Perusda
Perusda

Pertumbuhan Ekonomi Sulsel di Mata Bappeda Sulsel

Terbit 24/2/18 Oleh Hendra N. Arthur
Pertumbuhan Ekonomi Sulsel di Mata Bappeda Sulsel
Kepala Bappeda Prov. Sulsel, H. Jufri Rahman

KabatMakassar.com --- Tingkat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) tahun 2017 menempati posisi kedua tertinggi nasional, atau naik dua peringkat dibanding tahun sebelumnya. Setelah Provinsi Maluku Utara berada di posisi pertama di susul Provinsi Sulawesi Selatan.

Untuk mengetahui lebih lengkap bagaimana Sulsel mampu merebut posisi ini. Berikut Wawancara Khusus (Wansus) bersama reporter kabarjakarta.com Nur Marwah Yuwa bersama dengan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel, H. Jufri Rahman.

Berikut kutipan wawancara salah satu pejabat yang namanya diusulkan ke Mendagri untuk menduduki posisi Sekertaris Provinsi Sulsel.

Bagaimana Pemprov Sulsel bisa memperoleh posisi ini ?

Posisi Sulsel ini berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel. BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi Sulsel pada tahun 2017 sebesar 7,23 persen. Pencapaian ini luar biasa karena dicapai di tengah melambatnya ekonomi dunia dan regional dan kondisi ekonomi nasional yang masih tidak pasti.

Di tengah kondisi ekonomi regional dan nasional yang kurang baik. Justru pertumbuhan ekonomi Sulsel bisa naik dari peringkat empat tahun lalu jadi peringkat kedua nasional. Kondisi perekonomian kan biasanya ditentukan dengan posisi Ekspor Impor kita.

Bagaimana posisi Sulsel saat ini?

Ya, tepat. Kinerja ekspor kita juga positif. Meskipun impor kita juga agak naik. Tapi, impor kita itu adalah barang-barang modal yang nanti dampaknya akan dirasakan empat hingga lima tahun ke depan

Adapun data yang kami diterima di Bappeda Sulsel dari BPS, total PDRB Sulsel 2017 mencapai Rp 418,93 triliun atau meningkat 10,35 persen dibanding tahun 2016 yang hanya Rp 379,63 triliun. Sedangkan PDRB perkapita mencapai Rp 48,21 juta pertahun, meningkat 9,29 persen dibanding tahun 2016 yang hanya Rp 44,11 juta per tahun. 

Berapa sih posisi pertumbuhan ekonomi Sulsel saat ini?

Pertumbuhan ekonomi Sulsel 2017 sebesar 7,23 persen memang sedikit lebih kecil dibanding tahun 2016 yang mencapai 7,42 persen. Tapi kita berhasil menempati urutan kedua tertinggi nasional setelah Maluku Utara, dengan total PDRB diciptakan mencapai Rp 418,93 triliun atau meningkat sebesar 10,35 persen dibanding tahun 2016 yang sebesar Rp 379,63 triliun.

Kabupaten Maluku Utara di peringkat pertama, dengan PDRB Rp 37,72 triliun. Demikian pula PDRB perkapita Sulsel tahun 2017 mencapai Rp 48,21 juta atau meningkat 9,29 persen jika dibandingkan tahun 2016 Rp 44,11 juta. 

Pertumbuhan ekonomi Sulsel tahun 2017 yang mencapai 7,23 persen sedikit lebih kecil dibanding tahun 2016 yang mencapai 7,42 persen, tidak terlepas dari beberapa faktor.

Kenapa ekonomi Sulsel mengalami perlambatan ?

Ini yang menarik. Sulsel saat ini mengalami perlambatan jasa keuangan/perbankan, yang disebabkan karena melambatnya peran perbankan yang terlihat dari perlambatan value added (nilai tambah) yang tercipta dari 16,02 persen di tahun 2016 menjadi hanya 0,12 persen di tahun 2017. 

Penyebab lainnya, perlambatan pertumbuhan di lapangan usaha pertanian yaitu dari 7,86 persen di tahun 2016 menjadi 5,34 persen. Perlambatan ini sebagian besar didorong oleh perlambatan pertumbuhan produksi padi dari 7,73 persen di tahun 2016 menjadi 5,63 persen. Perlambatan ini semata-mata karena hampir sepanjang tahun 2017 terjadi gangguan cuaca atau iklim di kantong-kantong produksi padi. 

Jadi Sulsel juga mengalami perlambatan di berbagai sektor termasuk pertanian juga yaa ?

Ya, sangat tepat. Meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan secara umum. Produksi padi tetap meningkat dari 1,12 juta ton pada tahun 2016 menjadi 1,18 juta ton di tahun 2017. Bahkan ekspor dan impor, terjadi penurunan devisa yang tercipta dari USD 303,40 juta di tahun 2016 turun menjadi USD 125,34 juta. 

Namun, pertumbuhan ekspor barang luar negeri justru meningkat dari minus -19,08 persen di tahun 2016 menjadi 1,04 persen di tahun 2017.  Untuk impor barang luar negeri juga meningkat dari minus -8,17 persen di tahun 2016 menjadi 21,89 persen di tahun 2017. Kontribusi impor barang modal cukup signifikan, tahun 2016 mencapai 46,68 persen dan 2017 mencapai 34,47 persen dari total nilai impor. (*)

Sumber : Kabar Jakarta