18 Pasien Covid-19 di Sulsel Sembuh, Masyarakat Harus Tetap Waspada

Ilustrasi - INT

KabarMakassar.com — Jumlah pasien positif terinfeksi virus Corona (Covid-19) yang sembuh terus bertambah. Berdasarkan data yang dirilis di laman https://covid19.sulselprov.go.id/, hingga Ahad (5/4) pukul 12.06 WITA tercatat, dari total 80 orang pasien positif, yang dinyatakan sembuh sudah sebanyak 18 orang, 56 masih dirawat dan 6 meninggal dunia.

Sementara untuk jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) jumlahnya sebanyak 245 orang (211 dirawat, 19 sehat, 15 meninggal). Sedangakan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 2.109 orang (1.771 proses pemantauan, 338 selesai pemantauan).

Meski meningkatnya angka kesembuhan pasien positif ini menjadi kabar baik dan membuktikan bahwa Covid-19 bukanlah penyakit yang tak bisa disembuhkan, namun masyarakat tak boleh lengah serta wajib untuk tetap mengindahkan imbauan-imbauan yang disampaikan pemerintah, seperti melakukan physical distancing, jaga jarak, rajin mencuci tangan, hingga menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Prof. Idrus Paturusi, salah seorang pasien positif Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh meminta masyarakat untuk selalu waspada dan berhati-hati.

Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2006-2010 dan 2010-2014 ini mencontohkan apa yang dialaminya. Ia menuturkan, dirinya adalah penderita Covid-19 yang tidak bergejala.

“Andaikan saya tidak memeriksakan diri, maka sampai saat ini saya tidak tahu bahwa saya sudah terpapar virus. Bahayanya, kalau saya tidak memeriksanakan diri dan tetap melakukan kontak dengan siapa saja, maka status saya sebagai carrier (pembawa virus) itu mudah untuk menularkan ke orang lain,” kata Prof. Idurus melalui rekaman video.

“Olehnya itu, pentingnya imbauan pemerintah bahwa jaga jarak, cuci tangan dan lain sebagainya, saya kira itu adalah hal yang patut dan harus kita lakukan. Contoh, setelah saya melakukan tracing, beberapa waktu lalu saya hanya berjabat tangan dengan seorang sahabat. Dan andaikan saya tidak memeriksankan diri, saya tidak tahu bahwa saya mendapat kuman awal dari teman tersebut,” sambungnya.

Prof. Idrus yang juga seorang dokter senior ini menekankan, sangat penting untuk mengikuti semua imbauan pemerintah. Sebab jika sudah terpapar baru mau melakukan physical distancing, hal itu sudah tak ada gunanya lagi.

Ia menjelaskan, yang diserang virus ini adalah paru-paru, sehingga kematian yang disebabkan gagal pernafasan sangat banyak terjadi pada orang-orang yang terpapar.

“Saat saya sudah divonis positif terinfeksi Covid-19, physical distancing itu sudah tidak bisa saya lakukan, karena virus itu sudah ada di dalam tubuh saya,” ujarnya.

Olehnya itu, Prof. Idrus meminta kepada seluruh masyarakat untuk selalu betul-betul menjaga diri dan mengikuti imbauan dari pemerintah.

“Tiap hari kita selalu mendengar, mulai dari cuci tangan, physical distancing dan lain sebagainya, ini harus kita ikuti. Saat kita sudah digerogoti virus itu, ini yang menjadi masalah. Obat untuk virus ini belum ada, vaksin untuk itu belum ada,” ucapnya.

Prof. Idrus menambahkan, hal sangat menentukan jumlah dari ada atau tidaknya penderita (ODP, PDP maupun positif) Covid-19 sangat tergantung dari sarana yang dimiliki dalam melakukan screening atau test.

“Di beberapa daerah, jumlah kasusnya mungkin masih sedikit. Itu karena mereka belum mendapatkan hasil pemeriksaan yang dikirimkan dari laboratorium. Sama seperti di Sulsel, pada awalnya hanya 2 kasus di Makassar. 1 meninggal, dan yang meninggal ini nanti datang hasilnya 4 hari setelah dia meninggal,” imbuhnya.

“Setelah Unhas (dan BBLK Makassar) memiliki sarana pemeriksaan tersendiri, jumlah kasus positif Covid-19 di Sulsel tiba-tiba naik. Bukan kita senang dengan naiknya jumlah kasus itu, tetapi kelihatan bahwa ada kasus yang tersembunyi, dan ini harus kita ungkap dan cari. Tanpa itu, saya kira upaya pemutusan rantai penularan ini tidak akan berhasil,” tegasnya.

Untuk para pasien yang telah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19, Prof. Idrus meminta agar berbesar hati mengakui atau menyampaikan statusnya secara terbuka.

“Saya harap pada sahabat,saudara atau siapa saja yang dinyatakan teelah terpapar, mari kita berbesar harti untuk menyampaikan seperti apa yang saya lakukan. Karena dampaknya sangat besar dan sangat-sangat membantu untuk bagaimana kita memtuskan mata rantai wabah virus ini,” imbaunya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr. Muhammad Ichsan Mustari. Ia mengatakan, salah satu faktor penyebab meningkatnya jumlah ODP, PDP dan pasien positif di Sulsel, adalah beroperasinya dua laboratorium di Makassar yang sudah bisa memeriksa sendiri spesimen pasien Covid-19.

Kondisi ini, kata dia, membuat waktu yang ada terpangkas dan menjadi lebih cepat dari sebelumnya, dimana sampel spesimen dari pasien harus dikirim ke Jakarta untuk diperiksa dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Mungkin kelihatannya kita lebih banyak dari daerah lainnya di Indonesia bagian timur. Tapi sisi positifnya, kita sudah tahu dimana clusternya peenyebaran virus ini. Jadi kita bisa mengantisipasi atau menlakukan upaya menutup pintu masuknya. Kita bisa segera melakukan proteksi itu,” kata Ichsan melaljui video conference, Jumat (3/4) malam.

“Sementara untuk jumlah ODP dan PDP yang meningkat drastis, itu menjadi bukti bahwa upaya tracing dan identifikasi yang dilakukan tim di semua tingkatan itu benar-benar berjalan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus ini. Identifikasi ini sebagai langkah pencegahan dini,” sambungnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Sulsel itu juga mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati, dan melakukan physical distancing serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Bahkan, Ichsan meminta agar masyarakat di Sulsel untuk lebih waspada. Pasalnya, dari hasil tracing dan identifikasi terhadap sejumlah pasien baru yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19, pola penyebaran atau penularan Covid-19 di Sulsel sudah berada pada tahap local transmission (penularan dari sesama warga di satu tempat atau lokasi/daerah yang sama).

“Seperti hari Jumat ini di Sulsel ada penambahan 14 pasien positif. 13 di Makassar dan 1 di Pinrang. Yang 13 di Makassar itu local transmission. Ini menandakan bahwa perpindahan virus ini sudah antar warga Makassar. Sedangkan yang 1 warga Pinrang itu cluster umrah,” ungkapnya.

Reporter :

Editor :

Firdaus

Redaksi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI