Pemkot Makassar Gelar Pelantikan Pejabat di Tengah Gencarnya Imbauan Social Distancing

KabarMakassar.com — Sejak mewabahnya Virus Corona (Covid-19), seluruh jajaran pejabat pemerintahan mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah termasuk Kota Makassar, tak henti-hentinya menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Tapi ironisnya, di tengah gencarnya imbauan kepada masyarakat baik secara langsung maupun melalui surat edaran untuk melakukan sosial distancing atau physical distancing dan tidak menggelar kegiatan yang melibatkan banyak orang, Pemerintah Kota Makassar malah menggelar pelantikan 23 pejabat eselon III.

Pelantikan para pejabat eselon III yang dilakukan oleh Sekretaris Daerah Kota Makassar, Muh Anshar ini ddigelar di Ruang Rapat Sekda kota Makassar, di Lantai 9 Kantor Walikota Makassar, Selasa (24/3). Hal ini pun menjadi sorotan dari banyak pihak.

Penjabat Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb berdalih, pelantikan ini tidak menghadirkan orang banyak, sehingga tak menjadi masalah.

“Makanya tadi hanya sedikit yang hadir. Kita tidak mengundang, dan mereka juga dibuatkan jarak aman. Jadi tidak saling berdekatan,” kata Iqbal.

Iqbal menjelaskan, pelantikan ini bukanlah mutasi. Akan tetapi pengisian kekosongan pejabat di lingkup Pemerintah Kota Makassar.

“Ini hanya pengisian jabatan kosong, tidak ada mutasi,” ujarnya.

Berikut nama-nama pejabat yang dilantik:

  1. Andi Ardhi Rahadian Sulham (Camat Makassar)
  2. Andi Asminullah (Camat Rappocini)
  3. Syarifuddin Saleh (Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Kota Makassar)
  4. drg Hasni (Wakil Direktur Pelayanan RSUD Kota Makassar)
  5. Iswadi (Kabag Keuangan Setda Kota Makassar)
  6. Muh Fuad Azis (Kabag Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Setda Kota Makassar)
  7. Jabbar sebagai (Kepala Bagian Persidangan Sekretariat DPRD Kota Makassar)
  8. Andi Rahmat (Sekretaris BPKAD Kota Makassar)
  9. Akbar Gobel (Kepala Bagian Pelayanan Masyarakat RSUD Kota Makassar)
  10. Husaini Salam (Kabid Penegakan Perda Satpol PP)
  11. Saenal Abidin (Kabid Persampahan Limbah B3 & peningkatan Kapasitas DLH)
  12. Andi Pattiroi (Sekcam Biringkanaya)
  13. Syahidudin Muchtar (Sekcam Bontoala)
  14. Patahulla (Sekcam Mariso)
  15. M Rizal Zain R (Sekcam Mamajang)
  16. Reskianto Mulyawan Hafid (Sekcam Makassar)
  17. Yudistira Ekaputra Nugraha (Sekcam Manggala)
  18. Andi Eldi Indra Malka (Sekcam Tamalate)
  19. Daud (Sekcam Tamalanrea)
  20. Amirai HM (Sekcam Ujung Pandang)
  21. Saiful (Sekcam Ujung Tanah)
  22. Syamsul (Sekcam Panakkukang)
  23. Andi Musjarafah Baso Lewa (Sekcam Wajo)

2 dari 4 Pasien Positif Covid-19 di Sulsel Baru Pulang Umrah

KabarMakassar.com — Pasien positif virus Corona (Covid-19) di Sulsel bertambah 2 orang, sehingga totalnya saat ini menjadi 4 orang. Hal ini disampaikan langsung Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel, dr. Ichsan Mustari melalui video conference, Selasa (24/3) sore.

Ichsan mengatakan, dua pasien tambahan positif Covid-19 tersebut masing-masing pasien 309 dan pasien 557.

Menurut Ichsan, satu dari dua pasien tambahan yang dinyatakan positif Covid-19 ini, yakni pasien 557, diketahui memiliki riwayat baru saja melakukan ibadah umrah pada 24 Februari hingga 8 Maret 2020 kemarin.

Setelah pulang dari umrah, yang bersangkutan mengalami demam dan batuk. Tanggal 16 Maret, pasien tersebut dirawat di RS Fatimah Parepare. Kemudian tanggal 17 Maret dirujuk ke RSUD Andi Makkasau Parepare dengan keluhan batuk, demam dan sakit kepala.

“Tanggal 17 itu dia masuk ke RSUD Andi Makkassau, dan dilakukan pengambilan sampel atau spesimennya. Yang bersangkutan kemudian dinyatakan positif Covid-19 pada tanggal 24 Maret. Pasien 557 ini merupakan warga Pinrang, tetapi dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare,” terang Ichsan.

Jika melihat kasus pasien positif sebelumnya (pasien 285), yang bersangkutan juga memiliki riwayat melakukan perjalanan umrah. Artinya, dua dari total 4 pasien positif Covid-19 di Sulsel diduga kuat terpapar Covid-19 setelah pulang dari menunaikan ibadah umrah.

Menyikapi hal ini, Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel, Arum Spink meminta pemerintah atau otoritas terkait bisa lebih memperketat pengawasan dan contact tracing kepada para jemaah yang baru pulang dari ibadah umrah.

“Saya kira ini teknis, dan silahkan Pemprov melakukan tindakan jika itu diperlukan kalau memang ada fenomena seperti ini. Karena publik itu mau pemprov bekerja,” kata Pipink, sapaan akrabnya.

Menurut dia, Pemprov Sulsel harus cermat melihat hal ini dan mengambil langkah taktis dengan segera. “Pemprov harus bergerak cepat, karena lagi-lagi publik melihat hal ini. Kami di DPRD tentu hanya mengingatkan saja,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sulsel, Azhar Gazali mengatakan, semua masyarakat berpeluang terpapar Covid-19.

Olehnya itu, perlu pembuktian apakah benar dua pasien positif Covid-19 itu terpapar sepulang dari umrah atau saat mereka singgah dan berpergian ke tempat lain.

“Jadi memang peluang untuk adanya kasus seperti ini (Covid-19) besar karena memang sudah ada korban. Tapi harus dibuktikan dulu, memang jemaah itu corona karena sepulang dari umrah atau karena sempat pernah ke tempat lain setelah umrah,” kata Azhar.

Walau demikian, ia mengaku jika jamaah umrah terakhir dari Sulsel berangkat pada 27 Februari 2020 sebelum dilakukan penutupan sementara perjalanan umrah oleh Arab Saudi.

“Ini dilema juga sebenarnya, karena jamaah yang berangkat tanggal 27 Februari dan tiba di Sulsel pada 11 Maret dan jumlahnya 800 orang. Mereka ini tidak dilakukan pemeriksaan secara detail dan terakhir kita dengar Saudi juga banyak jatuh korban,” ungkapnya.

Apalagi, kata dia, para jemaah yang baru pulang dari umrah tidak dilakukan isolasi selama 14 hari, dan langsung dijemput oleh keluarganya masing-masing di Bandara Sultan Hasanuddin.

“Para jamaah itu kita tidak punya datanya karena bukan hanya jamaah dari travel Amphuri yang ada disitu. Yang punya itu pihak Lion Air, karena mereka pasti tahu travel apa saja yang memesan pesawat pada 11 Maret itu,” pungkasnya.

DPRD Sulsel Pertanyakan Biaya Medical Check Up Covid-19 di RS Wahidin

KabarMakassar.com — DPRD Sulsel mempertanyakan besarnya biaya medical check up untuk mengetahui seseorang terpapar Virus Corona (Covid-19) atau tidak, sebesar Rp500 ribu yang dipatok RS Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Wakil Ketua Komis E DPRD Sulsel, Arum Spink mengatakan, biaya sebesar Rp500 ribu yang sangat membebani masyarakat itu sangat kontradiktif dengan situasi dan kondisi saat ini.

“Kami dari DPRD Sulsel tentu mempertanyakan hal ini. Kan situasi dan kondisi saat ini kan sedang darurat, sehingga kebijakan itu sangat tidak pas untuk saat ini,” kata Arum Spink, Selasa (24/3). .

Olehnya itu, ia meminta agar hal ini menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel. Karena, kata dia, jika harus membayar biaya pemeriksaan tersebut, masyarakat tidak akan melaporkan atau secara sukarela memeriksakan dirinya.

“Saat ini kan partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk melaporkan terkait kondisi kesehatannya. Lah kalu harus membayar, maka tentu mereka tidak mau datang. Maka dari itu hal ini harus menjadi perhatian Pemprov,” ujarnya.

Menurut Pipink, sebaiknya Pemprov Sulsel mengambil alih untuk melakukan tes massal. Apalagi, kata dia, pemprov bisa menggunakan post anggaran tak terduga untuk membiayai hal tersebut.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negerri (Permendagri) nomor 20 tahun 2020 tentang percepatan penanganan corona virus desease tahun 2019 pada lingkungan Pemda.

“Kami sudah minta hal ini dimasukkan dalam post anggaran Pemprov. Terpenting harus jelas arahnya seperti ada planning dan progresnya. Janganlah dibebankan ini kepada masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Humas RS Wahidin Sudirohusodo Makassar, Dewi Risky Nirmala mengatakan, kebijakan tersebut diputuskan karena biaya medical check up ini tidak dibiayai oleh Kementerian Kesehatan.

“Jadi perlu diketahui bahwa biaya medical check up tidak dibiayai baik oleh kementerian, Pemda, maupun BPJS. Karena itu memang sifatnya inisiatif pribadi,” kata Dewi.

Menurutnya masyarakat tidak boleh menilai atau melihat mahal atau tidaknya biaya medical check up tersebut. Sebab, biaya itu sudah termasuk murah jika dibandingkan dengan biaya medical check up di rumah sakit lain.

“Jangan liat mahalnya. Angka Rp.500.000 itu tidak sebanding dengan resiko pegawai kami. Lagian kami tidak pernah memaksa masyarakat untuk datang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, jika medical check up berbeda dengan tes massal yang dilakukan oleh pemerintah.

“Kalau tes massal itu kan dilaksanakan oleh pemerintah daerah atau dinas kesehatan. Bukan rumah sakit,” pungkasnya.

Percepat Pendeteksian Covid-19, Pemkot Makassar Pesan 25.000 Alat Rapid Test

KabarMakassar.com — Pemerintah Kota Makassar memesan sekitar 25.000 alat Rapid Test yang akan digunakan oleh tim medis dalam mempercepat pendeteksian pasien yang diduga terpapar Virus Corona (Covid-19).

Penjabat Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb mengatakan, alat ini nantinya hanya diperuntukkan untuk mengetes orang-orang yang sudah masuk dalam kategori bagi ODP (orang dalam pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan)

“Kami sudah memesan alat (rapid test) sebanyak 25.000. Semoga minggu ini bisa datang. Yang akan diperiksa baik itu ODP maupun PDP, juga untuk masyarakat yang menggunakan travel yang sama dalam perjalanan umrah dengan pasien postif Covid-19,” kata Iqbal, Selasa (24/3).

Iqbal juga memastikan, pihaknya tak akan mengadakan atau melakukan pemeriksaan massal untuk seluruh masyarakat.

“Ini hanya untuk yang sudah kontak saja dengan pasien Covid-19,” tegasnya.

Lebih jauh Iqbal mengatakan, Tim Penanganan Covid-19 dari Pemkot Makassar akan melakukan kerjasama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) dan juga pihak travel perjalanan umrah, untuk melakukan contact tracing guna mengetahui siapa saja yang telah melakukan kontak dengan Pasien Dalam Pemantauan (PDP) Covid-19 yang meninggal di RS Grestelina pada Senin (23/3) malam kemarin.

“Kami kerjasama dengan Unhas untuk mendatangi satu persatu dan menggali informasi, memeriksa, dan memberitahukan terkait ditetapkannya satu pasien Covid-19 ini,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, hingga Selasa (24/3) sore, pasien positif Covid-19 di Kota Makassar totalnya berjumlah 3 orang (1 meninggal, 1 isolali mandiri di rumah, dan 1 dirawat di rumah sakit).

Sementara untuk ODP berjumlah 30 orang (12 proses pemantauan, 18 dalam pemantauan). Sedangkan PDP jumlahnya sebanyak 31 orang (1 meninggal, 26 masih dirawat, 4 dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang).

Kowari dan Forwag Serahkan Bantuan APD ke RSUD Syekh Yusuf

KabarMakassar.com – Komunitas Wartawan Kriminal (Kowari) dan Forum Komunikasi Wartawan Koordinatoriat Pemkab Gowa (Forwag) melakukan aksi peduli dalam bentuk penyerahan bantuan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga media di RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa yang menangani pasien atau kasus Covid-19.

Penyerahan bantuan APD berupa masker, sarung tangan plastik, pelindung kepala, kacamata, mantel pelindung badan untuk parqa tenaga medis di RSUD Syekh Yusuf ini dilakukan Saribulan selaku Koordinator Kowari dan Forwag, didampingi sejumlah jurnalis media online dan media elektronik (televisi) kepada Direktur RSUD Syekh Yusuf, Selasa (24/3).

Direktur RSUD Syekh Yusuf, dr Salahuddin, mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan para jurnalis dalam kondisi merebaknya Covid-19 ini.

Terlebih, kata dia, dengan adanya peristiwa Covid-19 ini, APD memang sangat diperlukan oleh para tenaga medis.

“Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi dari mitra kita yakni dari beberapa media atas bantuan APD kepada rumah sakit. Saya menganggap hal ini adalah sesuatu yang luar biasa. Kami tidak melihat berapa jumlah dari yang diberikan, tapi kita lihat dari partisipasinya memberikan semangat dan support bagi kami semua,” tutur Salahuddin.

“Mudah-mudahan APD yang diberikan ini dapat kami manfaatkan untuk kami di rumah sakit,” tambahnya.

Menurut Salahuddin, saat ini sangat sulit untuk memesan APD. Apalagi, semua rumah sakit menghadapi hal sama (kekurangan APD). Sehingga bantuan-bantuan dari pihak luar termasuk dari para awak media ini sangat bermanfaat buat tenaga medis di RSUD Syekh Yusuf.

“Bantuan ini memberikan motivasi bagi kami untuk kami lebih giat melaksanakan pelayanan di rumah sakit. Mudah-mudahan persediaan APD kami selama satu bulan ini cukup untuk kami bisa gunakan, dan kami sekarang selalu diminta untuk lebih proaktif lagi oleh Pak Bupati Gowa untuk menjaga ketersediaan APD di Gowa,” ungkapnya.

Salahuddin menerangkan, pasca Presiden RI mengumumkan darurat nasional, maka semenjak itu managemen RSUD Syekh Yusuf Gowa sudah membentuk tim untuk kesiapsiagaan.

“Kesiapsiagaan ini telah kita lakukan meskipun ada beberapa rumah sakit yang ditunjuk sebagai rujukan, sehingga kalau ada kasus-kasus yang kami curugai, maka kami segera lakukan rujukan,” ujarnya.

Sementara, Koordinator Kowari dan Forwag, Saribulan juga mengaku, para jurnalis juga merasa wajib membantu pemerintah khususnya jajaran tenaga medis dalam penanganan Covid -19 ini.

“Selain kami berperan memerangi berita-berita hoax, kami juga mencoba menyalurkan kepedulian kami dengan memberikan APD kepada tim medis. Bantuan yang kami berikan ini tidak seberapa, namun niat kami yang ikhlas itu yang utama,” kata Saribulan.

Selain ke RSUD Syekh Yusuf, lanjut Saribulan, bantuan yang sama juga akan diberikan ke salah satu rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Makassar.

“Kami menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pada donatur yang berpartisipasi pada gerakan kepedulian kami. Semoga apa yang kita lakukan secara ikhlas ini bernilai ibadah,” tuturnya.

Saribulan menambahkan, selain memberikan bantuan APD untuk tenaga medis, Kowari dan Forwag juga berencana untuk melakukan penyemprotan disinfektan dan pembagian hand sanitizer kepada masyarakat.

Tokopedia, OVO dan Grab Bersatu Perangi COVID-19

KabarMakassar.com — Tokopedia, OVO dan Grab — ekosistem digital terbesar di Indonesia — mendonasikan masing-masing Rp1 miliar (total Rp3 miliar) untuk membantu memerangi COVID-19.

Inisiatif gabungan ini sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh kalangan masyarakat agar menyatukan suara dan langkah, bergotong royong menekan laju penyebaran COVID-19.

Donasi akan digunakan untuk membantu penyediaan alat perlindungan diri bagi para tenaga medis. Bekerja sama dengan Benih Baik pimpinan Andy F. Noya, donasi disalurkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia (BNPB RI), yang memimpin Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

“Bersama dengan BNPB RI dan berbagai mitra di industri, kami menyatukan suara, upaya dan semangat dalam memerangi COVID-19. Salah satunya adalah dengan menyumbang dana sebesar Rp1 miliar dari Tokopedia dan membuka jalur donasi agar masyarakat juga dapat turut berkontribusi,” kata Vice Chairman sekaligus Co-Founder Tokopedia, Leontinus Alpha Edison.

“Sejak awal, Tokopedia melakukan berbagai inisiatif dan mengambil tindakan tegas untuk membantu penjual, pembeli dan mitra strategis lainnya tetap dapat memanfaatkan layanan Tokopedia dengan harga dan kualitas terjaga. Berbagai hal tersebut adalah bagian dari upaya Tokopedia untuk meredam laju penyebaran COVID-19 dan memudahkan masyarakat untuk #DiRumahAjaDulu,” tambahnya.

Lebih jauh Leontinus mengatakan, di sisi lain Tokopedia juga telah menyumbang lebih dari 150.000 masker mulut untuk TKI di Hongkong yang membutuhkan, seperti ART, pekerja kapal dan buruh migran lain yang rentan namun cenderung tidak punya akses ke produk kesehatan.

Selain itu, Tokopedia membuka dua kanal berdonasi demi mengajak masyarakat membantu pengadaan multivitamin, APD standar dan sanitizer untuk tenaga medis, yaitu lewat fitur ‘Bantu Pejuang COVID-19’ dan halaman Checkout Tokopedia.

Presiden Direktur OVO, Karaniya Dharmasaputra mengatakan, di tengah pandemi global yang kini juga menyeret Indonesia ke masa yang penuh tantangan ini, OVO juga memiliki tanggung jawab untuk berperan nyata dalam mendukung upaya pemerintah meredam dan mengatasi penyebaran virus ini.

“Termasuk, memainkan peran kami sebagai penyedia layanan e-money untuk terus menggerakkan roda perekonomian nasional, khususnya di ranah ekonomi digital,” kata Karaniya.

Untuk itulah, kata dia, OVO mencanangkan program #BersatuLawanCorona yang menggarisbawahi komitmen untuk secara proaktif dan tanpa henti mencari cara-cara inovatif untuk meringankan dampak COVID-19 di seluruh lapisan masyarakat.

“Salah satu upaya kami adalah memberikan dukungan dan bantuan berupa dana sebesar Rp 1 miliar melalui Benih Baik, yang akan disalurkan melalui BNPB RI kepada barisan tenaga medis sebagai garda terdepan dalam memerangi pandemi ini,” ujarnya.

Pihaknya meyakini, bantuan berupa alat perlindungan diri seperti masker, pembersih tangan, multivitamin hingga sarung tangan sangat dibutuhkan ketika jumlah pasien terus melonjak.

Selain telah menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) sebagai tindakan pencegahan di kantor bagi karyawan, lanjut Karaniya, OVO juga meluncurkan program bantuan untuk merchant termasuk UKM, yakni dengan membagikan 10.000 pembersih tangan (hand sanitizer) di wilayah Jabodetabek dan Bali.

“OVO juga telah melakukan sosialisasi kepada semua merchant untuk bersikap waspada dan terus menjaga kebersihan usai melakukan transaksi,” terangnya.

Sementara, Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi mengatakan, melalui gerakan #KitaVSCorona, Grab berupaya untuk menyebarkan nilai-nilai positif, memberdayakan serta membangun masyarakat yang tangguh dengan bergotong royong untuk meratakan kurva pandemi.

Sebagai bagian dari ekosistem digital terbesar di Indonesia, kata dia, Grab Indonesia berkomitmen untuk mendukung kinerja tenaga medis sebagai garda terdepan di Indonesia untuk memerangi pandemi COVID-19.

“Donasi alat perlindungan diri bagi para garda terdepan profesi medis sangat penting untuk menjadi prioritas negara dan GrabHealth powered by GoodDoctor siap mendukung. Dukungan menyeluruh juga diberikan kepada para mitra Grab yang bekerja keras memberikan pelayanan kepada masyarakat Indonesia dalam masa penuh tantangan ini,” kata Neneng.

Grab Indonesia, lanjut dia, juga telah menempatkan berbagai upaya pencegahan tambahan serta bentuk dukungan untuk melindungi kesehatan, kesejahteraan dan keberlangsungan hidup para Mitra Grab.

Dukungan yang disebut GrabCare tersebut berupa: memberikan bantuan finansial bagi Mitra Pengemudi yang positif COVID-19, kolaborasi pengumpulan 1 Juta Masker lewat PMI dan ketersediaan cakupan asuransi Mandiri In-Health.

Neneng menambahkan, Grab juga mendukung Mitra merchant GrabFood untuk memastikan para pelaku industri makanan dan minuman mengimplementasikan standar keamanan dan kebersihan pangan yang tinggi agar pelanggan merasa aman sekaligus mendukung keberlangsungan bisnis industri makanan dan minuman lokal, terutama UMKM kuliner.

Founder sekaligus CEO BenihBaik.com, Andy F Noya mengaku pihaknya sangat mengapresiasi upaya dan inisiatif dari Tokopedia, OVO, dan Grab ini.

“Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi contoh dan mendorong lebih banyak masyarakat untuk bersatu dan mendukung upaya pemerintah dalam melawan COVID-19. Kami juga ingin menyampaikan terima kasih atas kepercayaannya terhadap Benih Baik, dan kami akan menjaga dan meneruskan kepercayaan ini dengan baik,” kata Andy F Noya.

BNPB RI, Doni Monardo juga menyambut baik inisiatif ini. Ia mengatakan, dana ini akan didedikasikan untuk tim tenaga kesehatan yang telah menjadi bagian yang sangat strategis dan penting dalam penanganan Covid-19.

“Termasuk untuk memberikan bantuan logistik, bantuan obat-obatan kepada para dokter para perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Supaya mereka bisa mendapat dukungan yang baik, sebagai pekerja terdepan bisa mendapatkan perhatian yang optimal,” kata Doni.

Sekadar diketahui, selain menyalurkan dana bantuan, Tokopedia, OVO dan Grab juga segera membuka kanal penghimpunan donasi (crowdfunding) di platform masing-masing yang memungkinkan masyarakat ikut berkontribusi melawan COVID-19. Program ini juga bekerja sama dengan Benih Baik dan akan disalurkan untuk berbagai keperluan mendesak terkait dampak pandemi COVID-19. (*)

Dirawat di RSUD Andi Makkasau, 1 Warga Pinrang Positif Covid-19

KabarMakassar.com — Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, dr. Ichsan Mustari, Selasa (24/3) sore, mengumumkan adanya tambahan 2 pasien di Sulsel yang dinyatakan positif terjangkit Virus Corona (Covid-19) di Sulsel. Keduanya masing-masing pasien 309 dan pasien 557.

Dengan begitu, secara total jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel hingga hari ini berjumlah sebanyak 4 orang (1 meninggal, 1 isolasi mandiri di rumah, dan 2 dalam perawatan di rumah sakit). Sementara untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 149 (113 pemantauan, 36 selesai pemantauan); dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 54 orang (7 sehat, 47 masih dirawat).

Untuk tambahan 2 pasien positif Covid-19, Ichsan menjelaskan, pasien 309 merupakan warga Kota Makassar yang dirawat dan diperiksa swab di Jakarta. Hasilnya dinyatakan positif terjangkit Covid-19.

“Yang bersangkutan kemudian dirujuk ke Makassar sesuai prosedur yang ditetapkan oleh Kemenkes. Karena yang bersangkutan ini memang tinggal (warga) Makassar. Sampai di Makassar, dia ke RS Wahidin untuk diperiksa, dan karena keadaaannya sudah tidak ada gejala-gejala lagi, makanya dia diputuskan untuk isolasi mandiri di rumah. Jadi tidak dirawat lagi di Makassar,” kata Ichsan melalui video conference, Selasa (24/3) sore.

Sementara untuk pasien 557, lanjut Ichsan, saat ini yang bersangkutan sementara dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare.

Menurut Ichsan, pasien 557 ini memiliki riwayat baru pulang dari menunaikan ibadah umrah pada tanggal 24 Februari sampai 8 Maret 2020.

Setelah pulang dari umrah, yang bersangkutan mengalami demam dan batuk. Tanggal 16 Maret, pasien tersebut dirawat di RS Fatimah Parepare. Kemudian tanggal 17 Maret dirujuk ke RSUD Andi Makkasau Parepare dengan keluhan batuk demam, dan sakit kepala.

“Tanggal 17 itu dia masuk ke RSUD Andi Makkassau, dan dilakukan pengambilan sampel atau spesimennya. Yang bersangkutan kemudian dinyatakan positif Covid-19 pada tanggal 24 Maret. Pasien 557 ini merupakan warga Pinrang, tetapi dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare,” terang Ichsan.

Ichsan menegaskan, Pemerintah Provinsi Provinsi dan pemerintah kabupaten kota di Sulsel sangat serius melakukann penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19 ini.

“Tim kita terus bekerja untuk melakukan pelacakan atau contact tracing terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan pasien positif. Kita juga terus mengimbau masyarakat untuk melakukan social distancing atau phsyical distancing. Pasalnya, hanya dengan ini kita bisa melakukan pemutusan mata rantai penularannya,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pelayanan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Husni mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi-informasi yang beredar. Pasalnya menurut dia, tak sedikit informasi tidak benar dan menyesatkan yang beredar khususnya di media sosial.

“Yang harus sama-sama kita tekankan dan kita pahami, yang bisa memvonis seseorang itu positif atau tidak hanya hasil lab. Covid-19 ini juga bukan aib. Semua orang bisa terpapar kalau tidak berhati-hati dan menjaga kondisi tubuh dan kebersihan,” ujarnya.

Bertambah 2, Pasien Positif Covid-19 di Sulsel jadi 4 Orang

KabarMakassar.com — Jumlah pasien yang dinyatakan positif terjangkit Virus Coriona (Covid-19) di Sulsel bertambah 2 orang. Dengan begitu, sampai Selasa (23/3) sore, total jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel sudah berjumlah 4 orang.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, dr Ichsan Mustari mengatakan, tambahan 2 pasien positif ini masing-masing pasien 309 dan pasien 557.

dr Ichsan menjelaskan, untuk Pasien 309 merupakan warga Kota Makassar yang dirawat dan diperiksa swab di Jakarta. Hasilnya dinyatakan positif terjangkit Covid-19.

“Yang bersangkutan kemudian dirujuk ke Makassar sesuai prosedur yang ditetapkan oleh Kemenkes. Karena yang bersangkutan ini memang tinggal (warga) Makassar. Sampai di Makassar, dia ke RS Wahidin untuk diperiksa, dan karena keadaannya sudah tidak ada gejala-gejala lagi, makanya dia diputuskan untuk isolasi mandiri di rumah. Jadi tidak dirawat lagi di Makassar,” kata Ichsan melalui video konferensi, Selasa (24/3) sore.

Sementara untuk pasien 557, lanjut Ichsan, saat ini yang bersangkutan sementara dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare.

Menurut Ichsan, pasien 557 ini memiliki riwayat baru pulang dari menunaikan ibadah umrah pada tanggal ada tanggal 24 Februari sampai 8 Maret 2020. Setelah pulang, yang bersangkutan mengalami demam dan batuk. Tanggal 16 Maret, pasien tersebut dirawat di RS Fatimah Parepare. Kemudian tanggal 17 Maret dirujuk ke RSUD Andi Makkasau Parepare dengan keluhan batuk, demam dan sakit kepala.

“Tanggal 17 itu dia masuk ke RSUD Andi Makkassau, dan dilakukan pengambilan sampel atau spesimennya. Yang bersangkutan kemudian dinyatakan positif Covid-19 pada tanggal 24 Maret. Pasien 557 ini merupakan warga Pinrang, tetapi dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare,” terang Ichsan.

dr Ichsan menegaskan, Pemerintah Provinsi Provinsi dan pemerintah kabupaten kota di Sulsel sangat serius melakukan penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19 ini.

“Tim kita terus bekerja untuk melakukan pelacakan atau contact tracing terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan pasien positif. Kita juga terus mengimbau masyarakat untuk melakukan social distancing atau phsyical distancing. Pasalnya, hanya dengan ini kita bisa melakukan pemutusan mata rantai penularannya,” imbaunya.

Sekadar diketahui, berdasarkan data terbaru yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemrintah Provinsi Sulsel, hingga Selasa (24/3) pukul 14:46 WITA, tercatat jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 149, (113 pemantauan, 36 selesai pemantauan) 54 PDP (7 sehat, 47 masih dirawat); Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 54 orang (7 sehat, 47 masih dirawat); sedangkan pasien positif Covid-19 jumlahnya bertambah menjadi 4 orang (1 meninggal, 1 isolasi mandiri di rumah, 2 di rawat di RS).

Pelindo IV Perketat Pengawasan Kru Kapal dari Luar Negeri

KabarMakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) menegaskan bahwa pihaknya tetap melayani kegiatan ekspor dan impor barang ke sejumlah negara, meski di negara-negara tersebut tengah mewabah Virus Corona (Covid-19).

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengatakan, meskipun ada wabah virus corona, ekspor langsung ke Vietnam, Korea, Jepang dan China dari Pelabuhan Makassar sejauh ini tetap terjaga.

“Hanya saja ada beberapa kebijakan yang memang harus kami lakukan terkait hal tersebut. Salah satunya, life animal atau binatang hidup dari daratan China tidak boleh masuk Indonesia, termasuk di Pelabuhan Makassar,” kata Farid.

Selain itu, walaupun barang ekspor dan impor tetap bisa masuk dan keluar melalui pintu Pelabuhan Makassar, namun kru kapal yang membawa barang tidak boleh turun dari kapal dan memasuki area pelabuhan.

“Mereka hanya bisa berada di atas kapal dan akan diperiksa oleh Tim dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Pelindo IV dan Otoritas Pelabuhan menggunakan alat thermal scanner yang telah disiapkan untuk mendeteksi suhu tubuh manusia dan hand thermometer scanner,” paparnya.

Farid menjelaskan, larangan tersebut sesuai dengan hasil Rapat Terbatas Kabinet Indonesia Maju yang diselenggarakan di Istana Bogor pada Selasa (4/2) lalu Februari 2020 yang juga dihadiri oleh SKJ, DRJU, DRJL, Dirut Angkasa Pura 1, Dirut Angkasa Pura 2, Dirut Pelindo I, II, III dan IV.

Dalam rapat tersebut beber Farid, disimpulkan bahwa kargo dari dan ke Main Land tetap dapat dilaksanakan sebagaimana biasanya dari laut, dimana para operator pelabuhan bekerjasama dengan KKP dalam melaksanakan prosedur kepada para crew kapal untuk tidak turun dari kapal.

Sebelumnya, Farid juga sudah meminta kepada semua pegawai yang ada di front liner, terutama yang berada di Terminal Penumpang, untuk lebih waspada dan wajib menggunakan masker saat melayani.

1 Pasien PDP di Makassar Meninggal Dunia

KabarMakassar.com — Seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) untuk kasus Covid-19 meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Grestelina, Makassar, Senin (23/3) malam. Kabar ini disampaikan langsung Pj Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb, melalui perenyataan tertulisnya, Selasa (24/3).

“Semalam seorang PDP meninggal dunia di Grestelina (laki/55thn),” kata Iqbal.

Dalam pernyataan tertulisnya itu, Iqbal menyampaikan bahwa pasien tersebut memiliki riwayat baru pulang dari menunaikan ibadah umrah. Namun, ia memastikan jika pasien ini berbeda travel umrah dengan pasien 285 yang telah meninggal pada 15 Maret lalu.

“Riwayat pulang umroh. Tapi beda travel dengan korban pertama (pasien 285),” terangnya.

Iqbal mengaku, pihaknya kesulitan untuk mendapatkan data travel yang baru saja memberangkatkan umrah pasien PDP yang meninggal tersebut.

“Saat ini kami kesulitan mendapat data travel yang baru saja memberangkatkan umrah beserta nama alamat jemaahnya. Jika kami bisa dapatkan, tentu lebih mudah petugas kami untuk tracing satu persatu semua yang satu pesawat,” ujarnya.

Anehnya, pasien ini meninggal di RS Grestelina, yang notabene tidak termasuk dari 5 RS yang ditunjuk sebagai RS rujukan penanganan kasus Covid-19 di Kota Makassar. Padahal, yang bersangkutan sudah berstatus PDP.

Ada 4 RS yang dicantumkan di laman infocorona.makassar.go.id, website yang dikelola langssung oleh Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Pemerintah Kota Makassar. Keempat RS rujukan tersebut yakni: RSUD Labuang Baji; RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo; RS Dr. Tajuddin Chalid, MPH; dan RS Tk. II Pelamonia.

Selain itu, adanya pasien PDP yang meninggal pada Senin (23/3) malam ini juga belum dimasukkan dalam update data kasus Covid-19 di Kota Makassar yang dirilis melalui laman infocorona.makassar.go.id.

Berdasarkan data terbaru yang dirilis di laman infocorona.makassar.go.id tersebut, hingga Selasa (24/3) pukul 12:39 WITA, tercatat jumlah Orang Dalam Pengawasan (ODP) sebanyak 30 orang (12 proses pemantauan, dan18 lainnya dalam pemantauan); Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 31 orang (27 masih dirawat, 4 lainnya dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang); dan pasien positif Covid-19 sebanyak 2 orang (1 meninggal, 1 masih dirawat).