Kenali 12 Istilah Medis Terkait Virus Corona

KabarMakassar.com — Sejak mewabahnya Virus Corona atau Covid-19 pada akhir 2019 lalu, sejumlah istilah-istilah banyak digunakan oleh pemerintah dan pihak Rumah Sakit untuk memberikan penjelasan terkait penyebaran virus tersebut kepada masyarakat.

Tidak sedikit masyarakat yang tak paham dengan istilah-istilah tersebut. Seperti suspect, pandemi, ODP, PDP, impoted case, local transmission, dan beberapa diksi lain. Akibatnya, banyak yang gagal paham dengan penjelasan yang diberikan.

Berikut penjelasaan dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Naisyah Tun Aikin, tentang beberapa istilah-istilah yang banyak digunakan dalam penjelasan terkait kasus Covid-19.

  • ODP (Orang Dalam Pemantauan)

ODP adalah orang-orang dengan gejala seperti batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan merasa pernah melakukan kontak dengan pasien postif Covid-19.

  • PDP (Pasien Dalam Pengawasan)

PDP adalah pasien dengan status ODP yang berdasarkan hasil foto rontgen, hasilnya menunjukkan adanya pneumonia. Pasien ini akan langsung dilakukan pemeriksaan swab.

  • Suspect
    Suspect pengeertiannya hampir sama dengan PDP, yakni pasien atau orang yang telah melakukan rontagen dan hasilnya menunjukkan adanya pneumonia. Pasien ini diharuskan untuk menjalani isolasi di Rumah Sakit dan melakukan pemeriksaaan swab.
  • Positif

Positif adalah status yang diberikan kepada pasien yang hasil tes swab nasofaring (teknik usap hidung dalam) menunjukkan hasil positif.

  • Negatif

Negatif adalah status yang diberikan kepada pasien yang hasil tes swab nasofaring (teknik usap hidung dalam) menunjukkan hasil negatif.

Social Distacing

Social Distancing adalah langkah atau upaya menjaga jarak dari orang lain maupun perkumpulan yang diambil atau dilakukan untuk pencegahan penularan dan pertambahan jumlah pasien Covid-19.

  • Isolasi

Isolasi adalah adalah tindakan yang dapat diambil untuk melakukan pengendalian infeksi atau pencegahan penyebaran penyakit menular dari pasien kepada orang lain.

  • Imported Case

Imported Case adalah kasus infeksi virus Corona dimana pasien positif tertular saat berada di luar Indonesia.

  • Local Transmission

Local transmission adalah kasus dimana penularan virus Corona terjadi di lokasi, daerah atau tempat pasien berada.

  • Epidemi

Epedmi adalah suatu keadaan dimana masyarakat atau wilayah tertentu terdapat penyakit menular dan kejadiannya terjadi secara cepat.

  • Pandemi

Pandemi adalah situasi dimana wabah penyakit terjadi secara luas di seluruh dunia, atau penyakit tersebut sudah menjadi masalah masyarakat dunia.

  • Contact Tracing

Contact Tracing adalah tindakan yang diambil untuk melakukan atau menelusuri siapa-siapa saja yang telah melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19.

RSUP Wahidin Banjir Karangan Bunga

KabarMakassar.com — Puluhan karangan bunga memenuhi depan Gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, yang merupakan Rumah Sakit rujukan utama di Provinsi Sulsel untuk menangani pasien kasus Virus Corona atau Covid-19.

Semua karangan bunga yang dikirimkan berbagai kelompok, perusahaan dan elemen masyarakat itu berisikan kata-kata penyemangat yang ditujukan untuk Tim Medis di RSUP Wahidin, yang saat ini tengah bekerja dan berjuang menangani pasien Covid-19.

“Ada banyak karangan bunga berisikan kata-kata dukungan semangat untuk tim medis di RS Wahidin yang dikirimkan masyarakat. Karangan bunga itu diletakkan di depan IGD,” kata Kasubag Humas dan Pemasaran RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, Dewi Rizki Nurmala, Sabtu (21/3) sore.

Bentuk dukungan masyarakat kepada Tim Medis di RSUP Wahidin, kata dia, tidak hanya ditunjukkan dalam bentuk karangan bunga. Ada juga yang mengirimkan minuman untuk dibagikan kepada para Tim Medis yang bekerja.

“Tadi juga ada kiriman kopi dari kopihub untuk teman-teman (tim medis),” terangnya

Menurut Dewi, adanya dukungan dari masyarakat ini memberikan sugesti positif bagi tenaga medis di RSUP Wahidin Sudirohusodo untuk melakukan tugas-tugasnya.

“Tentunya mereka senang dengan dukungan yang diberikan masyarakat ini. Ada sugesti positif dengan dukungan yang diberikan ini. Kami berterima kasih atas dukungan ini,” ujarnya.

Dewi mengimbau kepada masyarakat untuk tetap melakukan social distacing agar dapat membantu tim medis dalam penanganan dan pencegahan bertambahnya kasus Covid-19 di wilayah Sulsel.

“Bantu kami dengan tetap tinggal di rumah, jaga jarak sosial, bacalah berita terkait Covid19 dari sumber yang terpercaya. Laporkan jika ada tetangga atau kenalan yang masuk dalam kriteria ODP dan PDP. Jangan kucilkan ODP dan PDP, dan yang paling penting makan makanan yang sehat, olahraga yang cukup, serta cuci tangan pakai sabun sesering mungkin,” tutupnya.

Update Jumlah dan Daftar Sebaran Kasus Covid-19 di Sulsel

KabarMakassar.com — Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan, Ichsan Mustari menyampaikan, hingga Sabtu (21/3) pukul 14.24 WITA, tak ada penambahan pasien positif Covid-19 di Sulsel.

Jumlahnya masih tetap 2 orang, dimana 1 diantaranya (pasien 285) sudah meninggal pada 15 Maret lalu, sebelum diketahui jika yang bersangkutan positif Covid-19. Sementara 1 pasien positif lainnya (pasien 286) masih dirawat di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

“Sampai hari ini tidak ada penambahan pasien positif, masih tetap data yang kemarin, 2 orang, 1 meningga dan 1 masih dirawat,” kata Ichsan, Sabtu (21/3) sore.

Sementara untuk jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), berdasarkan data yang dirilis di laman covid19.sulselprov.go.id yang merupakan website resmi pusat informasi penanganan Covid-19 milik Pemerintah Provinsi Sulsel, hingga Sabtu (21/3) pukul 14:24 WITA, jumlah pasien berstatus ODP di Sulsel ada sebanyak 50 orang.

50 orang pasien berstatus ODP tersebut tersebar di 17 kabupaten/kota di Sulsel, dimana 40 diantaranya dalam proses pemantauan dan 10 lainnya telah selesai dilakukan pemantauan.

Sedangkan untuk PDP jumlahnya ada 27 orang, dan tersebar di 12 kabupaten/kota di Sulsel. 21 diantaranya masih dirawat, dan 6 lainnya sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.

Secara nasional, hingga hari ini, jumlah kasus positif Covid-19 berjumlah sebanyak 450 kasus. Dari jumlah tersebut, korban meninggal sudah sebanyak 38 orang; dan yang dinyatakan sembuh sebanyak 20 orang.

Berikut data sebaran kasus Covid-19 di 24 kabupaten/kota di Sulsel per Sabtu (21/3) pukul 14:24 WITA:

Selayar (ODP: 1, PDP:, 0 POSITIF: 0); Bulukumba (ODP: 1, PDP: 1, Positif: 0); Sinjai (ODP: 1, PDP: 1, Positif: 0); Bantaeng (ODP: 0, PDP: 1, Positif: 0); Jeneponto (ODP : 2, PDP: 0, Positif: 0); Takalar (ODP: 0, PDP: 1, Positif: 0); Gowa (ODP : 3, PDP: 2, Positif: 0); Makassar (ODP: 4, PDP: 13, Positif: 2);

Maros (ODP: 4, PDP: 1, Positif: 0); Pangkep (ODP: 5, PDP: 1, Positif: 0); Barru (ODP: 0, PDP: 0, Positif: 0); Parepare (ODP: 2, PDP: 2, Positif: 0); Pinrang (ODP: 3, PDP: 1, Positif: 0); Sidrap (ODP: 0, PDP: 2, Positif: 0); Enrekang (ODP: 6, PDP: 0, Positif: 0); Wajo (ODP: 0, PDP: 0, Positif: 0);

Bone (ODP: 0, PDP: 0, Positif: 0); Soppeng (ODP: 1, PDP: 0, Positif: 0); Tana Toraja (ODP: 1, PDP: 0, Positif: 0); Toraja Utara (DP: 1, PDP: 0, Positif: 0); Palopo (ODP: 13, PDP: 0, Positif: 0); Luwu (ODP : 0, PDP: 0 , Positif: 0); Luwu Utara (ODP: 1, PDP: 1, Positif: 0); Luwu Timur (ODP: 1, PDP: 0, Positif: 0).

Antisipasi Penyebaran Covid-19, 1 Dusun di Barru Diisolasi

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Barru memutuskan untuk sementara mengisolasi Dusun Labungnge yang berada di Desa Lampoko, Kecamatan Balusu.

Bupati Barru, Suardi Saleh mengatakan, langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi dan pencegahan penyebaran Virus Corona (Covid-19) di wilayah Kabupaten Barru.

Pasalnya, kata dia, Dusun Labungnge diketahui pernah dikunjungi oleh pasien 285 yang telah meninggal dan dimakamkan sebelum diketahui jika yang bersangkutan positif terjangkit Covid-19.

“Jadi ternyata sepulang dari menunaikan ibadah umrah, pasien 285 itu pernah datang ke dusun itu (Labungnge) untuk mengunjungi anaknya,” kata Suardi melalui sambungan telepon, Sabtu (21/3) sore.

Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 dari Pemkab Barru, kata dia, telah diterjunkan ke Dusun Labungnge untuk melakukan sterilisasi di rumah yang pernah dikunjungi pasien 285 tersebut.

“Sterilisasinya itu dengan penyemptotan disinfektan pada jarak 100 meter keliling rumah yang dikunjungi pasien 285 itu. Di rumah itu ada 7 orang, dan sudah discreening juga. Hasil screening awal itu tidak ditemukan tanda-tanda (terpapar Covid-19), dan untuk sementara 7 orang itu kita tetapkan sebagai orang dalam pemantauan (ODP),” ujarnya.

“Untuk sementara kita juga memutuskan mengisolasi dusun tersebut. Ini untuk benar-benar memastikan tak ada warga yang terpapar Covid-19. Di dusun itu ada sekitar 100 Kepala Keluarga (KK), kita minta mereka untuk tidak kemana-mana dulu selama 14 hari,” tambahnya.

Untuk benar-benar memastikan warga di Dusun Labungnge tersebut tidak keluar untuk beraktifitas selama masa isolasi, Suardi mengaku, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan beberapa perusahaan di sekitar dusun tersebut untuk meliburkan pekerjanya yang tinggal di sana.

“Ada beberapa perusahaan di sekitar dusun itu, dan kita sudah minta pihak perusahaan untuk meliburkan karyawannya yang warga Dusun Labungnge. Seperti PLTU Indonesia Power, Wika, dan beberapa perusahaan lain di sekitar situ. Kita akan terus pantau,” ungkapnya.

Sekadar diketahui pasien 285 merupakan warga Kota Makassar yang baru diketahui positif terjangkit Covid-19 melalui hasil lab setelah yang bersangkutan meninggal.

Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemkot Makassar, Jumat (20/3) kemarin juga telah melakukan sterilisasi di rumah almarhumah pasien 285.

Selain itu, juga dilakukan contact tracing terhadap orang-orang yang selama dua minggu terakhir pernah melakukan kontak dengan pasien tersebut. Hasil sementara, ada sebanyak 68 orang yang masuk dalam pengamatan.

Pj Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb mengatakan, ke-68 orang ini adalah mereka yang diketahui pernah atau telah melakukan kontak langsung dengan pasien 285.

“Mereka ini sudah kontak (dengan pasien 285). Termasuk yang dalam pengamatan ini adalah mereka yang satu rombongan travel umrah, tetapi belum ada gejala-gejalanya. Kami tracing satu persatu datanya, kami dapatkan satu persatu,” kata Iqbal, Jumat (20/3) malam.

“Suami yang bersangkutan juga sekarang dalam pengamatan karena ada gejala. Namun hasil fotonya masih negatif, sehingga masih dikategorikan ODP,” tambahnya.

Iqbal mengimbau kepada seluruh warga yang merasa telah melakukan kontak langsung dengan pasien 285 tersebut untuk melakukan sosial distance atau self isolation meski belum menunjukkan gejala Covid-19.

“Ini untuk mencegah penularan,” pungkasnya.

Pantai Losari Ditutup, Pedagang Pisang Epe’ Kebingungan

KabarMakassar.com — Anjungan Pantai Losari ditutup sementara sejak Rabu (18/3) lalu. Keputusan pemerintah setempat untuk menutup tempat yang menjadi icon Kota Makassar itu selama 14 hari, diambil sebagai upaya antisipasi dan pencegahan penyebaran Virus Corona (Covid-19).

Namun, keputusan ini menimbulkan masalah tersendiri bagi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan para pedagang kaki lima (PKL) yang menggantungkan perekonomian keluarganya dengan cara setiap hari berjualan di Anjungan Pantai Losari.

Muslimin, salah seorang pedagang yang sehari-hari berjualan pisang epe’ di Pantai Losari, menurutnya Penutupan itu berdampak baginya

“Keputusan ini sangat jelas berdampak kepada kami, karena mata pencaharian kita cuman di situ,” tutur Muslimin, Sabtu (21/3).

Kata dia, jangankan 14 hari, 5 hari saja Pantai Losari ditutup, dampak bagi perekonomian keluarganya pasti sudah sangat terasa.

“Kalau (Pantai Losari) ditutup, kita dapat uang darimana untuk kebutuhan sehari-hari? Kami bingung,” keluhnya.

Meski begitu, Muslimin mengaku mau tak mau harus memaklumi keputusan Pemerintah Kota Makassar ini.

“Ini demi keselamatan kita juga, jadi maumi diapa. Ini demi pencegahan, jadi bisa dibilang ada dampak buruknya dan dampak baiknya. Berdoa saja semoga kondisi segera pulih dan normal kembali, supaya kita semua bisa kembali beraktivitas,” ujarnya.

Sekadar diketahui, keputusan Pemkot Makassar terkait penutupan Anjungan Pantai Losari selama 14 hari sejak Rabu (18/3) ini dituangkan dalam Surat Edaran Walikota Makasar No: 443.01/89/S.EDAR/DISPAR/III/2020 tertanggal 17 Maret 2020, yang ditandatangani Pj Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb.

Menurut Iqbal, hal ini dilakukan sebagai bagian dari tingkat kewaspadaan dalam mengurangi kerumunan warga, memperketat social distancing, dan mengajak warga untuk melakukan self Isolation atau berdiam diri di rumah untuk sementara waktu jika tidak ada kebutuhan yang mendesak.

Selama penutupan berlangsung, kata dia, akan dilakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan secara menyeluruh di semua anjungan yang ada di Pantai Losari.

Melalui surat edaran itu, Pemkot Makassar juga menginstruksikan untuk dilakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai gejala, tanda dan cara pencegahan penularan infeksi Covid-19. Termasuk memberikan batasan waktu pengoperasian tempat-tempat keramaian swasta seperti Mall dan tempat hiburan.

“Kita juga melakukan pembatasan jam operasional selama 14 hari ke depan untuk pusat perbelanjaan (Mall), daya tarik wisata buatan dan usaha pariwisata seperti Tempat Hiburan Malam (THM), tempat karaoke ,dan panti pijat,” kata Iqbal.

“Kita juga meminta seluruh manajemen usaha pariwisata dan tempat-tempat umum lainnya termasuk tempat ibadah menyediakan wastafel dan sabun serta melakukan kegiatan rutin berupa pengecekan ketersediaan Hand Sanitizer pada tempat tertentu dalam area kerja,” tambahnya.

Pemkot Makassar juga meminta untuk dilakukan koordinasi secara berkala dengan Puskesmas/Rumah Sakit yang telah dirujuk oleh Pemkot Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulsel.

“Kita meminta kepada masyarakat untuk sementara menghindari kegiatan di keramaian, membatasi aktivitas di luar rumah serta menjaga lingkungan tempat kita tinggal tetap bersih dan higienis,” imbaunya.

Iqbal menambahkan, surat edaran ini akan dilakukan evaluasi sesuai perkembangan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Selain melakulan penutupan sementara Pantai Losari, Pemkot Makassar juga telah sebelumnya telah mengambil langkah preventif untuk mengantisipasi dan mencegah penularan Covid-19 di Makassar, dengan merumahkan siswa-siswi tingkat TK/Paud, SD/MA, SMP/MTS.

Antisipasi Covid-19, Kantor Bank Sulselbar Cabang Maros Disemprot Disinfektan

KabarMakassar.com — Sebagai upaya antisipasi penyebaran Virus Corona (Covid-19), Tim Gabungan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Maros melakukan pentyemprotan disinfektan di kantor-kantor pemerintah dan instansi daerah serta ruang publik, termasuk Kantor Bank Sulselbar Cabang Maros.

Pimpinan Bank Sulselbar Cabang Maros, Hazjul mengatakan, dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19, Bank Sulselbar dan Bank Sulselbar Syariah Cabang Maros komitmen untuk berkontribusi dalam mitigasi penyebaran covid-19 yang berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Hal tersebut dilakukan dengan penyemprotan disinfektan di area kantor, baik dalam maupun luar kantor. Selain itu, penggunaan hand sanitizer, masker dan sarung tangan pada frontliner,” kata Hazjul, Sabtu (21/3).

Hazjul juga mengimbau para nasabah yang melalukan transaksi penarikan Rp3 juta ke bawah untuk menggunakan ATM Bank Sulselbar atau ATM bersama dan M-Banking untuk transaksi lainnya.

Selain ittu, kata dia, pihaknya juga berkoordinasi dengan para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mengimbau para pegawai di lingkungan kerja masing-masing agar memanfaatkan fasilitas ATM dan Mobile Banking yang dimiliki Bank Sulselbar, serta mengoptimalkan penggunaan Oto Kas.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kesehatan, perlindungan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini, serta meridhai upaya-upaya kita dalam pencegahan penularan Covid-19,” ucapnya.

Misteri Pasien Positif Covid-19 Bernomor 286 di Sulsel?

KabarMakassar.com — Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Kamis (19/3) malam lalu mengumumkan adanya dua orang warga Sulsel yang dinyatakan positif terjangkit Virus Corona atau Covid-19, yakni pasien 285 dan 286. Menurut gubernur, keduanya berasal dari Makassar.

Pasien 285 telah meninggal dunia sebelum hasil laboratorium yang menyatakan dirinya positif Covid-19 keluar. yang bersangkutan sebelumnya diketahui baru saja pulang dari menunaikan ibadah umrah. Sementara pasien 286 masih dirawat di salah satu rumah sakit rujukan untuk kasus Covid-19 di Kota Makassar.

Jumat (20/3), Pemerintah Kota Makassar melalui Tim Gugus Tugas Penanganan Virus Corona (Covid-19) Kota Makassar melakukan sterilisasi dengan penyemprotan disinfektan oleh tim dari Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Makassar di rumah dan tempat-tempat di sekitar kediaman almarhumah pasien 285 di Jalan Rajawali 3, Kelurahan Pannambungang, Kecamatan Mariso, Kota Makassar.

Pj Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb mengaku, saat ini Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Makassar tengah melakukan contact tracing atau penelusuran terhadap keluarga dan kerabat serta orang-orang yang pernah melakukan kontak langsung dengan almarhumah pasien 285, khususnya dalam dua pekan terakhir. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah dan memutus mata rantai penularan virus tersebut.

Hingga Jumat (20/3) malam, Iqbal menyebut, ada sebanyak 68 orang yang diketahui pernah atau telah melakukan kontak langsung dengan pasien 285, saat ini berada dalam pengamatan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Makassar.

Ke-68 orang yang saat ini dalam pengamatan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Makassar ini termasuk yang satu rombongan travel umrah dengan almarhumah pasien 285.

Misteri Pasien 286

Yang menjadi pertanyaan dan kekhawatiran sejumlah masyarakat di Sulsel khususnya Kota Makassar saat ini adalah siapa pasien 286 yang sampai saat ini masih dirawat di salah satu rumah sakit rujukan kasus Covid-19 di Makassar tersebut.

Siapa saja orang-orang yang pernah melakukan kontak langsung dengan pasien tersebut? Apa langkah yang dilakukan otoritas terkait untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dari pasien 286? Hingga saat ini belum ada penjelasan dari otoritas yang berwenang.

Saat Gubernur Sulsel mengumumkan adanya dua pasien positif Covid-19 di Sulsel, sejumlah awak media sempat mempertanyakan secara khusus siapa pasien 286.

Namun, pada kesempatan itu gubernur tidak memberikan jawaban pasti.

“Beliau sehat, kita pantau terus,” jawab Nurdin singkat.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua DPRD Sulsel, Arum Spink meminta pihak Pemerintah Provinsi Sulsel lebih terbuka dan transparan dalam menyampaikan informasi tentang Covid-19 ini kepada publik.

“Kita minta terbuka. Walaupun lagi-lagi itu kembali ke personalnya orang, tapi itu soal teknis saja. Intinya kita minta terbuka saja,” kata Arum Spink, Jumat (20/3) malam.

Menurut pria yang akrab disapa Pipink itu, pihaknya sudah menggelar rapat dengan mengundang para akademisi, sejumlah dekan fakultas kesehatan dan ikatan dokter untuk dimintai saran dan masukan soal bagaimana langkah yang harunya diambil Pemerintah Provinsi Sulsel dalam menyikapi kondisi ini.

“Rekomendasinya ini sudah sementara disusun, mungkin nanti langsung ketua dewan yang akan menyampaikan melalui konferensi pers. Mungkin besok itu konferensi persnya. Intinya kita minta pemprov terbuka dalam menyampaikan informasi dan melakukan langkah-langkah yang lebih maksimal,” ujarnya.

Senada, Sekretaris Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulsel, Judy Rahardjo juga meminta Pemerintah Provinsi Sulsel untuk transparan dan memperbaiki cara komunikasi atau penyampaian informasi kepada masyarakat.

“Harus memperbaiki cara komunikasinya. Misalnya bagaimana caranya agar orang tidak panik. Ya tentu saja informasi yang transparan, tapi tetap soal kerahasiaan saya kira harus diperhitungkan. Jangan sampai menstigma keluarga dari korban. Itu yang sebenarnya dikhawatirkan,” katanya.

Meski begitu, lanjut Judy, identitas pasien 286 ini penting untuk diketahui dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien bersangkutan.

“Tetap identitas ini menjadi penting untuk mengetahui atau melakukan tracing dan dicari tahu, supaya bisa diputus mata rantai penyebarannya,” ujarnya.

Desakan publik untuk mengungkap pasien memang saat ini masih perdebatan, namun pertimbangan keselamatan dan kesehatan masyarakat menjadi penting. Apalagi Covid-19 bukanlah aib.

Pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sendiri sudah menyadari bahaya ketidakterbukaan data para pasien itu sendiri.

Dilansir dari laman http://idionline.org yang mengutip dari tempo.co.id, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih mengatakan, pemerintah sebaiknya mulai membuka identitas pasien positif Covid-19. Hal ini penting untuk memudahkan penelusuran kontak pasien dan memprediksi penyebaran virus serta upaya pencegahannya.

Minimal, kata dia, pemerintah mengumumkan nama dan alamat lengkapnya.

“Cukup nama dan alamat, itu cukup. Itu sudah bisa dipetakan nanti penyebarannya kemudian bisa dipagari supaya tidak menyebar,” katanya dalam konferensi pers di Kantor PB IDI, Jalan Dr. GSSJ Ratulangi, Jakarta, Senin (16/3) lalu.

Faqih menjelaskan, keterbukaan informasi ini bermanfaat untuk memberikan peringatan kepada yang lain agar tidak mendeteksi yang sakit.

“Berkaitan dengan melindungi, memagari, dan contact tracing siapa yang berhubungan dekat dengan dia. Kalau tidak dilakukan itu sudah susah penyebarannya,” ujarnya.

Sementara, Dewan Pakar IDI M Nasser mengatakan, membuka identitas pasien positif Cobid-19 tidak termasuk membuka rahasia medis.

Ia menjelaskan, kerahasiaan medik diatur dalam empat undang-undang lex specialis, yakni Pasal 48 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, Pasal 38 UU Nomor 36 Tahun 2015 tentang Tenaga Kesehatan, Pasal 38 UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dan Pasal 73 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.

Secara materi, kata dia, isi pasal-pasal tersebut tidak berbeda jauh atau berulang.

“Dengan adanya empat undang-undang lex specialis ini, maka kami memegang azas hukum lex specialis derogat lex generalis,” kata Nasser.

Menurut Nasser yang juga Ketua Asosiasi Dosen Hukum Kesehatan Indonesia itu, dari empat UU itu rahasia medik seseorang bisa dibuka bila berhadapan dengan kepentingan kesehatan publik.

“Menyembunyikan identitas pasien terinfeksi Covid-19 hanya akan mendukung penyebaran rasa takut pada masyarakat,”ucapnya.

Nasser mencontohkan saat pemerintah mengumumkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi positif Covid-19. Hal tersebut dianggap menimbulkan simpati mendalam warga dan menimbulkan kesadaran kesehatan dari orang-orang yang pernah berhubungan dengannya.

Sekadar diketahui, berdasarkan data dari http://covid19.sulselprov.go.id yang merupakan website resmi pusat informasi Covid-19 milik Pemerintah Provinsi Sulsel, hingga Sabtu (21/3) pukul 14:24 WITA, jumlah ODP di Sulsel ada sebanyak 50 orang (40 orang dalam proses pemantauan, dan 10 orang telah selesai dilakukan pemantauan); Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 27 orang (21 masih dirawat, dan 6 sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang); positif 2 orang (1 meninggal, 1 masih dirawat).

DPRD Sulsel Minta Pemprov Tutup Paksa THM

KabarMakassar.com — Sejumlah Tempat Hiburan Malam (THM) di Kota Makassar masih tetap buka ditengah mewabahnya virus corona. Hal itu pun dinilai tidak mengindahkan imbauan pemerintah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah.

Salah satu security THM, Edho mengaku pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap pengunjung ketika hendak datang dan bertamu. Ia mengaku sampai saat ini masih aman dan menunggu perintah atasan untuk dilakukan penutupan sementara.

“Sejauh ini pengunjung belum ada yang terjangkit virus dan kita masih menunggu pimpinan, kalau dia bilang tutup yah kita tutup” kata Edho, Jum’at (20/3) malam kemarin.

“Pemeriksaannya juga kami perketat, dan ini masih aman,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Sulsel, Ince Langke mengaku telah merekomendasikan agar dilakukan penutupan paksa terhadap THM demi keselamatan bersama.

“Salah satunya rapat kemarin di Komisi E, kami sudah rekomendasi ke Pemprov untuk ditutup paksa dan diminta untuk diarahkan aparat, ini demi keselamatan umat manusia,” kata Ince Langke.

Ia mengaku jika cara ini sudah tepat untuk dilakukan sebagai langkah untuk melakukan pencegahan ditengah wabah virus corona. Kata dia, ini penting untuk menggunting penyeberannya.

“Tidak ada cara lain untuk menggunting virus, kecuali program instansi setempat untuk memutus rantai penyebaran virus ini,” pungkasnya.

PMI Selayar Lakukan Penyemprotan Disinfektan di Bandara Aorepala

KabarMakassar.com — Relawan Korps Sukarela (KSR) Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Selayar melakukan kegiatan kebersihan dan penyemprotan disinfektan di Bandara H. Aroepala dan Masjid di dalam Kota Benteng, Jumat (20/3).

Kegiatan itu bertujuan untuk menghambat perkembangan virus yang menempel di permukaan benda padat di tempat umum seperti Bandara H. Aroepala Selayar dan 9 masjid di Kota Benteng.

Wakil Ketua Bidang Organisasi PMI Selayar, H. Patta Lolo DM, BA. mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk pencegahan penyebaran Covid-19 di Selayar.

“Ini adalah sedikit aksi kami dari PMI Selayar untuk terlibat dalam penanganan pencegahan Covid-19 di Selayar, kami akan tetap bekerja untuk kemanusiaan dalam membantu pemerintah daerah dan masyarakat sesuai tagline kami PMI yakni Siap Bantu,” kata Patta Lolo.

Ia mengaku jika kegiatan ini akan tetap dilaksanakan dengan sasaran sejumlah tempat umum, kantor dan tempat ibadah di Selayar. “Tentunya disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh PMI,” pungkasnya.