Perusda
Bank SUlsel Bar

Apa Selanjutnya Jika Kolom Kosong Menang Pilwalkot ?

on 30/6/18 Oleh Muhammad Fajar Nur
Apa Selanjutnya Jika Kolom Kosong Menang Pilwalkot ?
Ilustrasi.(Ist)

KabarMakassar.com -- Walau belum selesai, hasil perhitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah Sulawesi Selatan (KPUD Sulsel) masih menunjukkan kemenangan Kolom Kosong (Koko) terhadap Pasangan Calon (Paslon) nomor urut satu, Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi atau yang lebih dikenal dengan Appi-Cicu pada Kamis, 28 Juni 2018

Lalu apa jadinya jika skenario koko benar-benar mengalahkan Appi-Cicu?

Diketahui, hingga saat ini berbagai lembaga survei mengeluarkan hasil quick count atau hitung cepat dengan memenangkan kolom kosong. Hasil Quick Count Celebes Research Center (CRC) memenangkan kolom kosong dengan persentase kemenangan berada di angka 53,58% dan pasangan Appi-Cicu berada diangka 46,42% dengan jumlah data suara yang masuk 94% dan margin error kurang lebih 1%.

Senada dengan CRC, hasil hitung cepat KPUD Sulsel menunjukkan kolom kosong masih unggul pada angka 53.17 % meninggalkan Pasangan Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi  masih berada pada angka 46.83% dari suara yang masuk sebanyak 60.71% atau dari 1621 dari 2670 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Jikapun koko benar-benat menang, tidak ada yang salah dalam pandangan hukum. Hal itu dikuatkan oleh Peraturan KPU Nomor 13 Tahun 2018 yang menjelaskan penetapan pemilihan ulang dapat dilakukan untuk tahun berikutnya jika suara kolom kosong memiliki suara rakyat lebih banyak ketimbang pasangan tunggal

"Atau dilaksanakan sebagaimana jadwal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," ujar Komisioner KPU Evi Novida pada Rabu, 27 Juni 2018 saat diwawancarai oleh Tempo.co.

Adapaun, kekhawatiran masyarakat sembari menunggu pilkada ulang tidak perlu berkutat pada kekosongan jabatan, sebab kekosongan ini akan diisi oleh pejabat yang ditunjuk langsung oleh Kementerian Dalam Negeri dengan berkoordinasi bersama KPU daerah.

Senada dengan Evi, Soni Sumarsono sebagai salah satu Pejabat Gubernur Sulsel sekaligus orang yang juga dilantik oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pada 9 April 2018 menjelaskan akan ada pengganti sementara jikalau kolom kosong memang menjadi pilihan masyarakat Kota Makassar dalam Pilkada serentak ini.

"Jika kolom kosong menang, pasti akan diisi pejabat Wali Kota, namun tetap kita tunggu dulu keterangan dari KPUD Sulsel," jelas Soni Sumarsono dalam konferensi pers di press room Kantor Pemerintah Provinsi Sulsel pada Kamis, 28 Juni 2018.

Berdasarkan pasal 54D UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada, pemenang pilkada dengan calon tunggal memang memiliki beban yang berat mengingat Pasangan Calon (Paslon) harus memperoleh suara lebih dari 50 persen suara sah. 

Jika suara tidak tercapai dan kemenangan berada jatuh pada koko, maka pasangan calon yang kalah boleh mencalonkan lagi dalam pemilihan berikutnya, termasuk Danny Pomanto dan Indira Multasari yang gagal maju di kompetisi pesta demokrasi daerah setelah dinyatakan gugur oleh KPU yang dikuatkan Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) dan Mahkamah Agung atas laporan pelanggaran persyaratan pencalonan yang diberikan oleh Appi-Cicu. 

Pemilihan berikutnya yang dimaksud adalah diulang kembali pada tahun berikutnya atau dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan, dalam hal ini yaitu tahun 2020.

Berdasarkan UU No.10/2016 tentang Pilkada, partai atau gabungan partai politik dapat kembali mendaftarkan pasangan calon jika telah memenuhi persyaratan perolehan paling sedikit 20% dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) atau 25% dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilihan anggota DPRD di daerah yang bersangkutan.

Pengamat Politik Saifuddin Al Mughniy telah menjelaskan pada Redaksi KabarMakassar.com pada 30 Mei 2018, kehadiran fenomena kotak atau kolom kosong dalam pesta politik merupakan contoh kecelakaan demokrasi Indonesia yang harus dihadapi bersama.

Menurutnya, kemunculan kampanye masyarakat Kota Makassar yang tergabung dalam Relawan Kolom Kosong (Rewako) untuk memilih kolom kosong dapat mempengaruhi penghilangan identitas sebuah tokoh masyarakat pada sistem politik.

"Ini berefek pada penghilangan figuritas pada konteks politik yang ada, seperti di daerah itu tak memiliki tokoh yang cerdik dan pandai," ucap dosen Universitas Pejuang Republik Indonesia itu pada Redaksi KabarMakassar.com.

Bagaimanapun, jika kolom kosong dapat mengalahkan calon tunggal, tamparan keras tidak hanya tertuju pada individu calon tunggal melainkan partai politik dibelakangnya.

"Konsekuensinya adalah siapa menjadi pemenang menjadi hutang bagi pemodalnya, dan itu harus dibayar dengan mahal," tambahnya.

Menurutnya, Sengketa Pilwalkot ini merupakan efek domino dari budaya politik transaksional sebab kehadiran kotak kosong merupakan hal yang sulit diterima akal sehat sebagai kontrak politik.

Hal yang patut disyukuri jikalau skenario koko memenangi Pilwalkot Makassar kali ini, setiap calon yang kalah masih dibolehkan untuk maju lagi di pilkada berikutnya.

"Itu akan menjadi pilkada yang baru, dengan peta kekuataan yang baru, karena sistemnya didasarkan pada hasil pemilu 2019. Jadi calon yang kalah (di Pilkada 2018) tetap diperbolehkan untuk maju lagi," jelas Pramono.

Bagaimanapun, kehadiran calon tunggal dalam pilkada berdampingan dengan kolom kosong dengan gambar bayangan dua orang bewarna hitam terbilang baru. 

Pasalnya, Undang-Undang No. 8 Tahun 2015 mensyaratkan Pemilihan dapat berjalan apabila minimal ada dua calon, hingga akhirnya UU tersebut direvisi dan menghasilkan UU No. 10 tahun 2016 dan diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dengan pertimbangan keputusan mengenai calon tunggal yang dapat mengikuti pilkada serentak sudah tepat untuk menghindari kekosongan hukum dan menghindari potensi ditunda atau gagalnya pesta demokrasi bagi masyarakat yang berujung pada kerugian hak konstitusional warga untuk memilih ataupun dipilih.

"Saya tetap mengajak semua pihak untuk menahan diri karena pengumuman hingga saat ini masih quick count, kita tunggu hasil KPU secara resmi. Jangan ada euforia kemenangan yang berlebihan, silahkan bersyukur di rumah masing-masing agar hargai orang lain yang diprediksi gagal, ini baru hitung cepat," jelas Soni Sumarsono merespon keberagaman hasil hitung suara dari berbagai lembaga survei.

Diketahui, hingga saat ini berbagai lembaga survei mengeluarkan hasil quick count atau hitung cepat dengan memenangkan kolom kosong. Hasil Quick Count Celebes Research Center (CRC) memenangkan kolom kosong dengan persentase kemenangan berada di angka 53,58% dan pasangan Appi-Cicu berada diangka 46,42% dengan jumlah data suara yang masuk 94% dan margin error kurang lebih 1%.

Senada dengan CRC, hasil hitung cepat KPUD Sulsel menunjukkan kolom kosong masih unggul pada angka 53.17 % meninggalkan Pasangan Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi  masih berada pada angka 46.83% dari suara yang masuk sebanyak 60.71% atau dari 1621 dari 2670 Tempat Pemungutan Suara (TPS).