Perusda
Bank SUlsel Bar

Terduga Teroris Riau Ungkap Dibantu Donatur dari BUMN

Kolaborasi Liputan6.com

on 17/5/18 Oleh Muhammad Fajar Nur
Terduga Teroris Riau Ungkap Dibantu Donatur dari BUMN
Reka ulang penangkapan teroris di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan (Foto: Liputan6.com)

KabarMakassar.com -- Densus 88 anti teror dan Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) mengamankan dua orang terduga teroris asal Pekambaru Riau pada senin 14 Mei 2018.

Dilansir Liputan6.com, dua orang terduga teroris berinisial AR (39) dan AA (38) tidak mengakui adanya pancasila. Keduanya mengaku telah menghilangkan makna pancasila dalam kehidupan mereka ketika diinterogasi langsung oleh Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara.

"Mereka hapal Pancasila, saya juga tanyakan mereka tentang makna Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi makna dari seluruh silanya mereka hilangkan," ujar Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara saat membuka kegiatan Tatap Muka Forkopinda Sumsel di Aula Hotel Swarna Dwipa Palembang, Selasa 15 Mei 2018.

Hal mencengangkan juga diungkapkan terduga teroris asal Pekanbaru tersebut,  mengakui donatur mereka merupakan warga Pekanbaru, yang bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mereka juga sudah menyebutkan identitas dan tempat tinggal dosen yang mengajar di universitas di Palembang, yang gagal mereka temui.

Namun Kapolda Sumsel masih belum bisa menjadikan kesaksian kedua terduga teroris tersebut sebagai fakta hukum. Mereka akan mencaritahu bukti pendukung lainnya. Karena saat ditangkap, tidak ada bukti apapun yang menguatkan mereka sebagai pelaku teroris.

"Kita akan cari tahu apakah ada transfer uang, atau ada saksi yang melihat donatur tersebut memberikan dana ke mereka," katanya.

Informasi tersebut masih akan mereka kembangkan, salah satunya berkoordinasi dengan Densus 88, Polresta, dan Polda Riau. Kedua terduga teroris ini mengaku sebagai anggota Jamaah Anshorul Daarul (JAD) dengan mendalami cara berjihad dari ustaz yang mereka panuti melalui internet.

Sebelum menjadi JAD, kelompok teroris ini menamai dirinya sebagai Jamaah Anshorul Tauhid (JAT). Karena alasan tidak progresifnya pergerakan kelompok sehingga mereka membentuk JAD yang diketuai oleh Aman Abdurahman dan Abu Bakar Ba'asyir.

"Tersangka bilang kalau pahamnya Salafiah, itu tidak ada kaitannya dengan agama, karena ini ideologi. Kami saja disebutnya kafir harby atau musuh utama yang harus dimusnahkan. Cara mereka memusnahkan juga tidak boleh sembunyi-sembunyi. Memang harus berhadapan langsung dengan anggota polisi, sama seperti di Surabaya," katanya.