Perusda
Bank SUlsel Bar

Mengenal Lebih Dekat Tradisi "Mappadendang" Tanah Bugis

on 8/4/18 Oleh Redaksi
Mengenal Lebih Dekat Tradisi "Mappadendang" Tanah Bugis
ilustrasi[ist]

KabarMakassar.com-- Masyarakat Indonesia dari dahulu terkenal dengan tradisi dan adat istiadatnya yang beragam dan unik. Makanya tidak heran jika setiap daerah memiliki tradisi dan adat istiadat yang berbeda-beda pula. Contohnya saja tradisi yang ada di daerahku, sebuah Desa terpencil di pedalaman yang terletak di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Sebuah tradisi unik yang sudah ada sejak nenek moyang dulu, dan masih dipertahankan oleh masyarakat Disana hingga sekarang ini. Acara Mappadendang (Pesta Panen Adat Bugis) Sulawesi-Selatan. Mappadendang atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta tani pada suku bugis merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilannya dalam menanam padi kepada yang maha kuasa. Mappadendang sendiri merupakan suatu pesta yang diadaakan dalam rangka besar-besaran. Yakni acara penumbukan gabah pada lesung dengan tongkat besar sebagai penumbuknya.

Acara mapadendang sendiri juga memiliki nilai magis yang lain. Disebut juga sebagai pensucian gabah yang dalam artian masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusianya. Olehnya perlu dilakukan pensucian agar lebih berberkah. Acara semacam ini tidak hanya sekedar menumbuk saja. Alur ceritanya bahwa para ibu-ibu rumah tangga dekat rumah akan diundang lalu mulai menumbuk. Dengan nada dan tempo yang teratur, ibu-ibu tersebut pun kadang menyanyikan beberapa lagu yang masih terkait dengan apa yang mereka kerjakan. Sedangkan anak-anak mereka bermain disamping atau pun dibawah rumah.

Acara Mappadendang ini biasanya dilakukan pada lapangan terbuka dan dimulai setelah maghrib atau malam hari. Orang-orang dari kampung sebelah biasanya ikut hadir menyaksikan acara ini. Berkumpul bersama menambah rasa persaudaraan antarsesama. Yah, menjadi hiburan tersendiri yang menurut saya jauh lebih baik daripada hiburan acara pernikahan yang mempertontonkan penyanyi wanita dengan pakaian yang vulgar dan sama sekali tidak mencerminkan budaya ketimuran bangsa Indonesia. Tradisi mappadendang diatas, hanyalah salah satu dari sekian banyak tradisi yang ada di bumi tercinta ini, Indonesia. Dengan turut menyaksikan atau berpartisipasi didalamnya kita sudah turut menjaga kelestarian budaya yang kita miliki.

Bagaimanapun kita sebagai bangsa Indonesia haruslah tetap menjaga tradisi dan adat istiadat yang ada di daerah kita masing-masing.  sekarang ini, kita dihadapkan pada serbuan budaya dari luar , khususnya budaya barat yang membuat bangsa Indonesia menjadi lupa akan keragaman budayanya sendiri.  Padahal budaya dan tradisi yang kita miliki tidak kalah, atau bahkan lebih baik dari budaya luar tersebut.  Oleh karena itu, penting menurut saya untuk mengapresiasi setiap pagelaran budaya baik yang dilakukan oleh masyarakat, ataupun oleh pemerintah kita sendiri. Dengan begitu, tradisi yang kita miliki akan tetap bertahan dan terus berlanjut ke anak cucu kita dimasa yang akan datang.

Pesta ini merupakan bentuk pagelaran seni tradisional bugis makassar karena merupakan sebuah pertunjukan unik yang menghasilkan bunyian irama teratur atau nada dari kelihaian pemain, Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut Pakkindona, sedang pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut Pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang disebut Walasoji. Pakaian yang dikenakan pada saat Mappadendang, Pada saat acara Mappadendang dimulai penari dan pemain yang akan tampil biasanya mengenakan pakaian adat yang telah ditentukan :

- Bagi wanita diwajibkan untuk memakai baju bodoh
- Laki-laki memakai lilit kepala serta berbaju hitam , seluar lutut kemudian melilitkan kain sarung hitam bercorak
- Alat yang digunakan dalam Mappadendang seperti :
- Lesung panjangnya berukuran kurang lebih 1,5 meter dan maksimal 3 meter. Lebarnya 50 cm Bentuk
- Lesungnya mirip perahu kecil (jolloro; Makassar) namun berbentuk persegi panjang.
- Enam batang alat penumbuk yang biasanya terbuat dari kayu yang keras atau pun bambu berukuran setinggi orang dan ada dua jenis alat penumbuk yang berukuran pendek, -kira-kira panjangnya setengah meter.

Tata Cara Mappadendang, Biasanya Komponen utama dalam mappadendang terdiri atas enam perempuan, 4 pria, bilik baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional, baju bodo. Mappadendang mulanya gadis dan pemuda masyarakat biasa. Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut pakkindona. Kemudian pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar dari anyaman bambu yang disebut walasoji.

Personil yang bertugas dalam memainkan seni menumbuk lensung ini atau mappadendang dipimpin oleh dua orang, masing-masing berada di ulu atau kepala lesung guna mengatur ritme dan tempo irama dengan menggunakan alat penumbuk yang berukuran pendek tersebut di atas, biasanya yang menjadi pengatur ritme adalah mereka yang berpengalaman. Sedangkan menumbuk di badan lesung adalah mereka perempuan atau laki-laki yang sudah mahir dengan menggunakan bambu atau kayu yang berukuran setinggi badan orang atau penumbuknya.

Seiring dengan nada yang lahir dari kepiawaian para penumbuk, biasanya dua orang laki-laki melakukan tari pakarena. Isi lesung yang ditumbuk berisi dengan gabah atau padi ketan putih/hitam (ase punu bahasa bugis) yang masih muda dan biasanya kalau musim panen tidak dijumpai lagi padi muda, maka biasanya padi tua yang diambil sebagai pengganti, akan tetapi sebelum ditumbuk padi itu terlebidahulu direbus selama 5 sampai 10 menit atau direndam air mendidih selama 30 menit kemudian di sangrai dengan menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat tanpa menggunakan minyak dengan memakai api dari hasil pembakaran kayu.

Dan untuk mewujudkan semua itu, masyarakat  dan pemerintah sendirilah yang berperan penting dalam menjaga kelestarian budaya bangsa kita. Sebagai masyarakat yang berbudaya, sudah sepatutnya kita tetap menjaga kearifan lokal dan turut melestarikan tradisi yang kita miliki. Sementara pemerintah sebagai pembuat kebijakan berperan penting dalam menciptakan  tatanan masyarakat yang tetap mencintai budaya dan tradisi yang kita miliki.

Contohnya saja dengan mengadakan sebuah festival budaya, pengembangan infrastruktur untuk mendukung  sarana pariwisata, dan menciptakan kebijakan yang berpihak pada budaya kita sendiri, dan bukan budaya luar. Jangan sampai terulang kembali dimana budaya yang jelas-jelas telah ada sejak lama di negeri kita, kemudian diklaim oleh Negara lain sebagai budaya mereka. [Nur Fadhilah Sophyan/BerbagaiSumber]