Perusda
Bank SUlsel Bar

Kenal Lebih Dekat Adat Pernikahan Bugis Makassar

Adat Bugis Makassar

on 13/3/18 Oleh Andi Lasinrang Rusdin Tamma
Kenal Lebih Dekat Adat Pernikahan Bugis Makassar
IST

KabarMakassar.com --- Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri dalam ikatan perkawinan.

Untuk orang Bugis Makassar, Pernikahan tidak hanya persatuan dua mempelai tetapi merupakan persatuan dua buah keluarga besar. Oleh karena itu, pada jaman dahulu kala, bibit bebet bobot masih memegang peranan penting dalam melaksanakan pernikahan untuk orang Bugis Makassar. Seringkali orang tua pihak laki-lakilah yang mencarikan jodoh untuk anaknya. Mereka akan mencari gadis dari keluarga yang dianggap sederajat.

Namun di jaman modern ini, telah terjadi pergeseran. Nilai-nilai yang dianut di jaman dahulu kala mulai banyak bergeser. Semua karena menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Termasuk dalam upacara adat pernikahan Bugis Makassar. Banyak ritual-ritual yang dulu digunakan untuk membedakan derajat keningratan seseorang kini tidak berlaku lagi. Semua orang bisa menggunakannya tanpa peduli silsilah keturunan dari keluarga calon pengantin.

Begitu juga tahapan-tahapan saat hendak melaksanakan pernikahan. Sebahagian masyarakat memilih untuk melewati tahapan-tahapan yang dianggap kurang penting. Sedangkan sebahagian lagi masih menjalankan tahapan-tahapan tersebut secara detail karena masih menjunjung tradisi.

Berikut ini tahapan tahapan pernikahan yang harus dilalui ketika menggunakan adat Bugis Makassar.

MAMMANU-MANU dan MADDUTA

Mammanu'-manu' merupakan tahap awal dalam persiapan pernikahan adat Bugis Makassar. Jaman dahulu kala, mammanu'-manu' merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki untuk menyelidiki status dari gadis yang hendak dipinang. Kegiatan tersebut untuk memastikan apakah gadis tersebut sudah terikat atau belum. Selain itu, diselidiki juga apakah sang gadis sesuai bibit bebet bobotnya. Biasanya mammanu'-manu' di wakili oleh perempuan dari keluarga laki-laki yang dianggap mampu untuk melakukan hal tersebut.Jika belum terikat, maka dilanjutkan oleh madduta untuk menyampaikan lamaran. Setelah lamaran diterima oleh pihak keluarga wanita, akan ada perwakilan keluarga yang membicarakan mengenai tanggal pernikahan, mahar dan lain-lain. Orang yang ditunjuk harus orang yang mampu berbicara dan bernegoisasi agar tidak terjadi kesalahpahaman dan kesepakatan bisa tercapai dengan baik.

Di jaman modern ini, Mammanu'-Manu' , Madduta' dan pembicaraan lanjutan masih dilakukan oleh segelintir masyarakat tetapi dengan lebih ringkas. Biasanya semuanya sudah digabung menjadi satu agar lebih efisien.

MAPPETUADA

Setelah tahap Mammanu'- manu' dan Madduta' selesai, dilanjutkan dengan tahap MappetuadaAcara Mappetuada' ni bertujuan untuk mengumumkan apa yang telah disepakati sebelumnya mengenai tanggal pernikahan, mahar dan lain-lain. Biasanya di Mappetuada, pinangan diresmikan dengan diberikan hantaran berupa perhiasan kepada pihak wanita.

MAPPASILI

Mappasili sendiri merupakan prosesi siraman. Prosesi siraman ini bertujuan untuk tolak bala dan membersihkan calon mempelai lahir dan batin. Biasanya air siraman atau Mappasili diambil dari 7 mata air dan juga berisi 7 macam bunga. Selain itu terdapat juga koin di dalam air Mappasili.

Selesai Mappasili, tamu undangan yang hadir akan berebut koin yang terdapat di dalam air Mappasili. Koin yang di dapatkan akan diberikan kepada anaknya yang belum menikah. Ada kepercayaan di orang-orang Bugis Makassar kalau anaknya akan mudah mendapatkan jodoh setelah memiliki koin tersebut. Selain itu, saudara dan sepupu dari calon mempelai yang belum menikah biasanya akan ikut dimandikan setelah calon mempelai selesai. Semua itu dilakukan agar saudara dan sepupu dari calon mempelai juga menjadi enteng jodoh.

MAPPANRE TEMME DAN MAPPACI

Mappanre temme merupakan ritual khatam Al Quran dan juga permohonan doa kepada Allah SWT agar rencana pernikahan ini berjalan lancar. Pelaminan selama prosesi acara pernikahan di rumah. Sementara itu, yang berada di meja merupakan Bosara berisi berbagai macam kue-kue tradisional

Mappaci merupakan ritual adat sesudah Mappanre temme. Mapacci sendiri bisa diartikan memberikan daun pacar ke calon mempelai sebagai bentuk doa restu. Biasanya jumlah orang yang diundang untuk memberikan daun pacar tersebut tergantung status social calon mempelai. Orang-orang yang dipanggilpun biasanya pasangan yang pernikahannya bahagia dan kedudukan sosialnya baik. Semua itu dimaksudkan agar calon mempelai kelak bisa mengikuti jejak pasangan tersebut. Perlengkapan Mapacci berupa sarung 7 susun sesuai derajat keningratan, daun pisang, daun pacar yang ditumbuk halus, rokok, jagung kering dll.

AKAD NIKAH

Di jaman dahulu kala, calon mempelai pria datang ke rumah calon mempelai wanita hanya ditemani kerabat dan tokoh masyarakat. Kedua orang tua mempelai pria tidak akan ikut serta. Calon mempelai pria akan membawa mahar, uang pa’naik, seserahan berupa perlengkapan pribadi dan juga kue-kue.

Karena Sebagian besar orang Bugis Makassar merupakan penganut agama Islam maka pelaksanaan akad nikahpun dilakukan dengan cara islam. Yang berbeda yaitu saat melakukan ijab Kabul, calon mempelai wanita tidak hadir disamping calon mempelai pria. Calon mempelai wanita hanya menunggu di kamar pengantin hingga acara ijab Kabul selesai.

MAPPASIKARAWA

Selesai ijab Kabul, mempelai pria akan dibimbing untuk masuk ke kamar pengantin dan bertemu dengan istrinya secara resmi. Sebelum memasuki kamar, biasanya ada ritual ketuk pintu. Ketuk pintu ini dimaksudkan untuk meminta ijin ke pihak keluarga mempelai wanita agar diperbolehkan masuk. setelah memasuki kamar, kemudian dilakukan ritual Mappasikarawa. Mappasikarawa merupakan sentuhan pertama dari suami ke istrinya. Sentuhan ini biasanya dilakukan dengan menyentuh ubun-ubun, pundak, dada atau perut. Biasanya sentuhan tersebut lebih disukai ke pundak yang melambangkan hubungan sejajar antara suami dan istri di dalam rumah tangga. Pemakaian sarung yang kemudian dijahit menandakan agar pasangan yang baru menikah terus bersatu dalam pernikahan tersebut. Setelah ritual Mappasikarawa selesai, dilanjut dengan sungkem kepada orang tua dan juga keluarga yang dituakan dari mempelai wanita.

MAPPAROLA

Mapparola merupakan kunjungan mempelai wanita ke rumah orang tua mempelai pria. Mempelai wanita datang ditemani iring-iringan dari keluarga mempelai wanita. Mempelai wanita juga membawa seserahan berupa perlengkapan pribadi dan kue-kue untuk mempelai pria. Kunjungan ini sangat penting bagi masyarakat Bugis Makassar karena kunjungan tersebut menandakan kalau mempelai wanita diterima dengan baik di keluarga mempelai pria. Di Mapparola inilah, mempelai kembali sungkem kepada orang tua dan kerabat yang dituakan dari mempelai pria. Setelah acara Marola atau Mapparola selesai, kedua mempelai akan kembali ke rumah mempelai wanita.