Pilwakot Makassar, Kotak Kosong Lebih Baik Dari Golput

Pilwakot Makassar, Kotak Kosong Lebih Baik Dari Golput

KabarMakassar.com -- Fenomena Kotak Kosong di Kota Makassar menjadi momok tersendiri di kalangan masyarakat Kota Makassar terkhusus bagi gabungan berbagai organisasi rakyat yang tergabung sebagai Relawan Kolom Kosong (REWAKO) yang membentuk posko perlawanan di 14 Kecamatan di Kota Makassar untuk mensosialisasikan perjuangan kolom kosong ke masyarakat pemilih. 

"Kami mensosialisasikan kalau memilih kolom kosong itu nilainya sama dengan mencoblos orang bisa dan dibenarkan memilih kolom kosong itu adalah hak demokrasi rakyat dan itu lebih bagus dari pada golput," jelasAnshar Manrulu, Koordinator REWAKO saat diwawancarai usai aksi Relawan Kotak Kosong di Fly over Makassar, Selasa 5 Juni 2018.

Anshar Manrulu meminta kepada Pelaksanan Pemilihan umum (Pemilu) memberikan ruang bagi mereka untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan terkait kotak kosong ini secara luas. 

"Makanya kami meminta kepada pelaksana pemilu berikan kesempatan pada teman-teman relawan kolom kosong untuk menyampaikan seluas-luasnya karena lebih baik kolom kosong yang menang dari pada angka golput yang tinggi," tambahnya.

Menurutnya, Pilkada sesungguhnya adalah kompetisi persaingan antar calon, yang mana masyarakat ikut berpartisipasi secara demokrasi dengan memberikan suaranya saat pemilu. Anshar menganggap kemenangan kolom kosong lebih baik dari pada masyarakat yang tidak memilih. Hal ini menjadi tanggungjawab tersendiri pelaksana pemilu dalam melakukan sosialisasi lebih lanjut kepada masyarakat umum.

"Kalau angka golput yang tinggi berarti gagal pelaksanaan pemilu mensosialisasikan berarti wilayah Makassar sudah golput yang menang, putus asa melihat fenomena politik seperti ini," katanya.

Lanjut, Anshar menyanyangkan beredarnya isu terkait Kolom Kosong yang ada dalam masyarakat, hal ini menjadi masalah tersendiri karena membentuk opini masyarakat yang menilai negatif Kolom Kosong. 

"Saya interaksi langsung di bawah, kalau masyarakat di takut-takut kalau memilih kolom kosong itu melanggar aturan, memilih kolom kosong itu tidak ada artinya apa-apa walaupun semua memilih kolom kosong tidak mengubah apa-apa. Insya Allah kolom akan menang," ungkapnya.

Dirinya memahami pelaksanaan pemilu tidak luput dari kampanye pendukung pasangan calon asalkan menurutnya kampanye tersebut sesuai dengan kaidah yang benar.

"Cuma kita tau ini pertarungan politik pihak sebelah juga mensosialisasikan informasi yang salah makanya non sense itu pendidikan politik yang benar. Kenapa takut berkompetisi, anda menjadi calon silahkan berkompetisi," tegasnya.

Anshar juga menyayangkan keterlibatan salah satu akademisi dengan menyampaikan makna kolom kosong secara frontal kepada masyarakat, hal ini di anggapnya sebuah bentuk pembodohan kepada rakyat.

"Bukti, banyak bahkan salah satu akademisi yang ada di salah satu universitas swasta di kota ini, menyampaikan bahwa memilih kolom kosong tidak berpengaruh apa-apa, itu kan memberikan informasi yang tidak benar kepada rakyat," ungkapnya.

Anshar menegaskan dirinya tidak pernah menuduh tim pendukung pasangan calon tersisah melakukan tidak kecurangan. Dirinya hanya menyampaikan isu yang beredar terkait kolom kosong ini bisa menjadi stigma negatif di masyarakat.

"Saya tidak menganggap tim sebelah yang melakukannya, tapi itu jelas beredar dibawah," tutupnya.

Penulis :

Editor :