2 dari 4 Pasien Positif Covid-19 di Sulsel Baru Pulang Umrah

Kepulangan Jamaah Umrah (/int)

KabarMakassar.com — Pasien positif virus Corona (Covid-19) di Sulsel bertambah 2 orang, sehingga totalnya saat ini menjadi 4 orang. Hal ini disampaikan langsung Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel, dr. Ichsan Mustari melalui video conference, Selasa (24/3) sore.

Ichsan mengatakan, dua pasien tambahan positif Covid-19 tersebut masing-masing pasien 309 dan pasien 557.

Menurut Ichsan, satu dari dua pasien tambahan yang dinyatakan positif Covid-19 ini, yakni pasien 557, diketahui memiliki riwayat baru saja melakukan ibadah umrah pada 24 Februari hingga 8 Maret 2020 kemarin.

Setelah pulang dari umrah, yang bersangkutan mengalami demam dan batuk. Tanggal 16 Maret, pasien tersebut dirawat di RS Fatimah Parepare. Kemudian tanggal 17 Maret dirujuk ke RSUD Andi Makkasau Parepare dengan keluhan batuk, demam dan sakit kepala.

“Tanggal 17 itu dia masuk ke RSUD Andi Makkassau, dan dilakukan pengambilan sampel atau spesimennya. Yang bersangkutan kemudian dinyatakan positif Covid-19 pada tanggal 24 Maret. Pasien 557 ini merupakan warga Pinrang, tetapi dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare,” terang Ichsan.

Jika melihat kasus pasien positif sebelumnya (pasien 285), yang bersangkutan juga memiliki riwayat melakukan perjalanan umrah. Artinya, dua dari total 4 pasien positif Covid-19 di Sulsel diduga kuat terpapar Covid-19 setelah pulang dari menunaikan ibadah umrah.

Menyikapi hal ini, Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel, Arum Spink meminta pemerintah atau otoritas terkait bisa lebih memperketat pengawasan dan contact tracing kepada para jemaah yang baru pulang dari ibadah umrah.

“Saya kira ini teknis, dan silahkan Pemprov melakukan tindakan jika itu diperlukan kalau memang ada fenomena seperti ini. Karena publik itu mau pemprov bekerja,” kata Pipink, sapaan akrabnya.

Menurut dia, Pemprov Sulsel harus cermat melihat hal ini dan mengambil langkah taktis dengan segera. “Pemprov harus bergerak cepat, karena lagi-lagi publik melihat hal ini. Kami di DPRD tentu hanya mengingatkan saja,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Sulsel, Azhar Gazali mengatakan, semua masyarakat berpeluang terpapar Covid-19.

Olehnya itu, perlu pembuktian apakah benar dua pasien positif Covid-19 itu terpapar sepulang dari umrah atau saat mereka singgah dan berpergian ke tempat lain.

“Jadi memang peluang untuk adanya kasus seperti ini (Covid-19) besar karena memang sudah ada korban. Tapi harus dibuktikan dulu, memang jemaah itu corona karena sepulang dari umrah atau karena sempat pernah ke tempat lain setelah umrah,” kata Azhar.

Walau demikian, ia mengaku jika jamaah umrah terakhir dari Sulsel berangkat pada 27 Februari 2020 sebelum dilakukan penutupan sementara perjalanan umrah oleh Arab Saudi.

“Ini dilema juga sebenarnya, karena jamaah yang berangkat tanggal 27 Februari dan tiba di Sulsel pada 11 Maret dan jumlahnya 800 orang. Mereka ini tidak dilakukan pemeriksaan secara detail dan terakhir kita dengar Saudi juga banyak jatuh korban,” ungkapnya.

Apalagi, kata dia, para jemaah yang baru pulang dari umrah tidak dilakukan isolasi selama 14 hari, dan langsung dijemput oleh keluarganya masing-masing di Bandara Sultan Hasanuddin.

“Para jamaah itu kita tidak punya datanya karena bukan hanya jamaah dari travel Amphuri yang ada disitu. Yang punya itu pihak Lion Air, karena mereka pasti tahu travel apa saja yang memesan pesawat pada 11 Maret itu,” pungkasnya.

Reporter :

Editor :

Redaksi

Sofyan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI