Putu Cangkir, Kue Tradisional Khas Makassar

Putu Cangkir, Kue Tradisional Khas Makassar

KabarMakassar.com -- Seperti biasanya rutinitas di pagi hari untuk mencari sesuaf nasi harus di jalankan.sudah dua hari ini saya menuju perjalanan menuju galesong selatan kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan yang cukup lumayan jauh. 

Tetapi dalam perjalananya saya melihat ada yang tidak lazim, dimana mata saya tertuju pada ibu yang lagi cekatan mencetak bahan kue tradisional.

Di depan samping kiri ibu tersebut tempat memanaskan kue putu cangkir yang mirip dengan penghalas cangkir. Sesekali ibu pemilik warung ini mengangkat kue yang sudah matang dan menyimpanya di tempat piringan dari bahan plastik tersebut.

"Assalamu alaikum bu, saya menyapanya sehingga suasana semakin akrab. Ibu tersebut menjawabnya waalaikum mussalam, mari pak, masih hangat", kata dia.

Saya pun langsung duduk di kursi bangku yang terbuat dari papan. Saya melihat sudah ada yang masak sehingga saya kembali berdiri dan mengambil kue putu cangkir yang masih hangat di tempatnya.

Daeng Nuntung nama pemilik warung tersebut. Dia baru saja membuka warung putu cangkir tiga bulan yang lalu. Bukan hanya kue putu cangkir tetapi ia juga menyediakan minuman kopi susu dan teh susu

Ia mengatakan hampir setiap hari putu cangkir yang kami buat habis di pesan orang,kata dia. "Harganya sangat murah Rp1000 per biji, lumayan pak hitung hitung bisa membiaya hidup keluarga", jelas dg Nuntung.

Pekerjaan membuat putu cangkir sudah turun temurun, sejak orang tua saya dulu sudah menjual putu cangkir di daerah Pabaeng baeng.

Lanjut bahan putu cangkir sangat sederhana yaitu beras dan kelapa parut. Selain kelapa parut, kami juga fariasikan gula merah atau coklat di tengah agar pembeli tidak bosan hanya kelapa saja, papar ibu tiga anak ini.

Menurutnya kalau beruntung bahan baku beras bisa menghabiskan 10 sampai 15 kilogram beras perhari, tapi kalau tidak beruntung hanya 5 kilogram beras, paparnya.

"Yang kena saat makan putu cangkir di barengi dengan kopi sehingga terasa nikmatnya"ujar ibu kelahiran Takalar tersebut.

Karena waktu terus berjalan dan galesong selatan masih jauh, sayapun hanya memakan dua putu cangkir isi gula merah ditambah minuman teh hangat. Saya pun minta permisi pada daeng Nuntung. Saya hanya membayar Rp 5000, teh segelas Rp3000 dan putu cangkir dua buah Rp2000.

Usai membayar Rp5000 perjalananpun saya lanjutkan ketempat tujuan galesong selatan. Daeng Nuntung tersenyum melihat saya pergi dengan rasa senang. [Oleh: Jarot Hertasmin]

Penulis :

Editor :