektan, Pemerintah Kota Makassar juga melakukan pemasangan Wastafel Portable di ruang-ruang publik di Kota Makassar.

Pj Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb berkeliling ke sejumlah tempat, diantaranya Pasar Pa’baeng-baeng, Karebosi, serta Pelabuhan Paotere, untuk memastikan alat cuci tangan untuk warga ini terpasang dengan baik.

“Ada warga kita yang terpaksa harus keluar rumah untuk kebutuhan yang mendesak, seperti membeli obat-obatan, belanja kebutuhan pokok dan lain-lain. Itu kan tidak bisa dilarang. Makanya agar lebih aman, kita siapkan tempat cuci tangan lengkap dengan air dan sabunnya yang nantinya akan terus disuplai oleh PDAM kota Makassar,” kata Iqbal, disela peninjauan yang dilakukannya di Pasar Pa’baeng-baeng, Rabu (25/3/2020).

“Prioritas kita adalah kebersihan warga untuk rutin mencuci tangan. Jadi saat datang dan akan pergi diharapkan warga selalu mampir cuci tangan di tempat yang disiapkan. Selain itu, pengetatan social distancing diantara warga, serta seruan untuk tetap tinggal di rumah akan terus kita gelorakan sebagai gerakan solidaritas bersama melawan penyebaran virus ini,” lanjut Iqbal.

Di tempat yang sama, Direktur Keuangan PDAM Kota Makassar, Asdar Ali menjelaskan, pengadaan dan pendistribusian alat cuci tangan ini ke sejumlah ruang publik merupakan arahan dari Pj Walikota.

“Beberapa waktu yang lalu Pak Wali (Iqbal) sudah perintahkan untuk segera merakit alat cuci tangan yang mudah dipasang dan diakses oleh warga saat beraktifitas di luar rumah. Itu yang kami respon, dan alhamdulillah saat ini sudah ada beberapa yang selesai dan langsung kita distribusi ke tempat-tempat umum,” ujar Asdar.

Sekadar diketahui, beberapa wastafel portabel yang sudah terpasang yakni di Pelabuhan Paotere, Karebosi, Pasar Pa’baeng-baeng, Pasar Butung, Lapangan Hertasning, Pasar Terong, serta beberapa tempat lainnya.

Sekadar diketahui, beberapa wastafel portabel yang sudah terpasang yakni di Pelabuhan Paotere, Karebosi, Pasar Pa’baeng-baeng, Pasar Butung, Lapangan Hertasning, Pasar Terong, serta beberapa tempat lainnya.

2.000 APD Bantuan BNPB Disalurkan ke 11 Rumah Sakit di Sulsel

KabarMakassar.com — Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Andi Sumangerukka menyerahkan 2.000 buah Alat Pelindung Diri (APD) dan fasilitas kesehatan, bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk 11 Rumah Sakit (RS) rujukan maupun penyangga penanganan Covid-19 di Sulsel, Rabu (25/3).

11 RS di Sulsel yang mendapat bantuan APD dari BNPB tersebut yakni: RST Pelamonia, RSUP Wahidin Sudirohusodo, RSUD Maros, RS UNHAS, RS DR Tajudin, RS Labuang Baji, RSUD Sinjai, RSUD Lakipadada Toraja, RST Parepare, dan RS Bhayangkara.

Pangdam Hasanuddin mengatakan dengan adanya bantuan APD ini dapat membantu para petugas kesehatan yang berada di garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

“Insya Allah ini bisa membantu petugas-petugas kesehatan kita yang saat ini berada di garda terdepan,” kata Sumangerukka, saat menyerahkan bantuan tersebut kepada empat perwakilan RS di halaman RS Pelamonia Makassar.

“Karena salah satu tantangan, baik dari para petugas kita adalah memastikan mereka tidak terpapar. Sehingga alat-alat ini menjadi sangat penting. Oleh karena itu manfaatkan dengan baik alat pelindung ini khususnya para petugas medis, alat ini akan diperoleh secara bertahap,” sambungnya.

Terpisah, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengaku bersyukur APD bantuan dari BNPB ini telah tiba dan bisa langsung dibagikan ke sejumlah RS yang telah ditunjuk sebagai RS rujukan maupun penyangga penanganan Covid-19.

“Alhamdulillah, hari ini telah tiba APD sebanyak 2.000 buah, dan langsung dibagikan ke sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 di wilayah Sulawesi Selatan,” kata Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah.

Nurdin memastikan, distribusi APD ini ditangani langsung petugas medis, jajaran Pemprov Sulsel dan anggota TNI-Polri yang turut membantu sebagai bentuk kolaborasi untuk mencegah penularan Covid-19 di wilayah Sulsel.

“Semoga dengan adanya APD ini dapat memudahkan kerja para petugas medis kita, dan kita doakan semoga mereka semua diberikan kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas mulia ini,” ujarnya.

Berikut bantuan APD yang akan diterima kepada Rumkit rujukan penanganan covid-19 di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara:

a. Wilayah Sulawesi Selatan
1) RST Pelamonia 10 koli/500 pcs
2) RSUP Wahidin Sudirohusodo 5 koli /250 pcs
3) RS Bhayangkara 2 koli/100 pcs
4) RSUD Maros 2 koli/100 pcs
5) RS UNHAS 1 koli/50 pcs
6) RS. Dr. Tajudin Chalid 1 koli/50 pcs
7) RSUD Labuang Baji 1 koli/50 pcs
8) RSUD Sinjai 1 koli/50 pcs
9) RSUD Lakipadada Toraja 1 koli/50 pcs
10) RST Parepare 1 koli/50 pcs
11) RST Bone 1 koli/50 pcs

b. Wilayah Sulawesi Barat
1) RSUD Mamuju 2 koli/100 pcs

c. Wilayah Sulawesi Tenggara
1) RST Kendari 2 koli/100 pcs
2) RSU Bahteramas 2 koli/100 pcs