19 April 2014
RSS Facebook Twitter Linkedin Digg Yahoo Delicious
Newsflash
Ujian Nasioanl Terlambat 2 Jam di SMK Neg 1 Sulsel - Senin, 14 April 2014 10:10
Ketua Panwaslu Makassar Dihajar KPPS - Rabu, 09 April 2014 21:48
Murid di SD Comp. Sambung Jawa Makassar terlibat saling serang, bahkan ada yg bawa busur. - Sabtu, 29 Maret 2014 14:07
Mantan Gubernur Sulsel, Ahmad Amuriddin Butuh Darah B - Rabu, 19 Maret 2014 11:08
Lantamal mengamankan 8 orang imigran gelap dari Afgantisan - Senin, 03 Maret 2014 15:21
Pesawat Trans Nusa tergilincir di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar - Kamis, 27 Februari 2014 11:49
Tahanan Narkoba Tewas di Rutan Makassar - Rabu, 26 Februari 2014 14:54
Kirim Informasi Anda di email redaksi: redaksi@kabarmakassar.com - Rabu, 30 Oktober 2013 09:58

Kesatria Bontonompo, I Yuseng Daeng Mallingkai

Written by  Redaksi | Selasa, 07 Mei 2013 16:21
Replika Gaukanga ri Bontonompo, yang disebut Sa'be Tamamalisika atau biasa juga disebut Jimaka Replika Gaukanga ri Bontonompo, yang disebut Sa'be Tamamalisika atau biasa juga disebut Jimaka (kabarmakassar/KM04)
Di wilayah Bontonompo tepatnya di Buttu-Buttu Kelurahan Bontonompo, Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, ada sebuah makam yang disebut, Kuburanna Patanna Butta (Pemilik Tanah). Menurut cerita para warga setempat, makam ini adalah tempat dimakamkannya kepala seorang kesatria yang telah menegaskan patriotismenya dengan mengorbankan jiwa, raga dan jabatannya.

Patriot ini adalah I Yuseng Daeng Mallingkai, yang oleh warga setempat menyebutnya sebagai patanna butta atau penguasa mutlak Bontonompo. Sebutan ini dinisbatkan kepadanya karena di masa kepemimpinannya, ia selalu mengutamakan kepentingan rakyat.

Selain itu, ia juga kerap di sebut Kare Yuseng Daeng Mallingkai, karena ia menjabat sebagai kepala pemerintahan Bontonompo sekitar tahun 1860-an dengan jabatan sebagai Kare Bontonompo, atau yang saat ini disebut Lurah Bontonompo di Kecamatan Bontonompo.

Sebagai penguasa yang berdaulat, ia mewarisi Gaukang atau kalompoang (benda pusaka kerajaan) di sebut Jimaka. Kalompoang ini adalah panji atau bendera kerajaan Bontonompo, berupa kain sutera berwarna biru yang bertuliskan ayat kursi yang menurut riwayat berasal dari Arung Lemo Apek, seorang penganjur agama Islam di Bone. Karena terbuat dari kain sutera, panji ini kerap juga disebut, “Sa’be Tamammalisika” atau sutera yang tidak akan berubah.

Dalam perjalanan pemerintahannya, Kare Yuseng Daeng Mallingkai menilai bahwa kepemimpinan Sombaya ri Gowa atau kaisar Gowa sudah tidak berpihak kepada rakyat. Saat itu Kerajaan Gowa dipimpin oleh Raja Gowa ke 32, I Kumala Karaeng Lembang Parang, Sultan Abdul Kadir Mohammad Aidit. Ia menilai, sang kaisar lebih memenuhi kepentingan kolonial Belanda dalam setiap kebijakan politiknya dibanding terhadap rakyat Gowa.

Kare Yuseng pun mulai menjalin kekuatan dengan sesama raja bawahan atau disebut Karaeng palili yang se ide dengannya. Seperti Gallarrang Mangngasa Manyereang Daeng Serang, Gallarrang Songkolo Garancing Daeng Ma’lala, yang biasa di sebut Bapak Peto’, dan Gallarrang Moncong Loe “Apabang”. Para Karaeng Palili ini kemudian memproklamirkan perlawanan terhadap kerajaan Gowa.

Di tahun 1868, di bawah panji Jimaka, Kare Yuseng mengerahkan pasukan atau Tu barani Bontonompo untuk melakukan perlawanan dengan tujuan mengembalikan kepemimpinan Gowa agar dipimpin oleh pemimpin yang pro terhadap rakyat dan tidak berfihak kepada kolonial Belanda. Bersama dengan para tokoh terkemuka termasuk Calla karaeng Borong yang merupakan Putera Batara Gowa Karaengta Data, yang saat itu menjadi Karaeng (Regent) Tanralili saling bahu-membahu mengobarkan perlawanan.

Pihak Kerajaan Gowa tetap bersikukuh tidak ingin berpaling dari Belanda, maka perang pun tak terhindarkan, dan pecahlah perang yang lazim disebut sebagai “Bunduka ri Mangngasaya” atau perang Mangngasa. Dengan kekuatan penuh dari sejumlah pimpinan kerajaan bawahan, pihak Sombaya ri Gowa mulai kewalahan menghadapi serangan para patriot anti Belanda ini. Para pejuang selangkah demi selangkah terus merangsek mendekati pusat pertahanan Gowa. Khawatir menderita kekalahan, dan untuk mempertahankan mahkota dan posisisnya sebagai somba, pihak Gowa yang dibantu oleh pasukan senjata api kolonial Belanda berusaha keras untuk meredam aksi heroisme Kare Yuseng dan kawan-kawan.

Memang tidak bisa dipungkiri, setelah kemenangan Belanda atas Sultan Hasanuddin yang di tandai dengan perjanjian Bungaya. Pihak pemenang perang, yakni Belanda bersama Aru Palakka beserta sekutunya, selalu terlibat dalam setiap kebijakan pemerintah kerajaan Gowa, bahkan sampai kepada sistim pemilihan dan pengangkatan seorang Somba yang menjadi Kaisar dalam kerajaan Gowa.

Meski pihak Gowa berkolaborasi dengan pasukan Belanda, pihak pasukan perlawanan bukannya surut, bahkan semakin meningkatkan perlawanannya dibawah kepemimpinan Kare Yuseng. Mereka semakin termotivasi untuk meruntuhkan kepemimpinan Gowa yang pro bangsa asing dan tidak memihak kepada rakyatnya sendiri.

Mengetahui pasukan lawannya dimotori oleh Kare Yuseng, pihak Belanda kemudian menjadikan Kare Yuseng Daeng Mallingkai sebagai target utama untuk mengakhiri pertempuran ini. Dan ternyata Belanda benar, setelah dilumpuhkan dengan peluru emas, perang Mangngasa kemudian surut. Sejumlah rekannya sesama pemimpin pasukan seperti Gallarrang Mangngasa dan Calla Karaeng Borong berhasil ditangkap dan dipenjarakan.

Tidak tanggung-tanggung, oleh pihak kerajaan Gowa, motor penggerak perlawanan ini dikenai hukum pancung. Ini tentu saja dilakukan sebagai upaya Sombaya menegaskan kekuasaannya sekaligus meruntuhkan moral perjuangan para pengikut Kare Bontonompo ini, agar tidak melanjutkan perlawanan. Kepala patriot sejati ini kemudian dibawa kembali oleh para pengikutnya ke Bontonompo untuk dimakamkan di Buttu-Buttu dan dikenal dengan sebutan kuburan patanna butta.

Selain pemenggalan kepala, pihak kerajaan Gowa juga menyita Gaukang atau Kalompoang berupa panji yang disebut Jimaka dan Stamboom kerajaan serta menghapuskan jabatan Kare untuk Bontonompo dan menggantinya dengan jabatan Anrong Guru. Meski dikemudian hari panji Jimaka dikembalikan lagi setelah pihak Gowa telah meyakini sudah tidak ada lagi perlawanan dari para pengikut Kare Yuseng.

Kare Yuseng Daeng Mallingkai, telah mengorbankan jiwanya untuk mewujudkan keyakinannya sebagai kesatria membela kepentingan bangsanya. Makamnya yang terletak di Buttu-Buttu Kec. Bontonompo Kabupaten Gowa, dikenal sebagai Jera Patanna Butta. Hingga kini, makamnya tetap dirawat dan dihormati oleh warga Bontonompo dan sekitarnya. Selain itu, makam tokoh yang sejarahnya dikaburkan ini, menjadi monumen kekesatriaan putera Bontonompo dalam memperjuangkan kepentingan rakyatnya.

Tokoh dalam perang Mangngasa ini diketahui adalah keturunan bangsawan Polongbangkeng, yang silsilahnya masih bisa dilacak hingga I Mappaliku Daeng Saleko, Karaeng Loe ri Malewang (Karaeng Polongbangkeng). Ini bisa dilihat dalam Stamboom yang disahkan oleh Pajonga Daeng Ngalle, Karaeng Polongbangkeng pada 28 Januari 1940 di Palleko. Saat ini wilayah Polongbangkeng berada dalam daerah administratif Kabupaten Takalar.

Dalam silsilah tersebut, Kare Yuseng adalah Putera Karaeng Polongbangkeng, I Coke Daeng Malliongi dan Baria Daeng Baine. Baria adalah anak dari Karaeng Polongbangkeng I Marewangang Daeng Bura’ne yang merupakan anak dari I Mangngambari Kare Gappa, putera I Mappaliku Daeng Saleko.

Di Bontonompo, putra bangsawan Polongbangkeng ini memperistrikan I Sabbe Daeng Lompo. Keturunan mereka berdua mewarisi karakter kepemimpinan masyarakat dan pemerintahan serta ke kesatriaan dari masa ke masa. Seperti kepemimpinan dalam jabatan Anrong Guru di Bontonompo, dan sejumlah jabatan pemerintahan dari zaman perang kemerdekaan, hingga saat ini.

Bahkan beberapa keturunannya, mewarisi kepemimpinan kesatriaannya yakni antara lain Mayor (Purn) TNI AD Mannarima Daeng Situju, Marsda H Zainuddin Sikaddo Daeng Mattawang, Brigjen TNI AD. Hasanuddin Hanafi Daeng Tinri. AKBP Kahar Muzakkir Daeng Mattawang dan Lettu Lahiya Daeng Lallo.

Selain itu, ada Donggeng Daeng Ngasa yang mewarisi kepemimpinannya dalam bidang pemerintahan yakni menjadi Bupati pertama Kabupaten Takalar sekaligus menjadi peletak dasar pemerintahan dan tata ruang di Takalar pada tahun 1960an.

Hingga kini, keturunan Kare Yuseng Daeng Mallingkai masih berperan dalam struktur pemerintahan, baik di kabupaten di Gowa maupun Takalar sampai ke tingkat nasional. Selain itu, rumpun keluarganya tetap dijadikan sebagai panutan dikalangan masyarakat khususnya Bontonompo. Juga warisan Kalompoang dari Kare Bontonompo, yakni Jimaka masih terjaga dengan baik dan disimpan di Balla lompoa ri Bontonompo. [KM04]
Dibaca 1129 Kali

Leave a comment

Silahkan masukkan komentar anda dibawah ini